Oleh : Irwan H. Daulay *)
Pada tahun 1959, Lee Kuan Yew diangkat sebagai perdana menteri Singapore dalam kondisi Negara yang carut marut, pada saat itu pengangguran mencapai angka 14 % dan hanya dengan luas wilayah 400 kilometer persegi, tidak ada yang dapat diperbuat kecuali harus bangkit dengan bermimpi disuatu saat Singapore harus menjadi Negara makmur dan sejahtera.
Untuk memajukan perekonomian, pemerintahan Lee meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar mengirim ahli ekonominya, pada tahun 1960 PBB segera mengirimkan misi survey industrial yang dipimpin oleh Albert Winsemius dan I.F. Tang. Dengan bantuan keduanya , Lee merumuskan strategi pembangunan ekonomi globalnya yang berorientasi kepada keunggulan daya saing dan produktifitas lewat pemerintahan yang bersih, masyarakat yang disiplin dan industrialisasi yang dikawal oleh tenaga-tenaga professional. Tak disangka, Singapore yang tidak punya apa-apa sekarang malah menjadi salah satu Negara terkaya di dunia dengan pendapatan perkapita pertahun Rp. 220.000.000,- (Rhenald Kasali : 2005)
Berdasarkan pengalaman Singapore tersebut yang berhasil menjadi Negara makmur dalam kurun waktu ± 30 tahun, maka dapat diambil beberapa kesimpulan : pertama, seorang pemimpin harus mempunyai visi dan mimpi membawa rakyatnya kepada kemakmuran dan kesejahteraan. Kedua, seorang pemimpin harus mampu membangun team work yang kuat dengan melibatkan pakar-pakar dan ahli-ahli professional yang mendesain program jangka pendek dan program strategis untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya. Ketiga, seorang pemimpin harus mempunyai komitmen membangun pemerintahan yang bersih dan produktif serta mampu menciptakan masyarakat yang disiplin dan mempunyai keunggulan daya saing.
Kabupaten Madina kedepan mempunyai peluang untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan seperti yang dicapai Singapore , thesis tersebut tidak berlebihan karena disamping keunggulan dari potensi sumber daya alamnya, kabupaten Madina mempunyai posisi yang sangat strategis di antara tiga Provinsi di Pulau Sumatera serta mempunyai lautan Samudera Hindia dengan garis pantai sepanjang 170 km yang sangat potensial dijadikan sebagai kawasan industri, perikanan laut, pariwisata dan Pelabuhan laut Internasional.
Tinggal bagaimana komitmen pemimpin Madina kedepan untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk menjadikannya sebagai program strategis dengan mengajak pakar-pakar dan investor dalam negeri maupun manca Negara. Sebenarnya arah kesana sudah ditetapkan pemerintahan hari ini yang dipimpin bapak Amru Daulay dengan ditetapkannya rencana-rencana besar Kabupaten Madina dalam pembangunan infrastruktur strategis yaitu : pertama, untuk memenuhi kebutuhan energy jangka pangjang dan industrialisasi hasil-hasil perkebunan dan pertanian proses pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di sekitar kaki gunung Sorik Marapi sedang di laksanakan. Kedua, rencana pembangunan Pelabuhan Laut Internasional Teluk Ilalang di Kecamatan Batahan untuk eksport hasil-hasil perkebunan dan pertanian dari wilayah Tabagsel, Sumbar dan Riau , ketiga, adanya rencana pembangunan Lapangan Udara Bukit Malintang yang diproyeksikan dalam lima tahun kedepan sudah dapat melayani penerbangan domestic dan sepuluh tahun untuk penerbangan internasional.
Meskipun pada saat ini angka pengangguran di Madina mencapai 8,55% dan pendapatan perkapita penduduknya masih Rp. 6.235.283,57 (BPS Madina :2008), tergambarkan suatu harapan dalam kurun waktu lima tahun kedepan peningkatan perkapita penduduk Madina diprediksi akan meningkat dengan tajam dan angka pengangguran menurun secara derastis. Indikatornya adalah bangkitnya sektor perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan ± 150.000 Ha. dikawasan Pantai Barat Madina yang dapat menampung puluhan ribu lapangan kerja dan lapangan usaha. Sektor perdagangan barang-barang konsumsi juga diproyeksikan akan bangkit, disamping untuk kebutuhan konsumsi penduduk Madina dengan populasi 417.590 jiwa juga untuk kepentingan dalam negeri dan eksport. Demikian juga dengan sektor pertambangan, pariwisata dan modernisasi pola pertanian akan menambah sumber pendapatan baru bagi penduduk Madina.
Untuk mengantisipasi kebangkitan perekonomian Madina kedepan, ada beberapa syarat yang harus dipersiapkan sehingga segenap masyarakat Madina turut berpartisipasi dan dapat menikmati hasil-hasilnya secara maksimal, yaitu :
Pertama, pemerintahan kedepan harus bekerja lebih keras lagi untuk menciptakan kebijakan-kebijakan public yang unggul yang berpihak kepada masyarakat Madina pada hari ini dan kepada generasi berikutnya, keberhasilan pemerintahan hari ini harus ditindaklanjuti dan pekerjaan rumah yang ditinggalkannya mesti dituntaskan dan dievaluasi untuk perbaikan-perbaikan kedepan. Pemerintahan kedepan juga harus kreatif mencari sumber-sumber pembiayaan baru termasuk menggali potensi ZIS, program CSR, investasi lokal dan asing, penyertaan modal pemerintah untuk usaha-usaha produktif, pendirian Bank Umum Syariah Madina untuk memudahkan akses terhadap permodalan dan sebagainya.
Kedua, masyarakat Madina harus dipersiapkan untuk menghadapi peluang-peluang tersebut dalam bentuk peningkatan SDM dan daya saing melalui lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal, penambahan jumlah dan kualitas sekolah-sekolah kejuruan dan pembangunan Politeknik Negeri Madina menjadi pilihan yang tidak terelakkan untuk menciptakan manusia-manusia Madina yang melek teknologi dan bermental wira usaha. Gaya hidup malas, budaya “gut-gut” dan terlalu membanggakan nenek moyang kita kikis dengan ketulusan.
Ketiga, SDA Madina yang melimpah ruah yang saat ini lebih banyak dikuasai sejumlah kecil pengusaha harus di inventarisasi ulang, peraturan daerah yang memberikan keadilan kepada penduduk disekitar perusahaan-perusahaan tersebut dan dalam rangka peningkatan PAD akan digulirkan. Pengelolaan dan pengawasan terhadap potensi SDA di Pantai Barat Madina diperketat dengan membentuk semacam Badan Otorita sekaligus sebagai wadah menindaklanjuti proses pemekaran Kabupaten Pantai Barat Madina. Jadi tidak ada lagi konflik antara investor dengan masyarakat dan Pemeintah karena sistimnya sudah tertata dengan baik.
Keempat. Membudayakan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama masing-masing dalam segenap aspek kehidupan, ajaran agama mesti tercermin dalam aktifitas rumah tangga, di masyarakat, di lembaga-lembaga pendidikan maupun di tempat bekerja. Ulama dan pemuka agama perlu diberikan porsi lebih besar untuk mengurusi umat, keteladanan oleh setiap yang berpredikat pemimpin harus tercermin dalam setiap aktifitas.
Kelima. Menghadirkan tenaga-tenaga ahli professional baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri untuk mendesain master plan dan strategi pembangunan Madina kedepan, industrialisasi dan pengembangan teknologi dibidang pertanian, perkebunan dan pariwisata menjadi prioritas. Master plan Pembangunan jangka panjang Madina di fokuskan kepada dua perencanaan besar yaitu Master Plan Pembangunan Manusia dan Master Plan Pembangunan Wilayah. Isi Master plan Pembangunan manusia Madina menggambarkan seperti apa model dan bentuk manusia Madina kedepan terutama pada sisi keimanan dan ketakwaan terhadap ajaran agamanya masing-masing (Imtak), penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi ( Iptek) serta unggul dalam perekonomian. Selanjutnya dipersiapkan model habitatnya dalam bentuk Master Plan pembangunan wilayah sehingga manusia Madina dapat bertahan hidup dan unggul serta sanggup beradaptasi terhadap setiap perubahan zaman. Hal ini lah yang dimaksudkan dengan upaya membangun peradaban baru masyarakat madina.
Jika kita berkeinginan mencapai kesejahteraan dan kemakmuran layaknya masyarakat Singapore, mulai hari ini kita perlu bersepakat untuk merubah mind set kita, pola fikir lama harus digantikan dengan paradigma baru, budaya tradisional yang memarjinalkan kita tinggalkan yang digantikan dengan peradaban modern yang religius. Peradaban lama yang menciptakan kemiskinan struktural kita robah dengan peradaban baru yang lebih kreatif dan innovatif.
Peradaban baru yang diimpikan hanya dapat di wujudkan dengan komitmen bersatu padu antar segenap komponen masyarakat madina, baik yang ada dikampung halaman maupun yang berdomisili diperantauan, misi kebangkitan sudah mulai kita wacanakan, kemiskinan, kebodohan , keterbelakangan kemalasan dan kemerosotan moral mesti ditinggalkan. Kesejahteraan yang berlandasakan imtak menguasai iptek serta unggul dalam perekonomian harus kita raih. Pemerintahan Kabupaten Madina hari ini sudah mempersiapkan lintasan (track) dan tujuan yang jelas, Masalahnya tinggal pada diri kita sendiri, mampukah kita menjadikan segala harapan dan peluang tersebut sebagai momentum kebangkitan menuju kesejahteraan dan kemakmuran ? Saatnya Madina Bangkit !
*) Penulis adalah Dosen FT UNIMED
Sumber: <irwandaulay60@yahoo.co.id>
Informasi pemasangan iklan
hubungi Pahompu di apakabarsidimpuan[at]gmail.com,
telepon 0813 6147 4822.




