Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

salam-ramadhan

Home » Artikel » Menggali Swadaya, Tingkatkan Kualitas Infrastruktur

Menggali Swadaya, Tingkatkan Kualitas Infrastruktur

Oleh: Rahdiansyah Pane *)

1Pembangunan merupakan idaman setiap individu dan masyarakat, karena tanpa pembangunan kenyamanan, keamanan dan kesejahteraan hidup akan mengalami hambatan. Lihat saja, daerah yang tidak tersentuh pembangunan akan terisolir dan  tidak berkembang, baik lingkungannya, maupun masyarakat yang menempati daerah tersebut. Bahkan, sumber daya manusianya juga relative rendah bila dibandingkan dengan daerah yang telah maju akibat laju pembangunan. Berarti, pembangunan itu diperlukan dalam menunjang pertumbuhan masyarakat di setiap bidang kehidupan.

Walaupun pembangunan sebuah kebutuhan, namun perjalanannya tidak sebanding dengan tingginya permintaan maupun sasaran pembangunan itu sendiri. Berbagai usulan dan lokasi yang harus dibangun, tetapi tidak semuanya dapat dipenuhi. Fenomena ini disebabkan masih rendahnya partisifasi masyarakat, tidak diperolehnya data akurat terhadap kebutuhan maupun biaya pembangunan yang dialokasikan pemerintah terbilang terbatas.

2Ketiga fenomena ini adalah hambatan yang cukup mendasar setiap kali bergulirnya pelakanaan pembangunan. Fakta dilapangan, ketika pemerintah menawarkan sebuah pembangunan infrastruktur berupa jalan, saluran air, MCK, irigasi, jembatan, dan lainnya,  masih terdapat beberapa warga yang menghalangi dan menentang rencana pembangunan itu. Apalagi, ketika pelaksanaan, tidak sedikit pula bangunan yang dilaksanakan pemerintah  di rusak dan di bongkar oleh warga setempat. Warga selalu berdalih, akibat pembangunan ini berupa tanaman, bangunan, rumah akan mengalami kerusakan bahkan tanahnya akan berkurang sehingga kerugianlah yang akan menimpa warga, bukan malah keuntungan. Dari kejadian – kejadian itu, pihak pemerintah dengan terpaksa mengambil langkah dengan mengalihkan kegiatan tersebut kelokasi lain yang belum tentu menjadi sasaran prioritas  dari pembangunan.

Selain itu, pola pembangunan yang diterapkan lebih bersifat top down ( dari atas kebawah ) yang lebih mendominasi praktek pembangunan. Pola ini justru membatasi ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sehingga aspirasi dan informasi 3tersumbat dan tidak akurat. Seluruh tahap pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah tanpa melibatkan masyarakat. Hal ini tentu mempengaruhi perkembangan pembangunan karena disatu sisi masyarakat enggan berpartisipasi dan disisi lain pemerintah mengalami kesulitan menggali masalah, kebutuhan dan potensi yang di miliki setiap wilayah yang pada gilirannya pembangunan  tidak tepat sasaran dan tidak mengakomodir kepentingan masyarakat.

Anggaran pembangunan di daerah maupun pusat tidak begitu tinggi dan tidak mampu menampung seluruh kebutuhan masyarakat. Ditambah lagi, keterbatasan anggaran itu, prakteknya tidak mengedepankan efesiensi dalam penggunaannya, karena seluruh tahapan, perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan dibebani biaya yang lumayan besar. Realitanya, untuk merencanakan satu kegiatan saja, pemerintah mengeluarkan biaya perencanaannya. Sedangkan saat pelaksanaan, lazimnya, setiap kegiatan itu di lakukan oleh pihak ketiga yang biasa disebut kontraktor melalui proses tender terlebih dahulu. Proses ini juga terdapat biaya yang harus disediakan oleh pemerintah maupun kontraktor dalam . Nah inilah yang menjadikan satu kegiatan itu menelan biaya besar 4walaupun secara perhitungan telah mengacu pada standart analisa teknis.   Akibatnya, hanya sebagian wilayah saja yang menerima pembangunan, dan itupun dilakukan secara bertahap.   Hal inilah yang menjadi faktor angka pembangunan relative tetap dan tidak ada peningkatan.

Rasanya apabila fenomena ini terus berlanjut, maka tidak tertutup kemungkinan kita mengalami kesulitan untuk menikmati pembangunan. Tetapi kita jangan pesimis dulu, ternyata tidak semuanya pola itu yang mengemuka.  Ternyata juga, tidak semuanya masyarakat menentang pembangunan itu. Masih ada masyarakat yang peduli terhadap kemajuan daerahnya sendiri.

5Mari kita melihat perjalanan pembangunan di salah satu Kota di Provinsi Sumatera Utara, Padangsidimpuan  namanya. Kota seluas 11.465,66 ha dengan jumlah penduduk 181.865 jiwa yang menyebar di 79 Desa / Kelurahan ini sebagian besar pembangunan yang ada sudah menerapkan pola pembangunan bottom up ( dari bawah keatas ) yaitu seluruh tahapan pembanguan itu bermula dari masyarakat hingga berperan sebagai pelaku. Penerapan pola ini ternyata lebih efektif dan efesien sehingga diyakini dapat mempercepat pembangunan.

Menarik untuk diperbincangkan kalau berbicara tentang partisipasi masyarakat dalam 6pembangunan di Kota penghasil salak ini. Pasalnya, disamping pembangunan yang di program pemerintah setiap tahun berjalan,  terdapat juga pembangunan yang digerakkan oleh masyarakat melalui program handalan pemerintah pusat yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan ( PNPM- MP ), yang masuk sejak tahun 2006 di kota ini.

Menariknya, masyarakat kini telah mampu merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi setiap kegiatan yang dilaksanakan, seperti pembangunan berbagai jenis jalan, saluran air, irigasi, bendungan, MCK, pipanisasi, jembatan. Dan hasilnya, tidak kalah jauh dari 7pembangunan yang selama ini di sponsori langsung oleh pemerintah setempat. Bahkan, disamping kualitasnya teruji, malah terjadi penambahan volume kegiatan. Padahal, biaya yang dikelola cukup terbatas dan realisasinya terbilang murah. Kunci keberhasilan ini terletak pada adanya swadaya nyata yang merupakan wujud partisipasi masyarakat berupa pemikiran, waktu, tenaga, materi, hingga harta benda. Masyarakat dengan sukarela memberikan sebagian tanahnya tanpa ganti rugi, bergotong royong, menyumbangkan uang, peralatan maupun bahan material yang dibutuhkan dalam kegiatan. Silih berganti, kaum ibu menyediakan makanan dan minuman bagi masyarakat yang bekerja. Tentu berbagai hikmah yang dapat dipetik diantaranya suasana keakraban dan kebersamaan terbangun dari setiap kegiatan yang berlangsung dimasyarakat.8

Hal tersebut diatas, membuktikan bahwa masyarakat memiliki peran penting mensukseskan pembangunan yang efektif dan efesien. Dari data yang ada, di tahun 2009 hingga 2010 saja, masyarakat kota Padangsidimpuan  menghibahkan tanahnya untuk kepentingan berbagai pembangunan telah mencapai 6.254 M2 . Sementara di tahun 2010 juga, diperoleh swadaya untuk kontruksi kegiatan berupa tenaga, bahan, peralatan telah mencapai Rp. 304.720.000,00 ( tiga ratus empat juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah ) dari total BLM 2.118.000,00 ( dua milyar seratus delapan belas juta rupiah ). Total dana ini hanya sebagian kecil dana yang dianggarkan di Kota Padangsidimpuan di Tahun 92010 sebesar 8.225.000.0000, yang bersumber dari APBN, ditambah 1.875.000.000,00 yang bersumber dari APBD. Berarti, masih terdapat jumlah swadaya lainnya sejak 2006 hingga sekarang  totalnya mencapai 3 milyar lebih.

Swadaya yang diberikan oleh masyarakat, tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya iming – iming maupun paksaan oleh siapapun, dan ini sebagai bentuk rasa kepedulian dan tanggungjawab setiap warga negara untuk memajukan daerahnya sendiri. Nah, dapat dibayangkan, bila swadaya ini tidak ada, pembangunan di Kota Padangsidimpuan perjalanannya tentu terbatas.

Kuatnya pengaruh  swadaya ini telah merubah wajah kota. Banyak jalan yang diperbaiki dan di bangun, saluran air di masing – masing desa / Kelurahan terbentang siap sedia mengalirkan air hujan dan limbah, jembatan yang menghubungkan dari satu wilayah 10ke wilayah lain, irigasi – irigasi yang mengairi persawahan, MCK yang nyaman dan bersih, sumber dan fasilitas air bersih yang mudah dan mampu menghidupi warga sekitarnya, dan kegiatan infrastruktur lainnya yang memberikan keceriaan, rasa aman, dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Fakta diatas menandakan betapa pentingnya masyarakat dalam proses pembangunan itu, tentu dengan menggunakan methode pemberdayaan, karena pemberdayaan teruji mampu mendorong masyarakat secara bersama – sama mengkaji masalah, kebutuhannya sendiri, merumuskan solusi untuk memperbaiki keadaannya serta mengembangkan potensi–potensi dan keterampilan yang dimiliki guna meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

11

*) Penulis;
Rahdiansyah Pane-2Asisten Koordinator Kota 8 Padangsidimpuan – Sibolga Bidang Infrastruktur Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan Konsultan Manajemen Wilayah 1 OC 1 Provinsi Sumatera Utara

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan[at]gmail.com


Menggali Swadaya, Tingkatkan Kualitas Infrastruktur Posted on Category Artikel. Tags: , , You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Bergabung Dengan 5,584 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. Wau….u, apa photo ini nyata, sepertinya memberi gambaran, anggaran yang dihabiskan melebihi jumlah yang telah disediakan PNPMandiri. Hebat….! bukti nyata tanpa perlu pakai istilah “Marsipature Hutanabe” .

Ada 1 Komentar untuk “Menggali Swadaya, Tingkatkan Kualitas Infrastruktur” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.