Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Wisata » Sipirok, Kota Tenun dan Penghasil Dodol

Sipirok, Kota Tenun dan Penghasil Dodol

Oleh : DR. Dharmayuwati Pane, MA

Martonun (bertenun)

Almarhum ayahku, Sutan Habiaran Pane adalah seorang pejuang kelahiran Pangurabaan  Sipirok.Beliau merantau dikirim ke Bandung untuk menjalani training militer dan disanalah beliau bertemu  alm ibuku, Elsye Boru Lumban Tobing kelahiran Tarutung  yang sedang kuliah di Bandung dengan Jurusan Ilmu Kependidikan.Mereka kemudian menikah  secara Islam dan alm ibuku menjadi Mualaf .Beberapa lama kemudian alm ibuku  mendapat pekerjaan pertamanya sebagai Guru Sekolah Dasar di Bekasi.Dari Bekasi lalu  alm ibuku dipindahkan ke Jakarta.

Aku dan 4 orang adikku dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. Aku dan 2 orang itoku sempat mendapatkan pendidikan tingginya di Jerman Barat. Aku menamatkan  S2 ku dengan biaya sendiri pada tahun 1987 di kota Mainz,Jerman Barat dan  kemudian melanjutkan pendidikan S3 ku di Johannes Gutenberg Universitaet, Mainz, Jerman Barat  dan pada tahun 1989  mencapai gelar Doktor  dalam bidang Kesusasteraan Jerman ,Inggris, Amerika  dengan beasiswa program Doktor dari Freidrich Ebert Stiftung (FES) Jerman .Setahun kemudian, pada tahun 1990 mendapatkan Post Graduate Diploma dari Gesamthochschule Kassel, Jerman Barat dalam Bidang Education Technology, University Management dan International Relations yang didanai oleh Kementerian Ekonomi dan Kerjasama Luar Negeri Jerman.

Dua tahun sebelumnya kedua itoku  kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliahnya di Jakarta, sedangkan aku  setelah tamat kuliah tetap bermukim di Jerman Barat  dan bekerja mencari nafkah untuk menggapai impianku mendirikan sekolah di Jakarta nanti. Dari Jerman aku sempat bekerja di Negara Amerika Tengah seperti Nikaragua dan Costa Rica dan melanglang buana ke Manca Negara. Setelah hampir 15 tahun hidup di banyak Negara, tahun 1995 sampai sekarang aku menetap di Jakarta. Pada tahun 2000 aku merealisasikan impianku ynag sederhana yaitu mendirikan  Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Bilingual (Bahasa Indonesia & Bahasa Inggris) di Cibubur, di pinggiran kota Jakarta Timur dengan website: www.pestalozzi-indonesia.com karena melihat kebutuhan akan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan konsep dan metode pengajaran kombinasi Eropah-Indonesia. Anak-anak dari berbagai bangsa, ras dan agama bersama-sama belajar disiplin,bertanggung jawab,  mencintai dan melestarikan  alam, hidup damai,toleransi, dan menikmati bahwa perbedaan itu indah..Ideologi  Pancasila aku terapkan di kehidupan sehari-hari di sekolahku ini.Bahasa Ibu tetap Indonesia , bahasa Inggris hanya secara lisan, karena anak usia 1-6 tahun belajar bahasa asing dengan cepat hanya melalui mendengar.

Sebelum berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi  pada tahun 1977, aku menyempatkan diri dengan temanku Linda  Durham, murid pertukaran pelajar kebangsaan  Amerika  dengan seijin orangtuanya di San Fransisco untuk pulang kampung  bersamaku ke rumah alm Oppungku di Sipirok, kampung atau sekarang kota kecil kira-kira 40 Km dari kota Padang Sidempuan, Tapsel. Memang waktu aku kecil, aku sempat beberapa kali oleh alm ayah dibawa ke Sipirok, tapi sudah lama sekali dan terlalu kecil untuk bisa mengingat kejadian-kejadian dikampung selain bersepeda di jalan-jalan  sempit perbukitan dan pergi ke sawah dengan alm Oppung. Nah perjalanan ke Sipirok setelah aku baru lulus  SMA bersama teman Amerikaku ini masih bisa kuingat dengan jelas sampai sekarang, walau sudah 30 tahun yang lalu.. Kenangan yang sangat indah..

Rumah  alm Oppungku terletak dipinggir jalan raya menuju Pahae, sangat panjang dengan tangga cukup tinggi seperti rumah panggung, menghadap perbukitan  dan didepannya terhampar luas sawah milik alm Oppungku.Didepan  dan disamping rumah alm Oppung  ada pohon besar yang aku suka naiki dengan  sepupu-sepupu ku. Kalau malam terlihat kunang-kunang beterbangan, berkelap-kelip, sangat indah sekali…Kata Oppungku, itulah aku dan temanku yang  nantinya juga akan sering mengunjungi Oppung, walau aku studi ke Jerman dan menetap disana dan temanku Linda kembali ke San Fransisco. Terharu sekali, makanya kalau aku melihat kunang-kunang, aku selalu teringat alm Oppungku (Oppung perempuan, karena Oppung laki gugur melawan Belanda…

Selain bersawah, Oppungku ini  kerjanya sepanjang hari menenun ulos Batak khas Sipirok dengan manik-manik warna-warni  bisa mebentuk gambar atau huruf-huruf yang kadang dijual atau dihadiahkan pada waktu perkawinan dan pada waktu kelahiran anak. Di hampir setiap Rumah Tangga di Sipirok, aku melihat nenek-nenek menenun di depan rumahnya..Dulu ini merupakan mata pencaharian utama mereka dan kepandaian  menenun  ini diwariskan turun temurun.. Alm ayah-ibuku mendapatkan ulos tsb sebagai hadiah perkawinan dan aku juga mendapatkan ulos tsb dengan tulisan namaku ketika aku dilahirkan sebagai anak pertama dan itu aku simpan terus sampai aku pergi ke Jerman.

Kegemaran  alm Oppungku yang lain adalah membuat dodol khas Sipirok. Aku dan temanku  Linda senang membantu dan duduk berjam-jam sambil mengobrol, karena memang membuat dodol membutuhkan waktu yang cukup lama dan kegiatan ini merupakan kesempatan kami mengakrabkan diri…Ah senangnya hati ini, bisa lebih dekat  dengan  alm Oppungku dengan mengobrol ketika dia sedang menenun atau ketika membuat dodol. Obrolan-obrolan tsb aku terjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk temanku Linda..Oh ya, kedatangan orang bule ,temanku Linda asal San Fransisco-USA yang  tinggi besar, rambut pirang dan mata biru ke Sipirok merupakan sensasi tersendiri..Setiap pagi rumah alm Oppungku atau rumah-rumah  famili lain dipenuhi orang kampung yang sekedar ingin melihat temanku itu.Kata  alm Oppung sudah lama sejak penjajahan Belanda berakhir, tidak ada lagi orang ‘bule’ yang mampir ke Sipirok untuk jangka waktu lama, paling-paling juga hanya di Bis Kota dalam perjalanan Tour ke Bukit Tinggi melalui Sipirok..Hmmmm Linda menjadi idola orang-orang muda Sipirok waktu itu dan juga aku sebagai anak Jakarta..Linda tidak keberatan menjadi tontonan di Sipirok, apalagi kalau kami pergi ke pasar..ya ampun pasar jadi penuh..

Kami banyak diundang untuk berbagai kegiatan di kampung Sipirok yang sebenarnya  juga tidak banyak, karena  kebanyakan mereka harus cepat tidur dan paginya ke sawah.Dulu televisi atau bioskop  belum ada, paling hanya sekali-sekali  ada pertunjukan film lama di halaman rumah kepala kampong dan kalau gerimis semua bubar, makanya disebut dengan “Misbar” ha ha ha..Lucu sekali, satu kali sedang asyik nonton gerimis dan lama-lama hujan, kami berlarian pulang ke rumah Oppung, basah kuyup dan besoknya kena flu, tidur sepanjang hari berselimut tebal.Kamar kami di ruang depan, begitu sampai diujung tangga belok ke kanan  dengan jendela menghadap ke jalan raya..Di rumah itu hanya ada satu ruangan panjang beralas tikar anyaman yang bagus, disitulah kamar tamu dan kamar makan sekaligus dan ruang meeting keluarga dengan duduk membentuk lingkaran dan duduk bersila. Tidak banyak perabotan, hanya ukiran-ukiran  disudut dinding kayu sehingga kesannya luas dan panjang.. Nah kamar tidur kami di depan dan kemudian diikuti kamar tidur  Oppung yang wangi berasal dari bunga-bunga kering. Di belakang ada tangga menurun menuju dapur  dengan kompor batu dan api dengan kayu bakar dan kebun yang cukup luas, dimana kami bisa  bermain dengan sepupu-sepupu ketika Oppung sedang masak sayur singkong tumbuk dan ikan sale dan arsik ikan Mas khas Sipirok…

Pagi-pagi Sipirok sangat dingin dan kami harus pergi ke kamar mandi umum kira-kira  seratus meter dari rumah alm Oppung  yang letaknya dekat Mesjid, karena rumah-rumah panggung dulu belum ada kamar mandi dan toilet untuk mandi, ke toilet, ambil wudhu, atau mencuci pakaian. Di kamar mandi umum  itu yang di tengah-tengahnya ada bak besar dan panjang berisikan air, aku dan temanku Linda mandi sambil memakai kain panjang bersama orang-orang Sipirok lainnya… Brrrr dinginnya.. Ha ha ha  temanku Linda menjadi bahan tontonan orang banyak sambil berbisik-bisik dalam bahasa Batak Maindailing yang aku kurang mengerti. Kemudian alm Oppungku menjelaskan kepada mereka siapa  kami, barulah mereka tersenyum..Lama kelamaan orang-orang sudah terbiasa dengan kami, hanya anak-anak saja yang selalu mengikuti kami kemanapun kami pergi. Kerja kami setiap hari hanya jalan-jalan dan mengunjungi banyak tempat yang masih hutan, ada sungai dan air terjun, terkadang kami  ikut ke sawah dengan paman dan sepupu-sepupu , sangat melelahkan buat orang kota besar sepertiku dan Linda. Ini pertamakalinya kami mengalami lintah-lintah menempel di kaki…Iiiih betul-betul menggelikan…

Pada waktu pulang ke Jakarta, alm Oppungku menghadiahkan aku dan temanku masing-masing satu ulos yang rupanya sudah dia tenun beberapa  minggu lalu sebelum kedatangan kami dan ketika kami menemaninya menenun. Aku kira itu untuk dijual, tidak tahunya untuk kami.Selain itu juga alm Oppung menghadiahkan dodol-dodol yang sudah dipak dalam anyaman daun kelapa dan yang biasanya juga untuk dijual ke pasar.. Itulah alm Oppung ku yang baik hati dan kalau berbicara denganku dalam bahasa Batak Mandailing terdengar seperti sedang bernyanyi.. I MISS YOU GRANDMA..

Itulah sekelumit kisah yang bisa kuingat tentang perjalananku pulang kampung ke Sipirok , Tapsel setelah lulus SMA dan sambil menunggu keberangkatanku ke Jerman untuk studi. Perjalanan ini  pertamakali kulakukan sendiri, hanya bersama temanku Linda, orang Amerika dari San Fransisco.

Jakarta, 6 Oktober 2010

Sumber:  Sipirok.Net

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com


Sipirok, Kota Tenun dan Penghasil Dodol Posted on Category Wisata. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Bergabung Dengan 5,672 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. Pengalaman yang sangat indah memang sipirok itu terkenal dengan kota adat dan yang paling menonjol adalah toleransi antar sesama yang indah.
    dari tutur kata orang sipirok itu sangat sopan baik pada sesama mereka maupun bagi pendatang,
    semoga keramahan dan kekuatan adat sipirok itu abadi sepanjang masa, agar dapat dijadikan contoh bagi daerah lain yang akhir-akhir ini sering “berperang” dengan sesama hanya karena perbedaan keyakinan,
    Yang paling saya ingat adalah disipirok itu panggilan “ito” begitu melekat untuk saudara laki dan perempuan juga sebaliknya (saudara perempuan ke saudara laki-laki) juga panggilan ito berlaku jika dua orang berlainan jenis kelamin yang tidak saling kenal sebelumnya,
    Herannya pada saat ini banyak orang batak khususnya yang lahir diperantauan sudah jarang menggunakan kata ito sekalipun kepada saudaranya sendiri.
    saya sungguh salud kepada DR. Dharmayuwati Pane yang sudah melanglang buana ke manca negara tapi masih tidak melupakan adat batak.
    Tapi ada yang sangat memprihatinkan ketika saya pernah bertemu dengan orang batak tetapi tidak mau mengaku sebagai orang batak dengan alasan dia Islam, wahhhh keliru sekali ya ! untuk itu kalu bisa mohon kiranya DR. Dharmayuwati Pane membuat tulisan atau semacam karya tulis untuk meluruskan hal tersebut saya yakin dan percaya anda bisa dengan bekal ilmu pengalaman dan adat yang anda miliki.

    Terima kasih
    salam kenal

    Timbul M Simbolon
    email : mrs_simbolon@yahoo.co.id

Ada 1 Komentar untuk “Sipirok, Kota Tenun dan Penghasil Dodol” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.