Apa Kabar Sidimpuan Online

Want to contribute?
Contact us! or Register
www.apakabarsidimpuan.com
Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com

Home » Headline, Tabagsel, Wisata » Ekspedisi Meraba Sipirok ke Kawasan Aek Bariba

Ekspedisi Meraba Sipirok ke Kawasan Aek Bariba

Oleh : Budi Hatees *)
Molo kehe hamu dongan tu luat Sipirok
mardalan ho tu Huta Baringin nang Parau Sorat
Ai ida on mu ma muse Pagaran Batu
kehe tu doloki, tu Batu Olang, tu Batu Olang

“Jika suatu saat kamu tiba di Sipirok/jalan kakilah ke kampung Baringin dan Parau Sorat, kamu akan melihat Pagaran Batu, terus ke bukit, di sana ada Batu Olang.”

Syair lagu itu ditulis Nahum Situmorang. Ia adalah pencipta lagu berbahasa Batak, kelahiran Parau Sorat, sebuah kelurahan di Kecamatan Sipirok, ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Lagu-lagu ciptaannya menjadi lagu berbahasa daerah yang hits sepanjang masa, seperti “Nasong Do Hita Na Dua”, “Lisoi”, “O Tano Batak”, “Si Boru Enggan”, dan lain sebagainya. Bahkan, “Nasonang Do Hita Nadua” menjadi lagu cinta berbahasa daerah yang paling universal, menjadi milik seluruh masyarakat dari lingkungan budaya mana saja.

Goenawan Mohamad, penyair yang orang Jawa, itu terinspirasi oleh lagu “Nasona Do Hita Nadua” dalam sebuah sajaknya. Saya lupa syair sajak itu, tapi kira-kira ia bercerita tentang orang yang berdua.

Syair lagu di bagian awal, saya kutif dari lagu berjudul “Si Boru Enggan”. Lagu itu saya putar pada handphone, mengalir ke telinga lewat headset, begitu angkot yang membawa kami dari Desa Padangbujur tiba di Parau Sorat. Pagi belum matang, remang oleh kabut di atas kepala, padahal sudah pukul 07.00 Wib. Udara dingin bagai bertahan di atas tanah.

Enam anggota rombongan turun dari angkot. Ardi Yunus Siregar, kepala rombongan sekaligus Ketua Panitia EMAS (Ekspedisi Meraba Sipirok) II, mengumpulkan seluruh anggota. Dia yang mengundang saya ikut dalam acara ini. Ini ekspedisi atau EMAS kedua, setelah ekspedisi EMAS pertama dilakukan pada Februari 2013 ke kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali. Ekspedisi EMAS II ini difokuskan ke kawasan Aek Bariba, sebuah destinasi pariwisata yang menawarkan objek-objek wisata tak kalah dengan potensi kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali maupun Cagar Alam Dolok Sipirok.

Penyelenggara ekspedisi EMAS ini adalah Pengurus Besar Ikatan Alumni Pelajar Kota Sipirok dan Sekitarnya (PB IKAPSI) yang sekretariatnya ada di Desa Padangbujur. PB IKAPSI merupakan organisasi masyarakat, dimotori para perantau asal Kota Sipirok dan sekitarnya, yang bervisi menggali potensi sumber daya alam Kota Sipirok untuk dimanfaatkan bagi sumber-sumber perekonomian masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Ekspedisi ke Aek Bariba ini untuk meneliti potensi wisata di kawasan ini supaya dikembangkan destinasi yang potensial di sana,” kata Ardi Yunus.

Sembari menunggu dua anggota rombongan, Parulian Pakpahan, dan seorang penunjuk jalan, Ahmad Pakpahan, Ardi Yunus mengingatkan rombongan untuk meneliti persiapan dan perbekalan. Parulian dan Ahmad adalah warga Kampung Panggulangan, Kelurahan Parau Sorat. Kampung mereka berada di kaki salah satu bukit di kawasan Aek Bariba, warga kampung inilah pemilik hak ulayat atas lahan di kawasan tersebut.

Dari penjelasan Parulian Pakpahan, yang juga tokoh masyarakat di Kampung Panggulangan, kawasan Aek Bariba memiliki semua hal yang didambakan para wisatawan: alam yang asri, gunung, lembah, air terjun, sungai deras, flora dan fauna, dan petualangan alam yang sukar dilupakan. Tapi, bagi masyarakat Kota Sipirok, terutama para muda-mudi atau biasa disebut naposo-nauli bulung, potensi Aek Bariba bukan hal yang luar biasa.

Ardi Yunus Siregar mengatakn, ada tradisi di lingkungan muda-mudi Kota Sipirok yang disebut martandang, yaitu pergi secara berombongan ke lokasi-lokasi yang dianggap memiliki keindahan luar biasa. Kawasan Aek Bariba salah satu lokasi yang sering didatangi muda-mudi dalam tradisi martandang.

“Yang mereka lakukan, hanya datang, dan menikmati pemandangan sambil bernyanyi. Biasanya mereka membawa bekal makanan. Sampai sekarang tradisi itu terus berlanjut,” kata Ardi.

Salah satu bukti dari tradisi itu terangkum dalam lagu-lagu ciptaan Nahum Situmorang. Dia menyebut salah satunya, “Si Boru Enggan”, ditulis Nahum setelah mendatangi kawasan Aek Bariba bersama muda-mudi asal kampungnya, Parau Sorat. Makanya, syair lagu itu bercerita tentang nama-nama tempat di sekitar kawasan Aek Bariba, meskipun pada intinya mengisahkan keterkaguman Nahum Situmorang terhadap kecantikan gadis yang disebut Si Boru Enggan.

Boru Enggan adalah sebutan lain untuk gadis bermarga Siregar, marga dominan masyarakat yang tinggal di Sipirok. Menurut Ardi Yunus Siregar, Sipirok pada awalnya merupakan daerah kekuasaan Raja Marga Siregar, Ompu Hatunggal, yang lokasi kerajaan ada di daerah Tambatan Gajah, di pinggir Aek (Sungai) Siguti, sekarang menjadi Desa Sibadoar.

Masyarakat bermarga Siregar adalah pembuka kampung atau disebut panusunan bulung, kemudian para pendatang muncul akibat terjadinya perkawinan, dan mereka diberi lahan oleh Ompu Hatunggal. Pemberian lahan bagian dari filsafat hidup masyarakat yang disebut Dalihan Na Tolu, yaitu kesatuan masyarakat yang terdiri dari tiga elemen: mora (pihak yang memberikan anak gadis), kahanggi (keluarga dari pihak yang memberikan anak gadis), dan anak boru (pihak yang mendapatkan anak gadis).

“Ketiga elemen ini tidak bisa dipisahkan, karena sebuah masyarakat harus disusun berdasarkan tiga elemen ini. Makanya, Ompu Hatunggal memberikan lahan kepada pihak yang mengambil anak gadisnya. Mereka bermarga Pane dan Hutasuhut, keduanya mendapat lahan dekat milik marga Siregar, masing-masing di Barat dan di Timur,” katanya.

Sejarah marga-marga di Kota Sipirok belum pernah diteliti secara konprehensif. Pengetahuan umum tentang sejarah marga-marga itu sebatas cerita dari mulut ke mulut, juga peninggalan sejarah berupa stambuk-stambuk marga. Dari stambuk-stambuk itu diketahui, ada tiga kerajaan besar di wilayah Sipirok, masing-masing memiliki wilayah kekuasaan: Bagas Nagodang, Baringin, dan Parau Sorat.

Kawasan Aek Bariba adalah wilayah kekuasaan Raja Parau Sorat. Kawasan ini berupa lima
bukit yang berbaris, dan tingginya membentuk tangga nada. Kelima puncak bukir itulah yang akan dikunjungi dalam ekspedisi ini, Paling tinggi adalah Puncak Karosi dari kata kursi. Disebut demikian, karena di puncak bukit itu ada tumpukan batu yang disusun-susun membentuk kursi. Konon, Raja Parau Sorat sering ke lokasi itu untuk menatap daerahnya, memastikan bahwa seluruh rakyatnya hidup dalam ketentraman.

*

Perjalanan rombongan ekspedisi dimulai dengan rute mengikuti syair lagi “Si Boru Enggan”. Dari Parau Sorat, kami memasuki daerah berbukit, Kampung Batu Olang. Kampung ini sejak awal dekade 1990-an ditinggalkan penghuninya. Enam rumah yang ada di sana, sudah kosong. Tapi, pemiliknya masih sering datang, terutama bila mereka sedang merawat lahan-lahan kebun kopi yang mereka budidayakan.

Kami hanya melintasi Kampung Batu Olang, lalu rombongan menakit lereng bukit pertama dari enam puncak bukit di kawasan Aek Bariba. Puncak bukit ini disebut Puncak Batu Olang, karena berdekatan dengan Kampung Batu Olang. Di lereng bukit itu, rombongan disambut hamparan anggrek tanah. Kontur tanah yang berupa tanah kapur berbatu cadas, membuat jenis tanaman yang tumbuh di lereng itu sangat terbatas.

Dominan senduduk, sejenis perdu, yang memiliki bunga warna merah jambu. Rimbun hutan senduduk sedang musim berbunga menjadi pemandangan yang menawan, di antaranya menyembul ragam bunga anggrek tanah yang dominan berwarna putih dan kuning.

Kami tak berlama-lama di lereng bukit, karena perjalanan baru mulai. Masih ada empat puncak bukit lagi yang harus ditaklukkan. Rute yang dibuat, ekspedisi ini akan berakhir di Puncak Sarogodung, ketinggian lebih 2.000 meter di atas permukaan laut. Tapi, saat rombongan tiba di Pucak Batu Olang, mau tidak mau rencana berubah.

Delapan anggota rombongan terpukau melihat pemandangan dari puncak bukit itu, menatap jauh ke kaki bukit berupa pemandangan Kota Sipirok. Rombongan mengabadikan pemandangan itu. Rumah-rumah penduduk terlihat sebesar kotak korek api, dikelilingi bentangan sawah yang luas dan disebut Saba Bolak. Sipirok termasuk salah satu sentra produksi gabah di Provinsi Sumatra Utara, penghasil beras kualitas super yang memiliki harga eksklusif, Si Latihan. Kualitasnya sekelas dengan beras Rojo Lele di Pulau Jawa.

Kota Sipirok sebuah kota kecil, terletak di lereng Dolok (Gunung) Sibualbuali, dikelilingi kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali di sebelah Barat, Cagar Alam Dolok Sipirok di sebelah Utara, dan kawasan Aek Bariba di sebelah Timur. Dengan posisi ini, Kota Sipirok pada dasarnya masuk ke dalam wilayah register sesuai data di Departemen Kehutanan dan BKSDA Sumatra Utara.

Itu sebabnya, sulit bagi masyarakat Kota Sipirok untuk mengurus izin hak milik atas tanah
mereka. Data di Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyebutkan, seluruh wilayah Kecamatan
Sipirok masuk dalam wilayah register, sehingga perlu ada izin dari Menteri Kehutanan untuk
melepas daerah itu keluar dari kawasan register.

Lantaran situasi ini, sulit bagi masyarakat Kota Sipirok untuk mengembang sektor-sektor
usaha, terutama dalam hal mencari pinjaman dana dari perbankan. Syarat agunan berupa
surat tanah dan bangunan yang diminta pihak bank tidak bisa dipenuhi masyarakat, sehingga
masyarakat kesulitan memperoleh modal kerja.

“Kehidupan ekonomi masyarakat Sipirok lebih banyak mengandalkan hasil tani, tanaman musiman, bukan tanaman keras. Pasalnya, masyarakat takut membudidayakan tanaman keras karena persoalan tanah yang merupakan kawasan register,” kata Ardi Yunus.

*

JAM menunjukkan angka 09.00 Wib ketika Puncak Batu Olang ditinggalkan. Kami menuruni punggung bukit, sebuah padang ilalang, dan hutan semak perdu. Sekali-sekali kami berhenti untuk memotret telur-telur burung yang tergeletak di tanah. Banyak telur yang diletakkan sembarang oleh induknya, tanpa ada tanda sarang. Kami terpaksa menancapkan kayu di samping telur-telur itu agar tak terinjak anggota rombongan.

Rombongan kemudian tiba di kawasan hutan bonsai, menjelang puncak bukit yang disebut Puncak Pilar. Kawasan ini memiliki kontur tanah berupa batu-batu cadas, yang membuat pertumbuhan akar tanaman menjadi terhambat. Masyarakat di sekitar menyebut kawasan ini sebagai hutan game-game, sejenis tanaman berdaun jarum yang mengeluarkan aroma harum. Di kawasan tanah yang subur, tanaman ini mirip Anturmangan (Casuarina sumatrana), sejenis pinus asli Sumatra, dan tumbuhan normal membentuk pohon. Tapi, di kawasan ini, kondisi pohon mengerdil dengan akar-akar yang menjuntai-juntai.

Dekat kawasan hutan bonsai ini ada pilar batu. Rombongan berfoto di pilar ini. Pilar berupa
batu yang tertanam di puncak bukit, membentuk sebatang tiang, dan dari tengah-tengah batu
itu tumbuh pohon beringin. Di sekitar pilar, menyebar berbagai jenis anggrek. Para
petualang biasa singgah di pilar ini. Parulian Pakpahan mengatakan pilar itu sudah ada sejak
dulu, dan ia menjadi tanda tempat singgah Raja Parau Sorat bila sedang berjalan-jalan ke
kawasan Aek Bariba.

Tak jauh dari pilar, mata air yang keluar dari sebuah batu besar. Air dari batu itu jernih dan
bisa diminum, membentuk telega seluas 8 x 8 meter. Tumbuhan air dan lumut memenuhi
permukaan telaga. Di sekitarnya, ada jejak kaki dan kubangan babi. Selain babi, telaga itu
menjadi sumber air minum bagi hewan-hewan yang ada di kawasan tersebut seperti tapir,
kancil, trenggiling, dan berbagai jenis burung.

Kami tak beruntung, tak satu pun hewan itu kami temui. Tapi, kami beruntung menemukan
sumber air ini. Konon, tak semua orang yang datang ke puncak ini akan menemukan sumber mata air ini. Sebab itu, kami menikmati kesegarannya, memenuhi kantong-kantong air yang sengaja kami bawa.

*

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Puncak Simuap Bujing. Puncak ini berada tepat di atas Kampung Panggulangan. Kata Simuap Bujing berarti “beraroma gadis”.

Nama puncak ini punya sejarah kelam. Dari cerita yang berkembang di lingkungan masyarakat Kampung Panggulangan, dulu, ada serombongan gadis yang pergi ke puncak bukit untuk mencari daun sikkut. Jenis daun ini biasa dipakai sebagai pembungkus, karena ukurannya yang lebar. Tapi, sejak mereka berangkat hingga hari ini, gadis-gadis itu tidak pernah pulang. Konon, rombongan para gadis ini “disesatkan” orang halus penghuni puncak bukit, sehingga apapun usaha masyarakat Kampung Panggulangan untuk mencari mereka, tidak kunjung berhasil.

“Dulu, masyarakat sering mendengar teriakan dan suara tawa perempuan di puncak bukit. Sejak itulah nama puncak bukit ini disebut Puncak Simuap Bujing,” kata Parulian Pakpahan.

Percaya atau tidak, kisah itu sedikit mempengaruhi kami. Memang tidak seorang pun yang bersikap. Saya pun tak terlalu mempersoalkannya, dan perjalanan terus dilakukan.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 Wib saat kami memasuki kawasan hutan belantara. Hutan ini merupakan kaki Puncak Simuap Bujing. Berbeda dengan puncak-puncak sebelumnya, Puncak Simuap Bujing ini berupa hutan belantara. Dua puncak terakhir, Puncak Karosi dan Puncak Sarogodung juga hutan belantara. Di sela-sela bukit-bukit ini mengalir Aek (Sungai) Bariba, mengelok sesuai lekuk bukit, lalu membentuk air terjun (curup) setinggi 150 meter di sekitar punggung Puncak Simuap Bujing.

Ardi Yunus Siregar mengusulkan rombongan akan beristirahat makan siang di sekitar air terjun Aek Bariba sambil menikmati udara sejuk di bawah guyur jatuhan air yang membentuk embun di sekitarnya. Rombongan setuju dan mempercepat langkah, dan akhirnya sampai di daerah air terjun sekitar setengah jam kemudian.

Rasa penat saat menanjak bukit-bukit, yang membuat betis seperti mau copot, segera terobati. Dingin air sungai, ditambah udara yang lembab karena air yang jatuh membentuk embun, membuat beberapa anggota rombongan membuka pakaian dan berendam. Lubuk selebar sekitar 12 meter x 10 meter dengan kedalaman sekitar 1 sampai 3 meter itu seperti kolam renang yang tak akan pernah ditolak siapa pun untuk berenang di dalamnya.

Aek Bariba mengalir ke ilir, melintasi desa-desa yang merupakan daerah pesawahan seperti Desa Marasada. Air sungai ini menjadi sumber pengairan lahan pesawahan warga, kemudian bertemu dengan Aek (Sungai) Mandurana.

Selesai mandi, rombongan mendirikan sholat Zuhur. Merentangkan sajadah berupa daun-daun di atas permukaan batu-batu besar di sungai, kemudian dilanjutkan dengan acara makan siang. Namun, udara dingin di sekitar ternyata membawa pengaruh buruk bagi Ardi Yunus Siregar. Sakit giginya kambuh, membuat kondisinya kurang fit. Sebab itu, ia mengusulkan agar rombongan dipimpin oleh Parulian Pakpahan. Tapi, Parulian Pakpahan kemudian memberi alternative, karena tempat yang ingin kami kunjungi berada di dua jalur berbeda.

Puncak Simuap Bujing dan Puncak Karosi berada pada satu jalur, sedangkan Puncak Sarogodung di jalur yang berseberangan. Sebab itu, kami harus memilih apakah akan ke Puncak Simuap Bujing atau Puncak Sarogodung. Parulian Pakpahan memberikan gambaran, untuk mencapai Puncak Simuap Bujing dan Puncak Karosi mereka butuh waktu lebih lama. Jika ditempuh, rombongan akan pulang kemalaman dari dalam hutan. Karena persiapan untuk berjalan malam tidak ada, dikhawatirkan rombongan akan tersesat.

Tapi, kalau hendak mencapai Puncak Sarogodung, rombongan bisa menempuhnya selama satu jam perjalanan dan tidak akan kemalaman. Rombongan akhirnya mengambil alternative kedua, focus menuju Puncak Sarogodung. Keputusan itu semakin kuat ketika Parulian Pakpahan sendiri mengatakan dia dan sebagian besar penduduk Kampung Panggulangan masih memiliki kekhawatiran kalau harus mencapai Puncak Simuap Bujing.

Cerita tentang para gadis yang hilang di puncak bukit itu bagi masyarakat Kampung Panggulangan bukan sebuah dongeng, tapi dipercaya sebagai kenyataan. Ada semacam kutukan buat masyarakat Kampung Panggulangan kalau datang ke Puncak Simuap Bujing, mereka akan mengikuti jejak gadis-gadis yang hilang tersebut.

*

Waktu setengah jam yang diperkirakan untuk mencapai Puncak Sarogodung, ternyata melesat. Lebih satu jam, rombongan tertatih-tatih menakik jalan terjal dengan kemiring 60 derajat menuju Puncak Sarogodung. Medan yang dilewati berupa dinding batu, berpegangan pada akar-akar pohon yang menjuntai, dan ekstra hati-hati karena batu-batu ditumbuhi lumut yang licin.

Dua anggota rombongan, Ichlas dan Arief, sempat terkapar. Keduanya menderita naik betis, sehingga rombongan terpaksa beristirahat sambil memulihkan kondisi keduanya. Sekitar 15 menit, baik Ichlas maupun Arief menyatakan siap melanjutkan perjalanan. Namun, ritme langkah rombongan terpaksa lebih lambat agar keduanya tidak tertinggal. Sekali-sekali, saat menakik di lereng batu, Ichlas masih kepayahan. Tapi, setelah Ardi Yunus membebat paha Ichlas untuk menahan agar betisnya tidak kembali berulah, kemampuannya sedikit bertambah.

Akhirnya rombongan bisa mencapai Puncak Sarogodung. Puncak ini berbeda dengan puncak lainnya. Di hadapan kami menghampar kawasan lumut sejenis lumut kerak setebal sekitar setengah meter sampai satu meter. Kami rebah di permukaannya dan tak menyentuh tanah. Lumut itu berwarna warni, dominan putih dan hijau. Pada pucuk-pucuk lumut ada warna merah menyala, seakan-akan bunga dari lumut.

Rasa penat segera hilang ketika kami menatap pemandangan jauh di kaki kami. Beberapa anggota kemudian berteriak ketika menemukan aneka anggrek sedang mekar. Salah satunya mirip anggrek bulan, berkelopak putih, dengan warna kuning pada bagian labia minoranya. Sepintas anggrek ini mirif vanda, tetapi dari pola bunganya lebih mirip dendrobium sp. Bedanya, daun anggrek ini berbulu seperti beludru. Tumbuh secara epifit, menempel pada kayu-kayu mati, dan bebatuan.

Selain anggrek, Puncak Sarogodung kaya akan ragam kantong semar. Tanaman ini bergerombol-gerombol dan seakan-akan sengaja ditata sedemikian rupa di atas sebuah pot. Tumpukan kantong semar ini menjadi pemandangan yang menarik.

Setelah mengambil foto, rombongan kemudian bergerak pulang. Jalur pulang tidak lagi melewati jalur berangkat, tapi turun ke kaki Puncak Sarogodung yang merupakan Kampung Garoga. Sekitar pukul 17.30, kami tiba di Kampung Garoga. *

Written By: Budi Hatees on Monday, May 13, 2013 | 1:19 AM

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut – lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.

Budi Hatees dapat dihubungi pada telepon 083170148555 atau 087881228876. Email: budi.hatees@gmail.com.

Redaksi, Pengiriman Berita,
dan Informasi Pemasangan Iklan:
apakabarsidimpuan@gmail.com


Ekspedisi Meraba Sipirok ke Kawasan Aek Bariba Posted on Category Headline, Tabagsel, Wisata. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Bergabung Dengan 5,676 komentator di Apakabarsidimpuan

  1. Wah hebat…. pasti perjalanan yang mengasikkan dan tak terlupakan sambil bercanda dan tawa dan menikmati panorama alam… Team ini bisa menjadi pelopor pariwisata Hutan dan panorama di Sipirok…. andaikan bisa menjadi bahagian dari team ini, wah pasti seru dan mengasikkan…

    Harusnya Pemda Tapsel mendukung team-team seperti ini, bukan hanya sekedar ngomong sambal dan teori di belakang meja dan menunggu laporan-laporan informasi saja….

  2. hanya foto-fotonya kurang banyak tuh appara….. kalau ada foto-foto lainnya, bolehlah di bagi-bagi untuk pembaca…. heheheheheee

  3. sayang foto air terjunnya ga ada

  4. Smoga ekspedisi ini trus berlanjut.

  5. Banyak potensi wisata yang kurang terpromosikan di daerah Sipirok..
    Seandainya..
    Ahh….Sipirok.
    Kota kecil yang historinya sangat besar..

  6. mantab, saya waktu SMA Sipirok, sering jalan jalan ke batu olang, sarogodung, dan aek bariba. Mungkin waktu itu belum terlalu banyak orang yang tahu. tetapi saya sudah puas menjelajahi bukit bukit yang indah di SIpirok. Selam buat ito-itoku semua yang mau mengekspos wilayah yang cukup menarik dan layak dilihat orang orang yang ingin melihat pemandangan di Sipork.

  7. HORAS….Aku jg asli putra SIPIROK dari desa SIGRING-GIRING DOLOK, skrg tgl di RANTAU PRAPAT.
    Jadi teringat masa lalu,,rute perjalanan ya sangat menyenangkan,,kami jg prnah skitar tahun 1993, melintasi Gunung Sibual Buali, mulai dari HARITTE sampe Desa PASKE, tahun 1995 masuk dari desa PARAN PADANG tembus ke DANAU MARSABUT, tp syg semua kenangan yg kami abadikan sekarang sdh tidak ada lagi,

  8. Bagus atas prakarsa seperti ini

  9. Saya lahir di Sipirok, bersekolah di Sipirok sampai lulus SMA Negeri 1, Sipirok. S1,S2, S3 di UNRI, IPB Bogor, Tokyo University Japan, Auburn University, Aubur Alabama. Tenaga pengajar di UKM Malaysia 1994s/d 2000, di Kolej Negeri seremban sampqai dengan 2004, Faperika Unri 1975 s/d 1998. Sekarang tenaga pengajar di Fapertapet UIN SUSKA RIAU.
    Memang Sipirok adalah suatu kawasan yang paling indah di Dunia, saya sudah sampai di pelbagai tempat di dunia, seperti Hawaii, pantai Florida, Segitiga Bermuda, dan lain-lain, tak ada yang menandingi Sipirok. Saya saat ini sedang melakukan penelitian di kawasan Sipirok, mengenai keanekaragaman hayati, di kawasan Dolok Sibualbuali, Danau Marsabut, Simago-mago hingga ke Jamburbatu, Tor Saragodung dan lain-lain.
    Sipirok memang luar biasa indahnya, makanya banyak orang-orang terkenal berasal dari Sipirok, dan kemauan putra-putri Sipirok untuk menuntut ilmu juga luar biasa. Sipirok..oh Sipirok Nauli.

  10. Saya dan sejumlah kawan, sedang melalukan mendataan kekayaan hayati di wilayah Sipirok.

10 Komentar untuk “Ekspedisi Meraba Sipirok ke Kawasan Aek Bariba” Mungkin anda mau menambahkannya...?

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi apakabarsidimpuan. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) --- Gunakan layanan GRAVATAR untuk menampilkan foto anda.