Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Artikel » Sejarah Harajaon Luat Marancar (Kawasan KCA Dolok Sibualbuali Dan Suaka Alam Lubuk Raya) Di Sekitar Hutan Batang Toru

Sejarah Harajaon Luat Marancar (Kawasan KCA Dolok Sibualbuali Dan Suaka Alam Lubuk Raya) Di Sekitar Hutan Batang Toru

 

1.  Sekilas Keterangan Tentang Marga Siregar Bauni

Marga secara defenisi identik dengan nama suatu wilayah atau distrik dari seorang penguasa suatu  kaum atau kelompok (clan district) pada suatu wilayah tertentu atau juga identik dengan nama Pimpinan/Penguasa kaum di suatu wilayah tertentu. Dengan demikian  marga bermakna tempat dan  wilayah asal keturunan. Siapa marganya dan dari mana ?

KEINDAHAN ALAM GUNUNG LUBUK RAYA (by Oomar Sy. – www.panoramio.com)

Raja Siregar mempunyai 4 orang putra bernama Silo, Dongoran, Silai, dan Siagian yang bermula mereka berasal dari Huta Muara – Pinggir Danau Toba sebelah barat Kota Balige. Dari Muara mereka hijrah ke Pangaribuan dan selanjutnya ke Sibatang Kayu untuk mencari pemukiman baru. Di Sibatang Kayu Silo, Dongoran dan Silai kecuali Siagian berbagi tujuan untuk mencari dan mendirikan (Harajaon) yaitu masing-masing ke :

  • Raja Silo bersama turunannya yaitu Sormin dan Bauni hijrah, ke jurusan Selatan Sibatang Kayu, yaitu Aek Puli
  • Raja Dongaran bersama turunannya yaitu Salak, Pahu dan Sigurda hijrah ke jurusan Timur Sibatang Kayu, yaitu Aek Siguti (Sipirok)
  • Raja Silai bersama turunannya yaitu Ritonga hijrah ke jurusan utara Sibatang Kayu yaitu ke Sipiongot – Padang Lawas/Padang Bolak.

Raja Tinamboran yang merupakan keturunan atau generasi ke-10 dari Raja Silo atau generasi ke-11 dari raja Siregar atau generasi ke-15 dari Raja Batak berusaha mencari lobu atau daerah yang baru untuk mendirikan dan membangun kerajaannya di alur sungai (Aek) Marancar. Beliau berhasil menemukan tempat yang diidamkannya yaitu di sebelah kanan alur sungai Marancar yang disebut Huta Marancar I (lama) tempat Raja Tinamborab bersama istri dan ke-4 putranya yaitu Sutan Tinggi Barani, Sutan Nalobi, Sutan Raja Lela dan Sutan Naga Oloan serta pengikutnya berdomisili. Pembangunan Huta Marancar I selain dibantu oleh kahanggi-kahangginya satu keturunan dan juga oleh anakborunya marga Sitompul serta hula-hula (kawan sekampung) dari Huta Maronggak yaitu marga Hutabarat dan marga Hasibuan.

Raja Tinamboran Siregar Silo sebagai Pemimpin/Penguasa atau Raja di kawasan Marancar I pada zamannya terkenal piawi (capable and suitable), terampil (skiled), arif dan bijaksana serta pandai menarik bicara (vocal) sehingga beliau dijuluki oleh masyarakat banyak dan raja-raja tetangga atau jiran sebagai Na Baun (Bauni).disamping itu, beliau juga terkenal penggemar penyantap daging binatang buruan. Stock daging untuk cadangan konsumsinya banyak tersimpan di kediamannya yang kadangkala berbau (sedap/tidak sedap) sehingga beliau juga dijuluki Na Bau Mi (Baumi).

Kedua versi cerita tentang Bauni atau Baumi telah berkembang turun-temurun dan argumentasinya sama kuat – sama benar namun tidak menjadi persoalan bagi turunannya, pilih mana yang suka.

Dengan menyebut nama Tinamboran secara lengkap yaitu Raja Tinamboran Siregar – Silo – Bauni/Baumi orang terutama di daerah Tapanuli sudah dapat menebak bahwa beliau adalah Raja dari Marancar keturunan Siregar – Silo.

Penulis sebagai salah satu keturunan (pomparan) Raja Tinamboran lebih senang menulis kata Bauni di depan kata Siregar, atau selengkapnya Siregar Bauni untuk seterusnya kedepan sebagai identitas (ikon) Marga Siregar yang berasal dari Marancar atau Par Marancar.

2.  Lokasi Luat (Wilayah) Harajaon Marancar

 

Untuk mudah mengetahui lokasi Harajaon Marancar terutama bagi orang awam atau orang-orang yang jarang berkunjung ke Marancar, sebagai petunjuk dapat dikemukakan bahwa Harajaon Marancar dipandang  dari sudut keulayatannya berlokasi di sekitar alur sungai Batang Toru mulai dari Utara (Huta Aek Godang sampai ke kuala/muaranya di pantai barat Sumatera – Selatan Teluk Tapian Nauli (Sibolga)) seirama dengan lintasan atau tapak tilas hijrahnya marga Siregar beberapa abad yang lalu mulai dari Muara-Pangaribuan-Sipirok-Marancar I & II sampai Batu Mundom.

Batas-batas Harajaon Marancar secara adat (luat) ditentukan oleh :

a. Jumlah dan lokasi huta-huta yang dibangun oleh raja dan keluarga atau saudara raja, kahanggi dan anakborunya
b. Perjanjian batas dengan Harajaon lainnya seperti Perjanjian Monis yaitu Perjanjian Batas antara Harajaon Marancar dengan Harajaon Hutimbaru (Batang angkola).

Batas Harajaon Marancar Yang dianut sekarang adalah Batas Harajaon berdasarkan data Kepala Kuria Marancar terakhir yaitu Sutan Barumun II seperti tertera di bawah ini :

Sebelah Timur     : Adian Rindang sampai ke Dolok Sibual-buali
Sebelah Barat       : Sigalaga, Sangkunur, Batu Mundon (Pantai Barat Sumatera – Selatan Teluk Tapian Nauli/Sibolga)
Sebelah Utara      : Hulu Aek Batang Angkola sampai ke Sibulan Bulan
Sebelah Selatan   : Hulu Batang Angkola, Dolok Lubuk Raya, Sisoma Jae, Sidahanon.

RIWAYAT RAJA TINAMBORAN

1.  Raja Tinamboran – Raja Pamusuk

 

Penemuan dan Penetapan lokasi Marancar I yang terletak di sisi kanan Aek (sungai) Marancar sebagai awal berpijak (base camp) berdirinya Harajaon Marancar pimpinan Raja Tinamboran Siregar-Silo terlaksana melalui suatu proses perjuangan yang panjang dimulai dari hijrahnya Raja Tinamboran bersama seluruh pengikutnya berturut-turut dari Sibatang Kayu ke Aek Puli kemudian belanjut ke Aek Sah serta Batu Manonggak dan berakhir di Marancar I.

Siapakah Raja Tinamboran, beliau adalah keturunan Raja Siregar-Silo. Bila ditelusuri dari awal atau dari Raja Batak (Si Raja Batak), Raja Tinamboran merupakan geberasi ke-11 dari Raja Siregar dengan Rincian yaitu Rajabatak (1), Raja Guru Tatea Bulan (2), Raja Saribu Raja (3), Raja Lontung (4), Beliau mempunyai 7 putra yaitu Situmorang, Sinaga Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonangdan Siregar serta seorang puteri bernama Boru Menak – Raja Siregar (5), Raja Silo (6), Raja Tuanihorbo (7), Raja Naubaunon (8), Raja Ompu Junjungan (9), Raja Pintor (10) Raja Datuk Onggang Sabungan (11), Raja Patuan Syah (12), Raja Hundul (13), Raja Daulat Sumorong (14), dan Raja Tinamboran (15). Raja Tinamboran mempunyai 4 orang anak, yaitu Sutan Tinggi Barani, Sutan Nalobi, Sutan Raja Lela dan Sutan Naga Oloan.

2. Raja Sutan Tinggi Barani – Raja Pamusuk

 

Pendiri Huta atau kampung/desa Marancar I adalah putra-putra Raja Tinamboran turunan Siregar-Silo Bauni atau lebih populernya disebut Siregar Bauni yaitu Sutan Tinggi Barani, Sutan Nalobi, Sutan Raja Lela dan Sutan Naga Oloan dibantu oleh kahanggi-kahangginya satu keturunan dan anakborunya marga Sitompul serta hula-hula (kawan sekampung) dari huta Batu Manonggak yaitu marga Hutabarat dan marga Hasibuan.

3. Raja Baginda Mangalopi – Raja Panusunan Marancar I

 

Setelah Raja Sutan Barani mangkat, kedudukannya digantikan oleh putranya yaitu Baginda Mangalopi, beliau mempunyai saudara perempuan bernama Parloyang Bosi. Baginda Mangalopi beserta rakyatnya kembali hijrah ke daerah Simandulo, dan ternyata di daerah ini sudah berdiri dua Harajaon, yaitu mompang dan Sabungan-Julu yang masing-masing dipimpin oleh raja bermarga Harahap. Saudara-saudaranya yang lain yaitu adombang hijrah ke Sipangko, Ja Naga hijrah ke Marasaidi di Marancar dan Ja Lela hijrah ke Padang Bolak.

Setelah bermukim beberapa lama di daerah Simandulo, Raja Baginda Mangalopi mengawini putri raja dari Mumpong dan dari Sambungan – Julu, sedang sebelumnya beliau telah beristerikan dua orang yang berasal dari keluarga hula-hula yaitu marga Hutabarat dan marga Hasibuan.

Rincian urutan istri raja Baginda Mangalopi.

Istri I     : Boru Hutabarat, Puteri Hula-hula
Istri II    : Boru Hasibuan, Puteri Hula-hula
Istri III   : Boru Harahap, Puteri Raja Mompang
Istri IV   : Boru Harahap, Puteri Raja Sabungan Julu

Dengan beristrikan kedua putri raja tersebut, Baginda Raja Mangalopi beserta rakyatnya kembali hijrah ke daerah Marancar dan mendirikan huta yang baru, yaitu Marancar II berlokasi di sisi kiri Aek Marancar yang merupakan cikal bakal pengembangan huta-huta atau kampung di Luat Marancar.

Pada era kepemimpinan Raja Sutan Tinggi Barani dan Raja Baginda Mangalopi selain Huta Marancar I dan II ada beberapa huta yang dibangun oleh Kahanggi Raja dan Anakborunya yaitu sebagai berikut :

Nama Huta Pembangun/Pendiri

1. Marancar I  —————– Raja Tinamboran
2. Marancar II —————– Baginda Mangalopi
3. Dapdap Natonor dan Sugi —- Sutan Nalobi, saudara raja
4. Sialang dan Tambiski——— Sutan Naga Oloan, saudara raja
5. Sibulu Tolang ————— Sutan Raja Lela, saudara raja
6. Batara, Sipultak, Siombuson — Marga Harahap, anakborunya berasal dari Angkola Julu
7. Sigordang ——————- Marga Rambe, anakborunya berasal Tano Rambe Sipiongot-Padang 8. Aek Nabara, Batu Satail, Sitandiang, Marga Hutasuhut, anakboru berasal Huta Layan-Angkola Julu

Dengan berdirinya huta-huta tersebut secara otomatis Raja Baginda Mangalopi menjadi Raja Panusunan I di Luat Marancar, karena setiap huta ada Raja Pamusuknya.

Raja Baginda Mangalopi Siregar mempunyai empat orang putra dan satu orang putri dan empat istri (opat parompuon), yaitu :

  1. Ja Pinaho, dari istri I Marga Hutabarat (Puteri Huluhala)
  2. Ja Pinantuan dan Boru Situmindang, dari istri II Marga Hasibuan (Puteri Huluhala)
  3. Raja Lobi, dari istri III Marga Harahap Mompang (Puteri Raja)
  4. Ja Liang, dari istri IV Marga Harahap Sabungan Julu (Puteri Raja)

4. Raja Lobi – Raja Panusunan Marancar II

Sewaktu Raja Baginda Mangalopi mangkat, yang menggantikan kedudukannya adalah Raja Lobi putra dari istri III, sedang saudara perempuan Raja Lobi yang bernama Situmindang adik dari Ja Pinantun kawin dengan putra raja dari Huristak-Padang Lawas. Pesta perkawinan (Pabuat Boru) di Marancar dilaksanakan selama tiga bulan dan waktu putri Situmindang berangkat menuju rumah mertuanya turut serta putra neneknya Sutan Raja Lela, sang putra ini mempersunting putri raja dari huta Raja Tinggi di Sosa Padang Lawas yang kemudian mereka mendirikan kampung atau huta baru bernama Simarancar.

Pada era kepemimpinan Raja Lobi dua kali terjadi peperangan, masing-masing dengan Hutaimbaru di Siloung dan dengan pasukan Tuanku Rao dari Bonjol (Perang Agama) di Marancar.

I.      Perang Siloung, terjadi sebagai dampak perang Hutalayan, yatiu perang antara Hutaimbaru (Harahap) yang dipimpin oleh Parmata Sapiak dan Parisang-isang Horbangondibantu oleh pasukan Raja Sipirok bersama marga Siagian dan Ritonga melawan marga Hutasuhutdari tiga parompuon. Akibat perang tersebut marga Hutasuhut di Hutalayan terbagi tiga, yaitu : sebagian lari atau dibawa ke Sipirok, sebagiab lagi pindah ke Sibangkua-Jae dan Simaninggir-Sitinjak dan sebagian lagi pindah ke Marancar yang dipimpin oleh Mangaraja Soimbangon Hutasuhut. Mangaraja ini kemudian mempersunting saudara perempuan Raja Baginda Mangalopi yang bernama Parloyang Bosi. Selanjutnya kepada mereka diberikan lahan untuk membangun huta baru yang berlokasi di Aek Nabara bernama Huta Ulos Na So Ra Buruk. Huta ini semakin lama semakin berkembang sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi Hutaimbaru atas kemungkinan serangan dari Marga Hutasuhut, mengingat lokasi baru tersebut tidak begitu jauh letaknya dari lokasi Hutaimbaru.

Kekhawatiran atas ancaman serangan balasan dari marga Hutasuhut diantisipasi oleh Raja Hutaimbaru dengan memerintahkan anakborunya turunan Parmata Sapiak untuk membangun huta di Siloung dekat perbatasan Marancar. Melihat gelagat yang kurang bersahabat ini Raja Lobi memerintahkan kepada pasukannya membangun satu kubu atau benteng yang disebut Parinduhan sebelah atas Siloung.

Pada satu malam Huta Siloung diserang pasukan Raja Lobi melalui Parinduhan yang mengakibatkan pasukan Hutaimbaru mundur ke Aek Batang Angkola. Di loakasi ini oleh Raja Hutaimbaru diminta supaya diadakan perjanjian perdamaian dengan sumpah (Pejanjian Monis) yaitu menanam monis (menir beras) yang maknanya apabila monis tersebut tumbuh baru perjanjian tersebut dapat dirubah. Kesepakatan dalam perjanjian tersebut adalah menyangkut :

1. Perubahan batas kedua Harajaon, yaitu mulai dari gunung yang terletak antara Aek Batang Angkola dengan Aek Simajambu lurus kearah Dolok Lubuk Raya kesebelah utara, dan dari sana lurus menuju selatan kearah Aek Tombajaha dan Aek Batang Toru sampai kualanya di laut.

 

2. Huta Siloung dibangun kembali oleh Harajaon Marancar bersama anakborunya turunan Mangaraja Soimbangon Hutasuhut dan mereka diminta untuk bermukim di sana.

Keistimewaan Raja Lobi antara lain sebagai berikut :
1.  Postur tubuh tinggi besar
2.  Perkasa dan berani
3.  Semua rayat harus bekerja mulai pukul 08.00 s.d 17.00
4.  Sehari-hari memakai pedang dan inspeksi ke lahan pertanian antar Huta
5.  Mempunyai dua bayang-bayang
6.  Negeri Marancar makmur dan sejahtera
7.  Suka mengadakan pesta, kadangkala ada pesta lamanya 1 tahun
8. Raja –raja Torbing banyak mengirim sumbangan (longit) antara lain dari Harajaon :
-          Tapian Na Uli
-          Sobu Sait Ni Huta
-          Sipirok
-          Pargarutan
-          Huristak
-          Aek Badak
-          Angkola Julu
9. Mempunyai Gudang Garam di :
-          Bongal, antara Lumut dengan Jago-jago (Pengurus Manusun Dagang)
-          Kuala Aek Batang Toru (Pengurus : Mancayo Mudo)
-          Marancar-Maheam, dekat penyebrangan Aek Batang Toru yaitu Sipangarambangan
10. Rakyat mulai mengenal peralatan besi
11. Menetapkan batas Luhak/Luat Marancar
-          Utara, berbatasan dengan Sipirok dan Dolok Adian Rindang sampai Puncak Dolok Sibual-buali kemudian Aek Puli
-          Selatan, berbatasan sesuai Perjanjian Monis dengan Huta Imbaru
-          Timur, berbatasan antara Simandulo menuju arah Aek Batang Ayumi sampai Dolok Sibual-buali
-          Barat, berbatasan dengan Tapian Nauli sampai Sobu sait Ni Huta.

12. Pemimpin yang tegas dan adil

II.      Perang Agama, Utusan Tuanku Rao dari Bonjol datang dari Angkola-Julu sebanyak 7 orang menghadap Raja Lobi untuk memberitahukan tentang Agama Islam dan memohon agar rakyat negeri Marancar menganut Agama tersebut. Raja Lobi berpesan kepada utusan Tuanku Rao agar agama baru tersebut dimufakatkan dulu dengan semua Raja Ni Huta seluruh Marancar, barudiambil suatu keputusan. Namun besoknya 5 orang dari 7 orang utusan sudah meninggal akibat tikaman dan tergeletak di luar Huta Marancar II sedang 2 orang lagi sempat menyelamatkn diri. Menurut cerita, penikam kelima orang utusan tersebut dilakukan oleh anakboru Marga Hutasuhut dengan alasan kurang hormat kepada Raja Lobi. Dampak penikaman tersebut menimbulkan perang sehingga Raja Lobi memerintahkan rakyatnya mengungsi ke pulau Batu Mundom dan Roncang Batu (Pantai Barat Sumatera Utara, Selatan Teluk Sibolga) dan gunung-gunung sekitarnya. Pasukan Tuanku Rao terus mengejar namun tidak berhasil menyebrang ke daerah pengungsian tersebut. Pasukan Tuanku Rao (Islam) menyerang Marancar pada tanggal 12 Ramadhan 1231 H (Buku Tuanku Rao halaman 176) setara tahun 1810, dari dua jurusan yaitu dari Sipenggeng dan Sabungan masing-masing dengan kekuatan 1000 unit kavaleri (pasukan berkuda) terlatih.

Mengingat kondisi Raja Lobi sudah tua dan sakit-sakitan serta mengingat pula kondisi dan situasi daerah pertahanan Pulau Batu Mundom dan Roncang Batu sangat sulit, maka atas usuk keempat puteranya serta seorang puteri yaitu : Kali Batoel, Ja Enda, Ja Imbang, Daulat Sumorong serta Siti Rombi agar diadakan perdamaian dengan Tuanku Rao. Butir-butir perdamaian aalah sebagai berikut :

1.  Rakyat Luat Marancar memeluk Agama Islam
2.   Pasukan Tuanku Rao segera keluar dari Luat Marancar.

5.  Kali Batoel – Raja Panusunan Marancar III/Kepala Kuria Marancar I

Dalam era kepemimpinan Raja Kali Botoel terjadi peristiwa-peristiwa penting, antara lain :

  1. Rakyat harajaon Marancar memeluk agama Islam
  2. Perjanjian dengan militer Belanda di Pagaran Ri Jae
  3. Belanda memasuki Luat Harajaon Marancar
  4. Kali Botoel tetap berfungsi sebagai Raja Panusunan Luat Marancar III sekaligus Kepala Kuria Marancar I (menurut Sutan Barumun II, SK Pengangkatan Kali Botoel sebagai Kepala Kuria hilang namun pemerintah Belanda mengakuinya sebagai Raja Panusunan/Kepala Kuria).

Raja Kali Botoel mempunyai empat orang putera yaitu Sutan Barumun I, Sutan Bangun, Ja Gadombang dan Mangaraja Dunia.

6.  Raja Daulat Sumorong – Raja Panusunan Marancar IV/Kepala Kuria Marancar II

 

Sewaktu Raja Kali Botoel wafat, kedudukannya digantikan oleh putranya bernama Sutan Barumun I, namun karena masih muda dan belum menikah sementara sebagai Raja Paunusunan IV/Kepala Kuria Marancar II dijabat oleh adik Kali Botoel, yaitu Raja Daulat Sumorong yang berdomisili di Aek Toras. Raja Daulat Sumorong berada dalam kondisi kurang sehat (rheumatik) sehingga untuk urusan yang penting seperti pelaksanaan rodi dalam rangka membangun jembatan gantung dan rotan di atas Aek Batang Toru, Aek Parsariran, jalan, dan lain-lain diangkatnya salah satu kahangginya garis keturunan Sutan Raja Lela sebagai Tungkot (deputy) yang bernama  Ja Sialang dan tinggal di huta Parjelohan di hilir Aek Toras. Pada suatu saat huta tersebut terserang penyakit epidemik sehingga seluruh warganya dipindahkan ke huta Huraba.

7. Sutan Barumun I – Raja Panusunan Marancar V/Kepala Kuria Marancar III

 

Raja Daulat Sumorang wafat, kedudukannya digantikan oleh Sutan Barumun I sebagai Raja Panusunan V/Kepala Kuria Marancar III. Semasa pemerintahan Sutan Barumun I, Ja Sialang meninggal dan kedudukannya digantikan oleh Ja Rendo yang bermukim di Huraba.

Pada suatu waktu kepala Kuria Marancar Sutan Barumun I mendapat undangan dari Kepala Kuria Batunadua Patuan Soripada I untuk membicarakan usulan goverment mengenai pemindahan Patuan Natigor mora Patuan Soripada I dari Huta Siijuk-Padang Lawas ke laut Marancar mengingat keamanan Patuan Natigor kurangterjamin karena beliau melaksanakan kesalahan adat yaitu melakukan kawin sumbang. Setelah bermukim selama tiga bulan di Huta arancar III oleh Kerapatan Negeri beliau diusulkan pindah dan membangun huta baru di Sianggunan.

Selanjutnya atas kebijaksanaan Kepala Kuria Marancar IIIdan sejalan dengan saran Kepala Kuria Batunadua diusulkan kepada Gouverment agar Patuan Natigor diangkat menjadi Kepala Kuria di Sianggunan, demikian pula halnya kepada Ja Rendo sesuai dengan permintaannya untuk diusulkjan menjadi Kepala Kuria di Huraba sebagai balasan atas jasa-jasanya sebagai tungkot atau deputi sekaligus menabalkan nama huta Huraba dan nama baru kepada beliau yaitu Sutan Diatjeh.

8. Patuan Kumala Pontas Soaduon-Raja Panusunan Marancar VI/Kepala Kuria Marancar IV

 

Menggantikan kedudukan Sutan Barumun I yang mangkat kemudian beliau menjabat Raja Panusuanan VI/Kepala Kuria Marancar IV

Pada era kepemimpinannya baru ditetapkan batas-batas antara Harajaon Marancar dengan Harajaon Huraba serta Harajaon Sianggunan. Namun kedua kekuriaan tersebut tidak bertahan lama hanya sampai pada tingkat anak. Kepala Kuria Sianggunan terakhir dipimpin oleh anak Patuan Natigor yang bernama Ja Sinomba sedang Kepala Kuria Huraba terakhir dipimpin oleh anak Sutan Diatjeh benama Baginda Panangaran.

 

Berdasarkan SK Assistant Resident van Padangsidempuan tanggal 25 september 1907 no. 873 dan SK Controleur van Angkola en Sipirok tanggal 30 september 1907 no. 887 Kuria Sianggunan dilebur kedalam Kuria Marancar, sedang berdasarkan SK Resident van Tapanoeli tanggal 29 desember 1920 no. 921 Kuria Huraba kembali bergabung ke dalam Kuria Marancar.

9. Sutan Barumun II Raja Panusunan Marancar VII/Kepala Kuria Marancar V

 

Sutan Barumun II menjabat sebagai Raja Panusunan VII/Kepala Kuria Marancar V menggantikan Patoean Koemala Pontas Soadoeon  samapai berakhirnya perang dunia ke-II.

Pada era kepemimpinannya jelang Perang Dunia ke-II beliau masih sempat menulis buku Riwayat Ringkas Kakoeriaan Marantjar (Pagaran Ri 1940) yang menjadi acuan sampai sekarang. Disamping itu, beliaulah yang membangun Mesjid Raya di Huta Sipenggeng (1937).

Perang Dunia ke-II (1939-1945) memaksa pemerintah Belanda hengkang dai Indonesia, menyusul lahirnya Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini berdampak bubarnya sistem pemerintahan ala Koeria namun fungsi dan peranan Raja Panusunan sebagai ketua masyarakat adat tetap berlaku dan diakui pemerindah NKRI demikian pula halnya terhadap Raja-Raja Pamusuk dari tiap Huta.

10. Patoean Hoemala Soadoeon (Martondang Siregar) – Raja Panusunan VIII

 

Dengan mangkatnya Sutan Barumun II maka peranan dan fungsi Raja Panusunan secara otomatis dipegang oleh putera tertua yaitu Martondang Siregar Bauni gelar Hadji Patoean Hoemala Soadoon.

Raja Panoesoenan Patoean Hoemala Soadoeon dalam era kepemimpinannya sebagai ketua Masyarakat Adat Luat Marancar tidak dapat berbuat banyak mengingat situasi negara kurang stabil baik karena pengaruh partai-partai politik, keamanan, ekonomi maupun pengaruh gejolak sosial (Chaos).

Patoean Hoemala Soedoeon membangun sekolah menengah pertama (SMP) yang pertama di Batang Toru tahun 1955, yang kemudian menjelma menjadi SMP Negeri I.

Kemudian beliau hijrah ke Medan (1956) dan sebagai pengganti sementara sebagai Raja Panusunan diserahkannya kepada Apaktuonya Soetan Dilaoet sebagai Raja Panusunan ke IX sampai dengan tahun 1963. Patoen Hoemala Soedoeon meninggal di Medan.

11. Soetan Dilaoet – Raja Panusunan IX

 

Soetan Dilaoet sebagai Raja Panusunan Luat Marancar IX dalam fungsi dan peranannya sebagai pimpinan lembaga adat Luat Marancar tidak dapat berbuat banyak, sama halnya dengan Patoean Hoemala Soadoeon karena masyarakat Luat Marancar langsung atau tidak langsung terpengaruh atas pemberontakan PRRI-Permesta (1957-1958) yang terbagi antara pro dan kontra PRRI-Permesta sehingga menimbulkan kesenjangan sesama masyarakat.

12. Tuongku Raja Lela – Raja Panusunan X

 

Sekembalinya Hasan Basjri Siregar gelar Tuongku Raja Lela putra keempat Sutan Barumun II dari Pematang Siantar kemudian menetap di Huta Sipenggeng (1963) sedang putra kedua yaitu Basaroellah Siregar Bauni gelar Baginda Moelia Soa doeon berdomisili di Medan dan Putera ketiga yaitu Chairoeddin Siregar Bauni berdomisili di Jakarta maka Soetan Dilaoet meyerahkan jabatan yang dipegangnya selama ini kepada Tuongku Raja Lela yang menjadi Raja Panusunan Raja Panusunan X

Tuongku Raja Lela wafat tangal 21 Desember 2005 di {ematang Siantar dan dimakamkan di pekuburan keluarga Raja-Raja Marancar di Huta Marancar Godang.

13. Drs. Zulfikar Siregar Bauni gelar Baginda Bauni Hamonangan-Raja Panusunan XI

 

Melalui Musyawarah adat Luat Harajaon Marancar diputuskan dan ditetapkan Drs. Haji Zulfikar Siregar Bauni gelar Baginda Bauni Hamonangan bin Haji Muhammad Jacob Siregar Bauni Gelar Sutan Naga bin Raja Panusunan Luat Marancar VI/Kepala Kuria IV Patoean Koemala Pontas Soadoeon menggantikan (mengambil) peranan dan fungsi Raja Panusunan/Luat Harajaon arancar.

Baginda Bauni Hamonangan mulai berperan dan berfungsi sebagai Raja Panusunan terhitung mulai tanggal 8 April 2006/17 Rabbiul Awal 1427 H.

Dalam menjalankan tugas tersebut diatas sehari-hari dibantu oleh unsur-unsur Kahanggi, Orangkaya Luat, Orangkaya Bagas Godang, Bayobayo Nagodang, Anakboru, Hatobangon, Cerdik Pandai dan Alim Ulama.

Dikutip dari : Catatan Drs. Zulfikar Siregar Bauni Gelar Baginda Bauni Hamonangan – Raja Panusunan XI
Ketik Ulang : Ahmad Afandi Nasution.

Sumber: www.rareplanet.org – campaigned by : Efrizal Adil

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com


Sejarah Harajaon Luat Marancar (Kawasan KCA Dolok Sibualbuali Dan Suaka Alam Lubuk Raya) Di Sekitar Hutan Batang Toru Posted on Category Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Bergabung Dengan 5,644 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. Satabi sappulu sappulu noli sattapi, saya lahir di Kec. Marancar di Desa Simaretung sekitar thn 1973 lalu.
    Cerita ini sangat bagus historicalnya dan dipublikasikan untuk tidak menghilangkan sejarah yang ada di Kec. Marancar. Tapi alangkah baiknya kalau seluruh cerita ini juga dilihat dari berbagai sudut cerita dari pendapat2 di Desa-desa yang lainnya yang ada di Kec. Marancar, berangkali akan lebih komplit informasi ini jika dari tokoh2 adat yang ada di Kec. Marancar saat ini ikut dikompirmasi tentang sejarah Kerajaan di Kec. Marancar dahulu hingga saat ini.
    Yang jelas historical ini sangat baik dan menjadi cerita sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh masyarakat Kec. Marancar Saat ini.

    Kalau ada cerita tentang pembukaan2 setiap desa2 yang ada di seluruh desa Kec. Marancar yang bisa dituangkan di media ini, akan lebih baik lagi. Contoh sejarahnya berdirinya Poken Arba/Pasar Marancar, Sejarah datangnya Marga Pasaribu di luat Marancar, sejarah berdirinya Marancar Godang, Marancar Julu, Sugitonga, Simaretung, Tanjungrompak dan juga Desa Bonan dolok, desa Simaninggir serta sejarah berdirinya wilayah Aek Nabara. Maka akan lebih menarik dan baik untuk diketahui Masyarakat Marancar u/ tidak melupakan sejarah Kec. Marancar.
    Sekali lagi historical ini sangat berguna untuk kita semuanya.
    Horas
    F.Sormin (Simaretung)

  2. dak apa boleh tau nama panggilan udak?

  3. dak apa kturunan ke ll / basarulah tdk pernah kembali ke kampung?

  4. saya menyampaikan keberatan kepada berita yang anda kutip dari sdr Zulfikar Siregar, karena sebagai salah satu keturunan Sutan Barumun II, dan menurut anak perempuan Sutan Barumun II yang masih hidup dan tinggal di Jawa menyampaikan agar hal ini diluruskan kembali jangan dijadikan preseden buruk dengan membalikan fakta yang ada mengenai Raja Di Marantjar (kita mengetahui uang bisa membeli segalanya). Karena berdasarkan cerita yang diturunkan kepada Saya bahwa Raja terakhir di Marantjar adalah “Patoen Komala Soedoan atau dikenal dengan panggilan Patoen Dotang” adalah kakak Kandung Opung Saya (Basaroelah Siregar gelar Baginda Mulia Soedoen), dan apabila hal ini diturunkan kepada salah satu keturunan Sutan Barumun II adalah hal yang wajar yaitu Hasan Basri (gelar Tengku Raja Lela)atau kepada abangnya Basaroelah Siregar atau Chaerudin Siregar. karena berdasarkan stambuk (silsilah yang kami punya) bahwa yang berhak menjadi raja Marantjar adalah salah satu keturunan dari Basaroelah Siregar dengan 10 Anak, Chaerudin Siregar 3 Anak ,dan Hasan Basri 3 Anak (berhubung gambar tidak bisa diattachment maka akan saya gambar melalui garis) Soetan Barumun II: Soetan Raja Asal: Soetan Naga : dan Soetan Marantjar (satu garis atau horizon dan yang menjadi Raja Adalah Soetan Barumun II) dan keturunannya adalah Patoen Komala Soedoen (tidak punya keturunan): Basaroelah Siregar (10 anak):Chaerudin Siregar (3 anak): Hasan Basri (3 anak): Muhamad Alinapiah (tidak punya keturunan) demikian yang dapat saya sampaikan guna melurukan fakta yang ada mengenai Raja di Marantjar. Apabila ada yang berniat untuk mengetahui stambuk yang saya sampaikan diatas dapat mengirimkan email kepada saya mtaoefik@gmail.com dan dengan senang hati akan saya kirimkan stambuk dimaksud. salam Mtaoefik

  5. kok, bisa ya Sdr Zulfikar Siregar yang jadi Raja di Luat Marantjar karena ybs khan keturunan Sutan Naga yang kalo diliat dari stambuk (adik dari Sutan Barumun II). Karena kalo liat dari Raja Luat Marantjar yang 12 sudah benar, seharusnya keturunannya (Basrulah Siregar atau Chaeruddin Siregar atau Hasan Basri) yang meneruskan bukan kembali buat jalur baru, sekedar koreksi
    Salam

5 Komentar untuk “Sejarah Harajaon Luat Marancar (Kawasan KCA Dolok Sibualbuali Dan Suaka Alam Lubuk Raya) Di Sekitar Hutan Batang Toru” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.