www.batakpos-online .com
Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin
Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin mengaku prihatin dengan peristiwa ‘Priok Berdarah’, Rabu (14/4). Sambil mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban, Syamsul juga mengingatkan kepada seluruh aparat Satpol PP se-Sumut untuk menjadikan peristiwa kelabu tersebut menjadi contoh untuk diambil hikmahnya di masa depan.
“Sumut perlu terus mewaspadai hal semacam ini. Karena dari peristiwa yang sudah terjadi, kita bisa sama-sama melihat bahwa tidak ada pihak yang diuntungkan. Yang ada hanya kerugian di dua belah pihak,” tegasnya kepada wartawan di Medan, Kamis (15/4).
Syamsul mengingatkan aparat Satpol PP se-Sumut untuk bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Karena kondisi Sumut yang terdiri dari delapan etnis, delapan bahasa daerah, dan empat agama itu, dinilainya sangat rawan konflik. “Terus terang, saya cukup terkejut melihat siaran televisi kemarin sore. Apa ia, negeri ini sudah begitu rapuhnya, sehingga persoalan sedikitnya saja bisa mengakibatkan bentrok mirip perang?” tanya Syamsul.
Karenanya, dengan tegas Syamsul mengajak seluruh elemen masyarakat di Sumut untuk mawas diri, dan tidak sekali-kali melupakan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
Secara khusus, Syamsul melihat, pemicu bentrok itu tak lebih akibat adanya unsur kepenting golongan, kelompok, dan individu yang dipaksakan, sehingga mengabaikan kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Sebelumnya, Kepala Dinas Satpol PP Sumut, Anggiat Hutagalung kepada BATAK POS di Medan mengatakan, bentrokan antara Satpol PP dan warga, memang sulit dihindari, tapi bukan berarti tidak bisa dielakkan bila antara kedua belah pihak punya rasa saling pengertian. Selain itu, aparat Satpol PP yang bertugas menjalankan dan mengamankan peraturan daerah (perda), diminta tidak bersikap arogan. Sebab, faktor inilah yang kerap memicu emosi warga.
“Memang sulit rasanya menghindari untuk tidak terjadi bentrok ketika petugas dihadapkan dengan masyarakat. Di satu sisi, kita dituntut menjalankan tugas yang diamanahkan, di sisi lain warga juga berupaya mempertahankan hak miliknya,” ungkap Anggiat.
Namun demikian, Anggiat meyakini kondisi dilematis seperti itu bukan tanpa solusi untuk bisa ditangani dengan lebih arif dan bijaksana. Menurutnya, solusi terbaik untuk menghindari bentrokan adalah melakukan pendekatan secara manusiawi dan kekeluargaan. Bila upaya ini sudah cukup maksimal dilakukan, namun hasilnya belum diperoleh, bisa dicoba dengan cara lain. Misalnya meminta bantuan aparat kepolisian untuk membantu penertiban. zul



botul doi Katua, aso marpalan mada anggota Satpol i.lagakna bukan main …..