Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Kolom » Reklame Cagubsu Merusak Estetika Kota Medan

Reklame Cagubsu Merusak Estetika Kota Medan


Oleh: Sagita Purnomo *)

Dalam beberapa bulan lagi, atau tepatnya pada bulan Maret 2013 mendatang kita masyarakat Sumatera Utara (Sumut) akan melaksanakan pesta demokrasi untuk memilih dan menentukan orang No.1 di Sumut ini. Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumut telah merilis dan mengumumkan secara resmi ke-5 pasangan yang akan maju dan bersaing dalam Pilkada (Pemilihan kepala daerah) Sumut.
Secara resmi KPUD Sumut telah mengumumkan nomor urut para peserta yang akan bersaing untuk memperebutkan posisi kursi tertinggi di Sumut yaitu: nomor urut 1 pasangan Gus Irawan Pasaribu – Soekirman, No. 2 pasangan Effendi Simbolon – Djumiran Abdi, No. 3 pasangan Chairuman Harahap – Fadly Nurzal, No. 4 H. Amri Tambunan – RE Nainggolan dan No. 5 Gatot Pujo Nugroho – Tengku Erry Nuradi.

Para peserta Pilkada-pun langsung pasang strategi untuk menarik simpati, dan memperkenalkan diri mereka pada masyarakat Sumut dengan berbagai cara. Salah satunya yang paling umum ialah dengan memampangkan wajah mereka dengan menggunakan papan berukuran raksasa, spanduk, baliho, banner, dan selebaran selebaran di lokasi-lokasi strategis yang mudah dilihat mata di berbagai penjuru kota Medan. selain itu reklame berjalan pun semakin banyak terlihat salah satunya adalah terpal bergambar wajah calon gubenur dan wakil gubenur (Cagub/wagub) yang dipasang di Becak.

Sebagai kaum terpelajar seyogianya mereka (Cagub/wagub) pastinya mengerti dan paham akan cara pendekatan efektif kepada masyarakat dengan cara yang sehat dan tidak menyalahi aturan. Pasalnya reklame wajah mereka yang terpapang di hampir seluruh wilayah kota Medan ini terkesan semerawut dan banyak yang menyalahi aturan, hal ini tentu saja berimbas pada rusaknya nilai-nilai estetika kota.

Sembarangan

Sebelumnya penulis pernah membuat opini yang mengangkat tema mengenai kesemerawutan reklame di kota Medan dengan judul “Ini Medan Bung! (Bukan) Hutan Reklame”. Oleh karena itu disini penulis tidak akan terlalu ditail membahas tentang reklame. Ditulisan itu penulis menjelaskan mengenai tempat tempat yang menjadi zona terlarang untuk didirikan reklame seperti : reklame tidak boleh dipasang dekat tempat ibadah, di trotoar, dekat sekolah, di dekat kantor-kantor pemerintahan, tidak menutupi pohon yang indah, dan tidak menutupi bangunan tua. Namun Reklame dapat berdiri dengan kokohnya kapan saja dan dimana saja terutama reklame Cagub/wagub.

Mungkin kita sudah tahu sama tahu bahwasanya reklame Cagub/wagub baik itu yang berbentuk selebaran, poster, spanduk, dan lain-lain. Dapat dengan mudahnya berdiri diberbagai tempat di kota ini termasuk di tempat tempat yang tidak semestinya, hal ini mengganjal pandangan mata, kesan semerawut serta berantakan-pun mulai muncul, keadaan ini lantas berimbas pada rusaknya estetika kota Medan yang baru saja memenangkan piala Adipura.

Hampir disetiap sudut, setiap jalan, disetiap tempat. Mulai dari tengah kota, daerah pelosok, jalan besar, dan di jalan tikus-pun yang berada di kota ini kita dapat menjumpai reklame Cagub/Wagub. Timbul dibenak penulis apakah reklame tersebut Poster dan umbul-umbul memiliki Izin? Disinilah persoalan yang sesungguhnya. Seharusnya ada penataan konsep peletakan reklame para Cagub/wagub yang ingin memampangkan wajahnya, jangan diletak sembarangan dan merusak estetika kota ini.

Menurut Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Medan Surya Adinata mengatakan, Dinas Pertamanan Kota Medan seharusnya langsung menertibkan papan reklame secara menyeluruh. Sebab, tidak ada yang memberikan kontribusi untuk pemerintah kota dan merusak estetika kota. “Tidak ada alasan untuk tidak menertibkannya. Mereka termasuk iklan komersial memperkenalkan untuk menarik minat masyarakat.Apalagi tidak bayar retribusi,” tegasnya.

Dia menyayangkan, tidak ada pasangan calon maupun tim sukses yang membayar retribusi ketika memasang papan reklame. Padahal spanduknya bertuliskan jujur dan bersih, anti-korupsi. Dia berharap hal ini menjadi pertimbangan masyarakat dalam menentukan pilihan. “Bagaimana masyarakat mau memilih, retribusi saja tidak bayar. Hal sekecil itu saja lalai, apalagi yang besar. Tidak mungkin tidak ada dananya,” pungkasnya (sindonews.com)

Pamer Muka

Secara pribadi penulis merasa heran terhadap strategi para Cagub/Wagub kita yang memilih media reklame sebagai ajang perkenalan diri dan penghubung dengan masyarakat. Penulis merasa mereka terlalu kePD-an dengan yakinnya memampang foto wajah dengan senyum manisnya, dengan berbagai selogan yang cukup nyentrik dan istilah-istilah unik. Seakan-akan mereka tengah berlomba untuk memamerkan wajahnya dengan media reklame dengan ukuran yang berfariasi mulai dari ukuran raksasa, sampai dengan ukuran kertas-kertas selebaran yang pada ujungnya malah menjadi sampah yang mengotori kota.

Selain itu pendekatan dengan sarana reklame ini juga dapat merendahkan sekaligus menjatuhkan martabat si yang berkepentingan. Pasalnya penulis sering kali menjumpai spanduk dan poster wajah Cagub/Wagub yang diikat di tiang listrik dan dipepohonan malah terjatuh kedalam parit atau selokan, dan terjatuh kejalan yang selanjutnya terpijak atau terlindas oleh kendaraan yang melintas, bahkan ada yang berada di tempat sampah. Jujur saja jika foto wajah penulis yang berada dalam keadaan seperti itu penulis pastinya akan sangat tersinggung dan merasa terhina.

Menurut hemat penulis, mode pendekatan seperti ini sudah sangat ketinggalan zaman atau terkesan Jadul. Kalau untuk menarik perhatian masyarakat cobalah lakukan pendekatan personal secara langsung kepada masyarakat. pendekatan personal secara langsung ini lebih terbukti manjur untuk menarik hati dan simpati masyarakat.

Sentralisasi

Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Jangan biarkan estetika kota rusak dikarenakan kepentingan para Cagub/Wagub. Pemerintah baik itu Provinsi maupun Kota, harusnya melakukan sentralisasi atau pemusatan terhadap peletakan reklame, spanduk, umbul-umbul, dan lain-lain pada satu kawasan saja, misalnya di alun-alun kota saja. sebagai contoh di kota Medan, reklame Cagub/Wagub hanya boleh di pasang/di letakan di lapangan Benteng saja di tempat dan lokasi lain tidak boleh di pasang.

Dengan begitu Keberadaan reklame ini akan berpusat pada satu titik saja di tempat yang paling strategis, dengan begini kondisi tata letak reklame di kota Medan yang semerawut ini tidak menjadi semakin parah, dan estetika kota pun dapat terjaga. Sekarang ini zaman sudah serba canggih, kenapa tidak memperkenalkan diri dengan menggunakan cara modren pula?. Misalnya dengan memasang iklan di internet, dan menggunakan jejaring sosial, sebagai perantara pendekatan dengan masyarakat. Toh sekarang ini masyarakat sudah lebih melek teknologi dan sudah akrab dengan internet, ini merupakan satu solusi yang sangat patut untuk dicoba.

Selain itu juga kampanye ataupun pendekatan diri para Cagub/Wagub dapat pula dilakukan melalui berbagai media, baik itu menggunakan media, baik itu melalui media cetak (Koran, majalah, tabloit), dan media elektronik (TV, radio) dimana cara ini lebih tepat sasaran dan efektif, daripada mode reklame dipinggir jalan. Memang cara ini memerlukan biaya yang lebih mahal, tapi justru lebih ramah lingkungan dan tidak merusak estetika kota, ini juga merupakan langkah bijak yang harus diambil oleh orang yang akan menjadi pemimpin di Sumut.

Untuk para Cagub/Wagub tunjukan-lah bahwasanya diri kalian itu pantas untuk memimpin dan membawa Sumut kearah yang lebih baik, bentuklah karakter, tunjukkan kebijaksanaan, berprilaku baik, dan tunjukkan sifat kesederhanaan. Jangan sampai karena kepentingan kalian semata, keindahan kota Medan menjadi taruhan. Kami masyarakat Sumut pada umumnya dan masyarakat kota Medan khususnya sudah lebih bijak dan pandai dalam memilih, trik-trik murahan sudah tidak mempan pada kami, jadi berhati-hatilah.*** – (analisadaily.com)

*) Penulis adalah mahasiswa fakultas hukum UMSU.

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Reklame Cagubsu Merusak Estetika Kota Medan Posted on Category Kolom. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Belum Ada Komentar untuk “Reklame Cagubsu Merusak Estetika Kota Medan” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.