Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Tabagsel » Dikonversi Besar-besaran Jadi Kebun Sawit – Lahan Hutan di Paluta Semakin Sempit

Dikonversi Besar-besaran Jadi Kebun Sawit – Lahan Hutan di Paluta Semakin Sempit

Foto: Antri Bibit Gratis Warga dan undangan mengantri saat pembagian bibit pohon secara gratis di Hotel Mitra Indah, Gunung Tua, Senin (24/9). Sebanyak 3.000 bibit pohon, ditanam dan dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat Paluta sebagai gerakan rehabilitasi lahan tersisa di Paluta.(medanbisnis/ist)

Gunung Tua. Konversi hutan menjadi lahan perkebunan sawit dan karet, yang terjadi secara besar-besaran oleh beberapa perusahaan kebun di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), membuat lahan masyarakat semakin sempit. Bahkan, kini masyarakat Paluta banyak yang tidak lagi bertani, melainkan berkebun sawit dan karet.

Hal itu mengemuka pada seminar bertajuk “Dampak Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet Membuat Habisnya Hutan Alam”, yang digelar Perkumpulan Hijau Sumatera (PHS) bekerjasama dengan Kantor Pusat Pengelolaan Ecoregion (PPE) Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Forum Relawan Paluta, di Hotel Mitra Indah, Gunung Tua, Paluta, Senin (24/9). Acara yang juga dirangkai dengan kegiatan penanaman sebanyak 3.000 bibit pohon ini dihadiri 200-an masyarakat Paluta,

Dogong Siregar, warga Desa Sigama, Kecamatan Padang Bolak, Paluta, mengatakan, banyak masyarakat di daerahnya yang tidak lagi bersawah karena trauma serangan hama setiap menjelang panen.

“Banyak yang sudah beralih ke sawit dan karet. Hutan banyak ditebang, sehingga hama menyerang persawahan kita,” ujarnya.

Sebenarnya, dia mengatakan,  keinginan mayarakat untuk memiliki lahan produktif cukup besar. Tapi masalahnya, masyarakat selalu terbentur legalitas. “Jika kami ingin membuka lahan, kami harus mendapat izin dari pemerintah,” papar Dogong.

A. Hasibuan, warga Desa Ujung Batu, Kecamatan Simangambat, Paluta, mengatakan, masuknya beberapa perusahaan kebun sawit telah berdampak buruk pada masyarakat sekitar. “Debit air sungai yang berada di sekitar perusahaan turun dan keruh. Ini praktis tidak bisa lagi digunakan untuk kebutuhan warga,” tandasnya.

Komitmen penghijauan sebenarnya sudah dibangun antara masyarakat dan perusahaan, tapi sampai sekarang belum berjalan. ”Perjanjian mewajibkan perusahaan menanam pohon di sungai di sekitarnya, tapi perusahaan belum ada yang melakukannya,” katanya.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Paluta, Abu Thohir Harahap, mengungkapkan, banyak perkebunan saat ini berada di kawasan hutan lindung. Karenanya, untuk menjaga ekosistem lingkungan, pihaknya tahun ini telah melakukan penghijaun di Paluta dengan menanam pohon, yakni 2.500 bibit rembesi dan 2.500 bibit glodokan.

“Tapi masalahnya, ternak kambing memakannya. Kalau hidup 50 persen saja, saya sangat bersyukur,” ujarnya.

Di tengah gencarnya masuknya perusahaan-perusahaan sawit, masyarakat hanya memiliki harapan agar pemerintah bisa memberikan lahan yang berada di hutan yang dilindungi untuk dikelola masyarakat. Kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara, Kusnadi, masyarakat bisa mengusulkan kepada pemerintah karena memiliki payung hukumnya,
Menurutnya, dalam UU Kehutanan No. 41/1999 pasal 8 ayat (1) dijelaskan bahwa pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu untuk tujuan khusus.

Dalam pasal 34 dijelaskan bahwa pengelolaan kawasan hutan untuk tujuan khusus dapat diberikan kepada masyarakat hukum adat, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, dan lembaga sosial dan keagamaan.

“Di sini terlihat secara jelas bahwa pengelolaan kawasan dengan tujuan khusus dapat diberikan kepada masyarakat hukum adat,” tegasnya. Hal itu juga dipertegas dalam PP)No. 6/2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan.

Tapi di sisi lain, Kusnadi berharap agar masyarakat tidak gegabah atau secara pihak mengambil lahan hutan. Menurutnya, SK No. 44/Menhut-II/05 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi yang dikeluarkan Menteri Kehutanan bahwa Propinsi Sumatera Utara memiliki luas hutan sekitar 3.742.120,00 ha, menjadi biang dari konflik yang kerap terjadi di Sumatera Utara.

Mewakili Kantor PPE Sumatera, Yulianti mengatakan bahwa PPE siap membantu pemerintah daerah dalam melakukan audit guna menghindari perdebatan yang tidak berkeselesaian.

Usai seminar, dilakukan aksi penanaman 1.000 pohon secara simbolis di sekitar lokasi kegiatan. Dan sebanyak 2.000 bibit dibagikan gratis  kepada 200-an undangan yang datang dari berbagai kecamatan di Paluta. Kegiatan merupakan bagian dari rangkaian  aksi tanam 12.000 pohon, yang juga akan dilakukan di Madina, Tapsel, Serdang Bedagai, dan Medan.(nurhalim/rel)

Sumber: MedanBisnis –

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com


Dikonversi Besar-besaran Jadi Kebun Sawit – Lahan Hutan di Paluta Semakin Sempit Posted on Category Tabagsel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Belum Ada Komentar untuk “Dikonversi Besar-besaran Jadi Kebun Sawit – Lahan Hutan di Paluta Semakin Sempit” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.