Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Headline, Tabagsel » HUT 66 RI – 3 Nenek Kibarkan Sang Merah Putih Di Panti Titian Ridho Ilahi Tapsel

HUT 66 RI – 3 Nenek Kibarkan Sang Merah Putih Di Panti Titian Ridho Ilahi Tapsel

(FOTO Ist)

PENGIBAR BENDERA: Tiga nenek yang sudah berusia di atas 75 tahun menjadi pasukan pengibar bendera, pada peringatan HUT ke-66 Kemerdekaan RI, Rabu (17/8).

Usia bukan penghalang untuk menunjukkan jiwa nasionalis. Ini dibuktikan oleh tiga nenek yang tinggal di Panti Asuhan Titian Ridho Ilahi. Ketiganya sudah berusia di atas 75 tahun. Namun, mereka tetap energik mengibarkan sang merah putih, kemarin.

Upacara bendera memperingati HUT ke-66 Kemerdekaan RI di Kabupaten Tapanuli Selatan, tepatnya di Panti Asuhan Titian Ridho Ilahi, Huta Holbung, Kecamatan Batang Angkola, Rabu (17/8), terasa berbeda. Di sana, sang merah putih bukan dikibarkan oleh sejumlah anak muda seperti yang sering kita lihat di sekolah atau televisi, melainkan tiga nenek yang sudah berusia senja. Adalah Nurmala Harahap (87) yang bertugas sebagai pembawa bendera. Lalu, Nurindan Siregar (75) pendamping kanan dan Halimatussa’diah (78) sebagai pendamping kiri. Lebih mengagumkan lagi, ketiganya tetap menjalankan ibadah puasa. Dan, meski berpuasa ketiganya tetap semangat dan kompak saat melakukan jalan di tempat, gerak jalan, dan berbagai aturan baris-berbaris yang diajarkan Arifin Spd. Pendiri Panti Asuhan Titian Ridho Ilahi, ustadz Yusuf Amiril Soleh gelar Tuan Nalomok, bertindak sebagai inspektur upacara (irup).

Tuan Nalomok dalam sambutannya mengajak seluruh peserta upacara yang berjumlah sekitar 40 nenek, puluhan ibu-ibu majelis taklim dan puluhan anak-anak panti asuhan, untuk menghargai dan mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif. Sekaligus, mengenang para pahlawan yang rela mati demi merebut kemerdekaan. Irup juga mengajak peserta upacara untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini  dengan ‘La Ilaha Illallahu Allah Akbar’. “La Ilaha Illallahu Allah Akbar. Itu lah ucapan terakhir yang keluar dari mulut para pahlawan ketika darah mereka tumpah ke bumi menyuburkan tanah pusaka. Lalu, jiwa mereka terbang ke langit untuk mempertanggungjawabkan jihad dan perjuangan mereka di hadapan Allah SWT,” tegas Tuan Nalomok.

Ketiga nenek yang menjadi pasukan pengibar bendera itu, mengaku sangat senang bisa memberikan yang terbaik pada peringatan HUT kemerdekaan RI meski pun sudah memasuki usia senja. “Kami bisa mengenang masa lalu sebelum merdeka. Sebelumnya, kami samasekali belum pernah mengibarkan bendera. Rasanya, sungguh mengharukan,” ujar ketiganya sambil tersenyum.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai lomba, mulai lari bawa kelereng, mengisi air ke ember, memakai bedak tebal-tebal. Sedangkan anak yatim mengisinya dengan lomba memasang sorban, mencari telur dalam kolam, dan lainnya. Acara ini juga dirangkai dengan Peringatan Nuzulul Qur’n ke-1.445 (neo)

Belasan Peserta Upacara Pingsan
Belasan peserta upacara peringatan HUT ke-66 Kemerdekaan RI jatuh pingsan. Bahkan, beberapa peserta dievakuasi ke mobil ambulans dan dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapat pertolongan. Pemandangan ini terlihat saat upacara di lapangan terminal Aek Godang, Madina dan lapangan Merdeka, Gunung Tua.

Bupati Madina Hidayat Batubara selaku pembina upacara didampingi seluruh pimpinan SKPD bersama muspida plus hadir di lapangan sekitar pukul 09.40 WIB, atau jelang detik-detik pembacaan proklamasi. Pembacaan teks proklamasi dibacakan Ketua DPRD Madina AS Imran Khaitami Daulay.

Selama upacara berlangsung ada beberapa siswa yang jatuh pingsan. Dua orang di antaranya sempat dirawat di RSU Panyabungan untuk beristirahat. Pantauan METRO di lapangan, sejak upacara dimulai, para peserta yang sebagian besar menunaikan ibadah puasa terlihat kepanasan karena matahari bersinar begitu terik. Mereka yang jatuh pingsan diduga karena tidak tahan dengan situasi tersebut. Dan, yang lebih menarik, ratusan peserta upacara memilih mengikuti upacara dengan duduk sembari menggunakan payung di barisan masing-masing.

“Bagaimana lah pak? Daripada kami pingsan seperti siswa itu lebih baik kami tetap ikuti upacara meski dengan duduk,” sebut seorang PNS yang ikut upacara. Sementara itu di Paluta, sedikitnya sepuluh PNS, siswa SMP dan SMA juga jatuh pingsan saat mengikuti upacara bendera  Lapangan Merdeka, Lingkungan II, Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Rabu (17/8).

Sejak upacara dimulai, satu atau dua orang bergiliran dipandu meninggalkan lapangan menuju tempat yang disediakan panitia. Di sana, mereka mendapatkan bantuan dari tim medis Dinas Kesehatan Paluta untuk menjalani perawatan dan diminta beristirahat.

Salah seorang PNS yang lemas dan nyaris pingsan ketika ditemui di belakang lapangan, mengaku mengikuti upacara karena kemauannya sendiri meski tetap berpuasa.  “Ini kan kewajiban saya sebagai abdi negara. Saya tidak tahu kenapa saya lemas dan nyaris pingsan. Padahal sahur tadi banyak makan dan minum,” ungkapnya. Begitu juga dengan beberapa siswa ditemui, mengaku tidak tahan berdiri akibat kepanasan, namun mereka tetap berpuasa. “Masih tahan kok berpuasa,” ucap mereka..(wan/thg)

Sumber: metrosiantar.com

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan[at]gmail.com


HUT 66 RI – 3 Nenek Kibarkan Sang Merah Putih Di Panti Titian Ridho Ilahi Tapsel Posted on Category Headline, Tabagsel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Belum Ada Komentar untuk “HUT 66 RI – 3 Nenek Kibarkan Sang Merah Putih Di Panti Titian Ridho Ilahi Tapsel” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.