Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Kolom » Walikota Medan Dan Bupati Paluta Diduga Bangun Dinasti Koruptor Di Padangsidimpuan

Walikota Medan Dan Bupati Paluta Diduga Bangun Dinasti Koruptor Di Padangsidimpuan

Oleh : Achmad Ryzach Morniff Hutasuhut *)

Illustrasi

Padangsidimpuan, Kasus korupsi Walikota Medan Rahudman Harahap dan Bupati Paluta Bahrum Harahap sewaktu mereka berdua jadi Sekda dan Ketua DPRD Tapsel yang penyidikannya oleh Kejati Sumut bertele-tele hingga kini, mungkin dianggap sudah hilang dari benak masyarakat di Kabupaten Tapsel dan Kota Padangsidimpuan (Psp) yang banyak mengidap penyakit amnesia sejarah. Buntutnya kedua pejabat birokrasi ini tanpa sedikitpun rasa malu terlihat seolah mau mewariskan reputasi buruk birokrasi benalu drakula vampir pengisap APBD kepada keturunannya dengan mendukung mendanai kedua anak kandung mereka ikut Pilkada Kota Psp.

Anak Walikota Medan Rahudman si Dedy yang karir terakhirnya cuma Sekcam di Pemko Medan dan anak Bupati Paluta Bahrum si Andar yang jabatan terakhirnya cuma Kabag Mutasi di Pemkab Paluta, tampil maju menjadi calon Walikota Psp. Dibanding cawalkot lain-lainnya, kedua anak Rahudman dan Bahrum terlihat paling heboh pamer baliho raksasa di hampir setiap sudut Kota Psp, serta sangat royal tabur sedekah sembako ke kalangan masyarakat awam.

Bagi banyak kalangan pengamat, situasi ini memunculkan gunungan gunjingan bahkan komentar sinis. Dasar tudingan kalangan pengamat terutama menyoroti latar belakang finansial mantan Sekcam Dedy Harahap dan Kabag Mutasi Andar Harahap. “Darimana asal timbunan harta kedua Cawalkot si Dedy dan si Andar untuk mampu membiayai atribut kampanye, tabur ribuan bungkus sembako, honor barisan pelacur politik puluhan tim sukses, bayar “perahu” parpol, belum lagi `serangan fajar` nanti yang diperkirakan bisa mencapai puluhan milyar kalau bukan duit panas bapak mereka?”, demikian pertanyaan yang banyak beredar di kedai-kedai kopi di Kota Psp.

Umumnya masyarakat tidak mempercayai mantan Sekcam Dedy Harahap dan mantan Kabag Andar Harahap dari pekerjaan dan penghasilan makan gaji jabatan dan karir mereka yang masih seumur jagung bisa mengumpul harta puluhan milyar yang lantas dihambur untuk membayar segala biaya cawalkot Psp. Publik di Kota Psp banyak mencurigai para Cawalkot Dedy Harahap dan Andar Harahap cuma boneka wayang yang didalangi ambisi kemaruk orangtua mereka yang punya jabatan basah Walkot Medan dan Bupati Paluta.

Situasi ini makin menarik jika dikaitkan dengan kehebohan runtunan aksi demo beberapa bulan belakangan ini di Kejatisu yang terkesan silih berganti, antara aksi demo elemen mahasiswa dan masyarakat menuntut kasus korupsi Rahudman Harahap diselingi  dengan aksi demo menghujat gunungan korupsi Bahrum Harahap. Yang keduanya dituding pernah merajalela jadi parasit menggerogoti dan menyedot APBD Tapsel periode lalu. Yang publikasinya hingga kii masih lengket di sejumlah website/situs media elektronik. Membuat masyarakat menduga persaingan Rahudman dengan Bahrum dalam mendukung anak masing-masing, sudah merembet ke taktik saling buka borok kudis kasus kejahatan korupsi mereka masing-masing.

Dimana rincian detil kasus-kasus korupsi Rahudman dan Bahrum mudah didapat bagi kalangan yang sedikit terpelajar dengan browsing guna membaca laporan audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) di internet.

Tak heran, sasaran kampanye Dedy Harahap dan Andar Harahap hampir seluruhnya disasarkan ke kalangan masyarakat awam jelata gurem di daerah pemukiman kumuh dan pelosok pedesaan, yang mungkin akibat selama ini sibuk cari-nafkah sesuap nasi sehingga tak sempat lagi belajar tahu riwayat dan latar belakang kedua cawalkot Psp ini. Sementara gerombolan pers bere-bere yang baru kemarin melek politik, latah memberitakan pameran kebaikan dan kemurahan hati keduanya menabur harta yang entah dari mana sumber asalnya, tak jelas haram atau halal.

Trend nasional yang ditampilkan sejumlah Pilkada di Indonesia seperti Banten, Kalimantan, Sulawesi menunjukkan banyak Kepala daerah yang coba bangun dinasti politik dengan mengkatrol sanak keluarga ikut suksesi untuk jadi penguasa pengganti, di wilayah Tabagsel nampaknya lebih parah. Para pejabat yang sejak lama dari dulu diributkan mengkorupsi APBD di daerahnya, kini terang-terangan mendongkel sanak keluarganya untuk jadi penguasa baru.

Kalau sudah begini perkembangan aktual gaya politik penguasa lokal, apalagi istilah pas selain membangun dinasti koruptor?

*) Penulis :
Achmad Ryzach Morniff Hutasuhut
Pengamat sospol dan pemerintahan
3 dasawarsa di Tabagsel.

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan[at]gmail.com
Walikota Medan Dan Bupati Paluta Diduga Bangun Dinasti Koruptor Di Padangsidimpuan Posted on Category Kolom. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Bergabung Dengan 5,414 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. Lho… Apa Abang G tau bahwa Tapanuli Bagian Selatan ini bukanlah daerah koroep..
    Buktinya begitu luas bumi Tabagsel… Hanya sedikit sekali yang terpidana kasus korupsi…

  2. Tabagsel bukanlah daerah korup? Usahlah debat-kusir. Kalau anda pakai topeng pola fikir formalistik legalistik sebelum ada terpidana maka tidak ada korupsi, ya memang. Tapi coba kaji dari aspek fakta-fakta riel, salah satunya kondisi infrastruktur jalan di Tabagsel. Kumpulkan Buku APBD 15 tahun terakhir mulai dari Tapsel (lama) s/d Tabagsel kini, simak daftar proyek-proyek PU berapa duit negara dan daerah yang sudah dihabiskan. Mestinya mengacu total anggaran proyek-proyek tsb, hampir seluruh infrastruktur jalan kabupaten, kecamatan dan desa harusnya sudah mulus. Nyatanya?

  3. satu kelemahan orang tapsel adalah TIDAK MAU MENERIMA MODERNISASI alias kolot, sehingga dana untuk pemindahan ibukota tapsel aja harus butuh uluran tangan dermawan dari luar tapsel. jangan salahkan bupati atau plt gupsu sekarang, bercerminlah kepada kab2 lainnya seperti kab. simalungun siantar .

  4. Saudara2ku sebangsa setanah air,Slmt menunaikan Ibadah Puasa.
    Jgnlah terlalu cepat beranggapan negatif kpd setiap orang yg akan berbuat baik kpd org lain……korupsi di negeri ini memang sdh menyatu dlm jiwa tp hanya Tuhan Yg Maha kuasa pasti mengetahui segalanya. Masy Tabagsel tdk akan berkembang manakala sistem kekerabatan/dinasty dihapuskan krn yg mendukung satu Marga adalah Marganya sendiri n kru-kru lainnya,,,,,,,,,,,BERTOBATLAH SBLM AJAL MENJEMPUT/////

  5. mursuk marsak rittik kamu mamikirkon ni sude … na tar songoni ma torus i , jago rittik da mambahas politik.
    hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  6. Sebagai anak bangsa sah-sah saja untuk berkomentar asal tidak sampai menghakimi/memvonis ini itu ….. bicara dengan fakta tentu lebih meyakinkan orang.

  7. walikota medan ingin membangun dinasty kepemimpinan ditabagsel,ini harus dilawan dgn cara tdk memilih anaknya yg ingin coba2 menjadi ikut mencalonkan walikota padangsidimpuan ,

  8. rahudman adalah koruptor kelas KAKAP

  9. Wahhhh…. bahaya, perlu di waspadai tuch,

  10. mari sama2 kita suarakan kepada saudara kita dikampung…..biar tidak memilih anak rahudman…maupun anak bahrum…..kita sdh lihat orangtuanya pun jadi kepala daerah tidak amanah….tegakkan kebenaran…..pilihlah yang masih punya track record bagus……

  11. No 4 calon walikota sidempuan,terima duitna unang pilih ibana,dakdanak dope i

  12. masih segelintir pemilih cerdas di pasid……..tdk seperti di jkt, sudah banyak pemilih pintar nya, yg sangat ingin terjadi nya perubahan di daerah nya ! kadang saya pikir2 ada benar nya juga bait dari raja dangdut kita, haji roma irama…….. Yg kaya makin kaya dan yg miskin makin miskin dan makin terpuruk……yaa kita lihat sajalah……..5 tahun kedepan…..oke……horas,,,,,,!!!!!!

  13. Sebentar lagi masuk ini kayaknya, he..he…apalagi mau habis masa jabatannya Bupati Paluta… sama dengan Walikota Medan, tinggal menunggu Kajati Baru yang berani wk…wk… kalau tidak salah… Ijin Pemeriksaan dari kajati masih di Sekneg, sampai kapan bisa menahan surat tsb. ayo bang Hutasuhut ..mainkan terus pengawasan Korupsi di kampung kita, biar pada rakyat tidak susah, jalan bagus, DI PALUTA ada pembangunanlah, ini tidak benar… tanah rakyat mau gratis untuk pelebaran jalan di paluta, emang Negara Miskin, sampai-2 tanah rakyat di rampas,/diambil. emangnya Warga Paluta udah Kaya ?. ini pasti krn terpaksa. jamgan rakyat ditekan tapi kalau bisa di bantu, saya kasian dengar dari dampung/ makanya saya belain kampung saya, dari Batang Baruhar, Saya Siap Menggugat Ke Pengadilan/ Melaporkan Hal ini ke Aparat Hukum. terakhir di stop, dia ancam mau bawa Polisi utk menukut-2 ti..tidak berhasil dibebaskan kemarin. Kasian Sigama dan Portibi ktnya , tidak ada ganti rugi. PEMKAB PALUTA EMANG PARAHHH.. Andar PALUTA kalau tidak salah uangnya dari calo PNS, sy dapat info dari kawan namanya Parlin salah satu pelaksana Pihak Ke 3 utk CPNS, di Paluta, banyak dia dapat.Uang, ini juga belum mencuat aja… untuk itu lawan Korupsi; Achmad Ryzach Morniff Hutasuhut…

  14. Botul, pilih hamu mada peminpin na lain, nadong saotik pe hu lala raso ni pambangunan ni hitaan. Manetek ilu niba mangaligi hangoluan ni masyarakati mida mulak iba tu huta. Marpulu taon leng songoni. Malahan lahan ni halak hutai, halak naasing doma manguasaina sannari. Sodong na paduli. Napiga taon nai, arokku jadi budak doma koum sisolkottai sude di hutattaan. Ibo mada roha. Masyarakat Paluta, sadarma hamu copat. Ulang gedehon hamu masa depan munu dohot parsigaret 50 ribu. Nasodong be langa jolma na lain di luat Padang Lawasan salain ni koum sisolkot ni pejabat-pejabat na sannarion. Paitte hamu dua ari nai digadis halai hutamunui tu halak, tudia dope hamu kehe?

  15. kesadaran berpolitik masyarakat dikampung kita memang sangat rendah, apabila ditambah dengan kelakuan para calon sangat luar biasa membuat masyarakat terbuai, iming2 uang 100rb sd 200rb, sembako dllsbg. tapi Ingat sodara, mereka jadi pejabat habis 70 milyar, itu pake duit dan bukan pake daun. besok lusa tentu 70 milyar itu akan minta dikembalikan berikut keuntungannya. yg jd pertanyaan: “dan darimana sumbernya modal dan keuntungannya bisa dikembalikan?? apalagi mereka dan bapak2nya hanya jongos negara, makan gaji. kalo mereka pengusaha mungkin bisa dipercaya. ingat “mereka itu adalah jongos negara” namanya jongos pasti ga akan punya uang sebanyak itu, kalo tdk dg cara2 yg menjijikkan dimata Allah dan dimata manusia. jadi sebelum di akhirat mereka akan masuk neraka, diduniapun sudah akan disiksa lebih dahulu. jadi Taringotna suruma sude marmitingan tu aekani, so nayang butuha nialai.

  16. Ha .. ha ha semua komentar itu hanya disikapi sebagai lelucon bagi mereka buktinya kedua bisa ikut jadi Calon Walikota dan mereka pula yang menduduki rangkin 1 dan 2.. ??? Saudara2 para komentator kita mau bilang apa..Seorang calon kepala daerah padasaat masih mencalon sudah menganggap bahwa KADA itu adalah kekuasaan.. masih juga dipilih rakyat…. Seyogyanya Kepala Daerah itu adalah PELAYAN yaitu Pelayan masyarakat kalau KADA memposisikan dirinya sebagai penguasa maka akan terjadi kepemimpinan yang tdak PRO RAKYAT

16 Komentar untuk “Walikota Medan Dan Bupati Paluta Diduga Bangun Dinasti Koruptor Di Padangsidimpuan” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.