<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>apa kabar sidimpuan online &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://apakabarsidimpuan.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apakabarsidimpuan.com</link>
	<description>Padangsidimpuan Online Information</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 03:06:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tinjauan Buku; Catatan Mandailing di Masa Lalu</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/tinjauan-buku-catatan-mandailing-di-masa-lalu/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/tinjauan-buku-catatan-mandailing-di-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 06:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=15486</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Fahrin Malau
Judul : Kumpulan Catatan Lepas Tentang Mandailing
Penulis : Z. Pangaduan Lubis, dkk
Cetakan : Pertama Tahun 2010
Tebal : x + 140 halaman
Penerbit : Pustaka Widiasarana Kelompok Humaniora-Pokmas Mandiri
Ukr Buku : 13 x 20 cm
Jenis Buku : Sejarah
Buku....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://www.analisadaily.com/images/stories/2010/agustus/290810/rebana/tinjauanbuku.jpg" alt="" width="166" height="250" /></p>
<p>Oleh: <strong>Fahrin Malau</strong></p>
<p>Judul : Kumpulan Catatan Lepas Tentang Mandailing<br />
Penulis : Z. Pangaduan Lubis, dkk<br />
Cetakan : Pertama Tahun 2010<br />
Tebal : x + 140 halaman<br />
Penerbit : Pustaka Widiasarana Kelompok Humaniora-Pokmas Mandiri<br />
Ukr Buku : 13 x 20 cm<br />
Jenis Buku : Sejarah</p>
<p>Buku  Kumpulan Catatan Lepas Tentang Mandailing, pembaca langsung dapat  menebak, buku ini kumpulan dari beberapa tulisan membahas seputar  Mandailing. Kumpulan tulisan seputar Mandailing selanjutnya disusun  berdasarkan beberapa naskah yang ‘berserakan’ di rumah penulis buku, Z.  Pangaduan Lubis.</p>
<p>Buku ini memuat empat catatan. Pertama “Perlawanan Sutan Mangkutur  Terhadap Balanda di Mandailing” penulis Z. Pangaduan Lubis. Kedua “Islam  di Mandailing” penulis Z. pangaduan Lubis dan Imsar Muda Nasution.  Ketiga “Alak Mandala Holing (Sebuah cerita pendek dalam Bahasa  Mandailing) penulis Edi Nasution. Keempat “Dalian Na Tolu, Pemahaman dan  Aktualisasinya” penulis Z. Pangaduan Lubis.</p>
<p><strong>Perlawanan Sutan</strong></p>
<p>Pada  catatan pertama buku Kumpulan Catatan Lepas Tentang Mandailing, Z.  Pangaduan Lubis menulis perjalanan Sutan Mangkutur melawan penjajahan  Belanda. Walau hanya catatan lepas, namun pada bagian ini penulis  mengulas cukup panjang sepak terjang Sutan Mangkutur melawan penjajahan  Belanda.</p>
<p>Sebelum membahas bentuk perlawanan Sutan Mangkutur,  penulis sedikit menjelaskan wilayah Mandailing tempat kerajaan Huta  Godang di Ulu Pungkut sekitar 20 kilo meter dari Kotanopan. Wilayah ini  dipimpin seorang raja bernama Sultan Mangkutur. Dia menggantikan abang  kandungnya Raja Gadombang yang meninggal dunia pada tahun 1835 dalam  perang Paderi.</p>
<p>Beberapa catatan menjelaskan tentang kerajaan Huta  Godang di Ulu Pungkut diulas dalam buku ini. Keterangan Raja Junjungan  Lubis, raja terakhir dari Huta Godang menyebutkan, kerajaan didirikan  oleh nenek moyangnya dari Manambin. Kerajaan ini, salah satu kerajaan  tertua di Mandailing Julu dan tidak jauh letaknya dari Huta Godang.  Biografis tentang Sultan Mangkutur tidak banyak diketahui. Diduga dia  dilahirkan pada akhir abad ke 18 di Huta Dolok, Ulu Pungkut, Mandailing  Julu.</p>
<p>Kedatangan Belanda ke Mandailing diawal 10 Maret 1832  melalui surat Gubernur Jenderal Van den Bosch di Betawi yang dikirim  Komandan Militer Belanda Letnan Kolonel Elout di Padang. Surat itu  berbunyi: “Tujuan Belanda di Sumatera harus dilaksanakan oleh  pemerintah, penaklukan seluruh Sumatera ke bawah kekuasaan kita telah  diterima sebagi satu asas ketatanegaraan dan tujuan itu harus selekas  mungkin seandainya keadaan di tanah Eropa dan di dalam negeri  mengizinkan,”</p>
<p>Masuknya Belanda ke Mandailing dipermudah dengan  adanya perseteruan antara Raja Gadombang dari Huta Godang di Mandaling  dengan Kaum Paderi. Atas kesepakatan antara Raja Gadombang dengan  Belanda bersama-sama melawan kaun Paderi dan itu dimanfaatkan Belanda  untuk menguasai Mandailing.</p>
<p>Lebih setahun lamanya Belanda  menduduki Mandailing, Sutan Mangkutur mulai menjadi raja di Huta Godang  tahun 1835. Berbagai peraturan dibuat Belanda untuk menekan raja-raja di  Mandailing. Sutan Mangkutur dengan tegas menolak peraturan yang dibuat  Belanda. Sebelum melakukan perlawanan secara fisik, Sutan Mangkutur  melakukan pendekatan dengan raja-raja di Mandailing untuk memerangi  Belanda yang berkedudukan di Kotanopan.</p>
<p>Raja-raja yang ikut  melakukan perwalan dengan Belanda dilaksanakan di Huta Godang yakni Yang  Dipertuan, raja dari Huta Siantar, Panyabungan yang masih punya  hubungan keluarga dekat dengan Sutan Mangkutur. Sayang Yang Dipertuan  melakukan penghianatan, ikut membantu pasukan Belanda dan membocorkan  setiap rencana Sutan Mangkutur, sampai akhirnya Belanda berhasil  menangkap dan dibuang ke Ambon.<br />
<strong><br />
Islam di Mandailing</strong></p>
<p>Buku  Kumpulan Catatan Lepas Tentang Mandailing, mengulas Islam di Mandailing  tidak mendalam. Alasannya karena sulitnya menemukan literatur yang  berkenaan dengan sistem religi yang merupakan anutan warga kelompok  etnis Mandailing.</p>
<p>Sebelum Islam masuk ke Mandailing, masyarakat  dalam kepercayaan mengenal si Pele Begu yang berarti si pemuja begu.  Begu adalah tondi orang sudah mati. Tondi adalah jiwa orang masih hidup.  Apabila orang yang punya tondi sudah meninggal dunia maka tondinya  berubah menjadi begu.</p>
<p>Begu di dalam kerajaan Mandailing juga  memiliki peranan penting. Ada tiga tokoh fungsionaris yang utama. Ketiga  tokoh tersebut adalah Raja, Datu dan Sibaso. Masing-masing tokoh  mempunyai fungsi. Raja berfungsi sebagai pemimpin tertingi, Datu  berfungsi sebagai sumber tertinggi ilmu dan pengetahuan dan Sibaso  berfungsi untuk mengkomunikasikan dunia manusia dengan dunia gaib.</p>
<p>Adanya  kepercayaan begu pada masyarakat Mandailing, banyak ditemukan patung,  terbuat dari kayu dan batu, disebut Sangkalon. Sangkalon memiliki  masing-masing tugas, seperti Sangkalon si Pangan anak, si pangan boru  (patung pemakan anak laki-laki, pemakan anak perempuan) yang menjadi  lambang hukum dan keadilan.</p>
<p>Sayangnya buku ini tidak menjelaskan  secara detail kapan sebenarnya masyarakat Mandailing memeluk agama  Islam. Ada beberapa dugaan yang mengarah pada pertama kali masyarakat  Mandailing memeluk agama Islam, yaitu orang-orang Paderi yang datang  menyerbu ke Mandailing dari Minangkabau.</p>
<p>Bila dilihat dari buku  “Kehidupan Politik Suatu Kresidenan di Sumatera: Tapanulu” tahun  1915-1940, halaman 14 yang ditulis Lance Castles menjelaskan, sebelum  kaum Paderi masuk ke Mandailing menjelang 1820, beberapa pemimpin  Mandailing telah beragama Islam.</p>
<p>Buku “Madina yang Madani”  ditulis Basyral Hamidy Harahap di halaman 238, menurut catatan Wilter  ada dua raja Mandailing sudah memeluk agama Islam sebelum Paderi, yaitu  Raja Gunung berdiam di Gunung Beringin dan Mangaraja Gunung Kuria Huta  Siantar.</p>
<p>Terlepas mana literatur yang benar, kehadiran buku ini  cukup bagus untuk menjadi catatan untuk mengetahui keadaan Mandailing  pada masa lampau. Harus diakui sampai saat ini tidak banyak buku yang  membahas mengenai sejarah suatu daerah.</p>
<p>Sumber: www.analisadaily.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/tinjauan-buku-catatan-mandailing-di-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marpangir di Batang Aek, Tradisi Ramadhan di Sipirok</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/marpangir-di-batang-aek-tradisi-ramadhan-di-sipirok/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/marpangir-di-batang-aek-tradisi-ramadhan-di-sipirok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2010 15:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangpasid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=13760</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Halida Srikandini boru Pohan
IBADAH PUASA di bulan ramadhan telah tiba. Ada rasa rindu yang menghentak di hati ini. Ada sesuatu yang hilang dan tak bisa dilakukan di tano parjalangan (perantauan) terkait dengan kebiasaan yang dulu pernah....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Halida Srikandini boru Pohan</strong></p>
<p>IBADAH PUASA di bulan ramadhan telah tiba. Ada rasa rindu yang menghentak di hati ini. Ada sesuatu yang hilang dan tak bisa dilakukan di <em>tano parjalangan</em> (perantauan) terkait dengan kebiasaan yang dulu pernah rutin dilakukan bersama mama …papa.. <em>ompung (</em>nenek) , sehari sebelum puasa.</p>
<div><img class="alignleft" src="http://sitorusdori.files.wordpress.com/2009/06/jeruk_purut.jpg?w=216&amp;h=220" alt="Unte Pangir" width="216" height="220" /></div>
<p>Kata <em>ompung</em>… kalo mau puasa begini di Sipirok suasananya meriah, selain sibuk mempersiapkan lauk pauk yang spesial untuk sahur pertama di bulan ramadhan, yang paling membuat rindu pulang ke <em>huta </em>(kampung) sebelum lebaran adalah acara <em>marpangir di batang aek</em> …..</p>
<p><em>Marpangir</em>, terjemahan bebasnya adalah mandi keramas.yang bertujuan sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin, sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan.</p>
<p>Namun, <em>kalo</em> biasanya manusia kota keramas menggunakan sampho, maka <em>marpangir</em> ini memiliki ramuan-ramuan khusus yang terdiri dari <em>unte pangir</em> (sejenis jeruk sate) daun pandan, daun <em>tapak leman</em> dan bunga-bunga yang harum; kemudian dicampur jadi satu dan dimasak dengan santan. Tempat memasaknya pun kata <em>ompung</em> unik…..direbus bersama di belanga (angkola-sipirok) atau di dalam bambu/bulu (mandailing).</p>
<p><em>Gimana cara marpangirnya ?</em></p>
<p>Setelah ramuan tadi masak dan didinginkan, pada saat kita mandi di <em>batang aek</em> dan rambut pun sudah basah, disiramkanlah ramuan <em>pangir</em> tadi ke kepala, lalu di gosok-gosok. Mungkin karena ada santan dalam ramuan itu, maka rambut pun jadi lembut dan berkilat indah setelah di<em>pangir</em>. Setelah itu rambut dibilas dan cuci bersih dengan sabun (ini waktu jaman ompung dulu) kalo sekarang dicuci bersih dengan sampo-lah yahhh….</p>
<p><em>Terus dimana letak serunya ?</em></p>
<p>Yang bikin acara <em>marpangir</em> ini menjadi seru dan dirindukan adalah karena sambil <em>marpangir</em> biasanya bersamaan dengan acara piknik keluarga atau pun piknik dengan teman-teman sebaya, dan makan siang di <em>topi</em> (tepi) <em>batang aek…</em>ach membayangkan acara <em>marpangir di batang aek</em>, bikin rasa rindu ini makin gila…. pengennnn pulangggg ke hutaaaaaaa ……</p>
<p><em>Lalu apa lagi serunya puasa di Sipirok ?</em></p>
<p>Yang paling indah menurutku adalah saat malam 27 ramadhan… Ada acara pasang lilin/obor di setiap rumah/pagar rumah…Bayangkan indahnya malam itu dengan jejeran obor/lilin di sepanjang jalan…di tingkahi suara tadarusan (membaca al qur’an) di masjid dan dinginnya malam di Sipirok…</p>
<p>Mungkin masih banyak hal-hal indah yang harusnya bisa kutulis… tapi hatiku tak kuat lagi, wajah mendiang ompung dan kenangan indah saat puasa bersamanya membuat hati ini ingin meledak dan sesak rasa dada ini…</p>
<p><em>Malungun au mulak tu Sipirok</em> (aku rindu pulang ke Sipirok)…</p>
<p><em>Sipirok Na Soli Banua Na Sonang</em>…Semoga setelah berbelas tahun tak kulihat.. masih tetap seindah dan sedamai dulu…</p>
<p>dikutip dari: <em><span style="color: #ff0000">http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/02/tradisi-ramadhan-batak-mandailing-angkola/</span></em></p>
<p><strong>sumber</strong> : <a href="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;site=ayomerdeka.wordpress.com&amp;url=http%3A%2F%2Ftobadreams.wordpress.com%2F&amp;sref=http%3A%2F%2Fayomerdeka.wordpress.com%2F2008%2F09%2F02%2Ftradisi-ramadhan-batak-mandailing-angkola%2F">blog tobadreams</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/marpangir-di-batang-aek-tradisi-ramadhan-di-sipirok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ende, Nyanyian Rakyat Mandailing</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/ende-nyanyian-rakyat-mandailing/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/ende-nyanyian-rakyat-mandailing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 14:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Mandailing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=13692</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edi Nasution *)
Sebagai  salah  satu  kelompok  etnik  di  Sumatera  Utara,  masyarakat  Mandailing  memiliki berbagai corak nyayian dan mereka menyebutnya ende. Seorang ibu  misalnya, bernyanyi sambil menimang....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Edi Nasution *)</p>
<p>Sebagai  salah  satu  kelompok  etnik  di  Sumatera  Utara,  masyarakat  Mandailing  memiliki berbagai corak nyayian dan mereka menyebutnya ende. Seorang ibu  misalnya, bernyanyi sambil menimang anaknya agar tertidur disebut ende bue-bue. Begitu pula, ketika seorang ayah misalnya mengungkapkan rasa iba lewat nyanyian kepada anaknya yang ditinggal mati oleh ibunya dinamakan ende uro-uro.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img src="http://img2.uploadhouse.com/fileuploads/5864/5864252f2a609170cad83f67837c62acaf7ce1c.jpg" alt="" width="200" height="164" /><p class="wp-caption-text">Source: http://lubissel-hahaha.blogspot.com/</p></div>
<p>Ende mamuro dapat hadir di dangau ketika seorang petani menghalau burung-burung pipit yang memakan padi di sawahnya. Adapula seorang penjaja atau penjual ngiro (air nira) sewaktu ari poken (hari pekan) berteriak: <em>“ … ngiro na … ngiro na !!! patalak … patalak … so u patungkap …”</em> adalah  termasuk  “near  song”  (Jan  Harold  Brunvand,  1968),  adalah  nyanyian  yang  lebih mementingkan  “lirik”  daripada  lagunya, yang  lebih dikenal  dengan  sebutan  “peddler’s  cries”. Selain itu, di Mandailing ada pula nyanyian yang hadir bersama-sama tarian adapt tortor, yaitu jeir yang diiringi ensambel musik Gondang Boru.</p>
<p>Kali    ini    kita    mencoba   memaparkan    sedikit    tentang   dua    nyanyian    rakyat Mandailing.  Pertama,  ungut-ungut  yang   terdapat  di  Mandailing  Julu,   dan  kedua, sitogol  dari   Mandailing   Godang.  Yang   mana  ungut-ungut   biasanya  dapat  hadir   di berbagai tempat dan kesempatan. Sedangkan sitogol biasanya dilantunkan  seseorang (pemuda)  dari   atas  tor  (bukit-bukit   kecil)   yang   seringkali  diselang-selingi  dengan tiupan alat musik olonglio  (uyup-uyup durame) dan sesekali dosik (suitan) agar dapat didengar dan menjadi perhatian sang  gadis  pujaan yang sedang  bekerja di sawah yang terletak di lembah bukit-bukit  itu.</p>
<p>Kerancuan</p>
<p>Dalam  syair lagu berjudul ”Sitogol sian  Mandailing Godang” yang diciptakan oleh Nahum Situmorang  dikatakan  bahwa  &#8220;Sitogol dari  Mandailing  Godang  sama dengan Onang-onang”   yang   terdapat   di   Angkola.   Sepengetahuan   penulis   bahwa   kedua nyanyian   itu   jauh   berbeda,   baik   dari   aspek   musikalitasnya   maupun   dalam   hal penggunaannya .</p>
<p>Sitogol   dari  Mandailing   Godang  memiliki   gaya   ritmis   dan   melodis   yang   jauh berbeda  dengan  Onang-onang dari  Angkola, dan  Sitogol  tidak  pernah  hadir  dalam konteks upacara adat perkawinan misalnya, sedangkan Onang-onang dari  Angkola itu merupakan ”nyanyian  adat” yang dihadirkan  bersama  tari adat tortor dengan iringan ensembel musik Gondang Dua.  Meskipun ada  Onang-onang  yang  dinyanyikan bukan dalam konteks  upacara adat, namun  penggarapan gaya musikalnya tidak jauh berbeda – hanya teks atau syairnya saja yang  bereda &#8212; dalam konteks upacara adat. Jadi jelas bahwa ende  Sitogol dari  Mandailing Godang ini tidak  sama  dengan Onang-onang dari Angkola.</p>
<p>Dalam  hal  ini,  Angkola  adalah  satu  kelompok  etnik  tetangga  terdekat  kelompok etnik Mandailing  di Tapanuli Selatan. Boleh dikatakan bahwa antara kedua kelompok etnik    ini    lebih    banyak   dijumpai    persamaan     budaya   daripada     perbedaannya. Sementara    Tapanuli    Selatan    itu    sendiri   adalah   sebutan    untuk   satu    wilayah administratif  pemerintahan  sekarang   yang   berstatus   kabupaten  yang   merupakan warisan   kolonial   Belanda.   Oleh   karena   itu   tidak   akan   pernah   ada   ”GONDANG TAPANULI SELATAN (seni-budaya Tapanuli Selatan).</p>
<p><strong>Aspek tekstual</strong></p>
<p>Baik ungut-ungut maupun sitogol memiliki teks atau syair berbahasa Mandailing dan umumnya berisi  keluh-kesah  (ungkapan  perasaan)   tentang  cinta   atau  pun   kemelaratan.   Karena   itu keduanya lebih mementingkan lirik ketimbang lagunya.</p>
<p>Keduanya  nyanyian  tersebut  awalnya  tidak  memiliki  jumlah  baris  (bait)  yang  tetap karena dinyanyikan secara spontan. Ada  kalanya 4 baris (berstruktur pantun), 5 baris,<br />
6 baris dan sebagainya, namun dalam perkembangan  selanjutnya ada  kecenderungan berstruktur pantun.  Untuk  ungut-ungut yang bersajak ab-ab, dimana  baris  pertama dan kedua adalah  sampiran, sedang baris ketiga dan  keempat  merupakan isi. Adapun teks sitogol yang  berstruktur  pantun (atau  tidak) cenderung  pula  secara keseluruhan merupakan isi, tanpa  ada sampirannya.</p>
<p>Di  dalam  teks  nyanyian  ungut-ungut  dan  sitogol  terdapat  banyak  kata  &#8216;mada&#8217;,  &#8216;ile&#8217;, &#8216;baya&#8217;, &#8216;da&#8217; dan  lain  sebagainya yang  tidak  mengandung arti  (meaningless  syllables), yang  sama  kedudukannya  dengan  kata  &#8216;lah&#8217;,  &#8216;kah&#8217;,   &#8216;yang&#8217;   atau   pun  &#8216;wahai&#8217;   dalam Bahasa  Indonesia.   Kata-kata   atau   silabel   ini   digunakan  untuk   mendukung  ”efek artistik”  dan  terkadang untuk  penyesuaian   jumlah  silabel   dalam  setiap   ”rentangan melodi” (phrase). Hal  seperti ini pertama sekali dirumuskan oleh  budayawan Drs.  Z. Pangadwin  Lubis  di  dalam   makalahnya   :  &#8220;Penelitian  Tekstual   Dalam   Jeir:  Suatu Pengamatan Awal  yang  dipresentasikan pada  Temu  Wicara Etnomusikologi III Tahun 1987  di Fakultas Sastra USU Medan.</p>
<p>Apabila diperhatikan pada susunan atau jumlah silabel yang dinyanyikan untuk setiap rentangan    melodi,    ternyata    tidak     memiliki    jumlah    yang     sama.   Keadaan    ini menunjukkan  bahwa jumlah  silabel  untuk setiap  rentangan  melodi tidak  mengikat secara baku. Hal  ini  dapat membentuk  kalimat-kalimat yang  panjang atau  pendek  di dalam  setiap  rentangan  melodi.  Penyesuaian  kalimat   panjang  atau   pun  pendek  di dalam  setiap  rentangan  melodi   ketika  menyanyikan ende   sitogol  atau  ungut-ungut tergantung pada ”kepiawaian” si parende (penyanyi) itu sendiri.</p>
<p><strong>Aspek Musikal</strong></p>
<p>Ungut-ungut dinyanyikan  secara  solo  oleh  pria dengan tempo sedang, memiliki gaya  melodis   yang   statis   (heightened  speech),  tanpa    meter   (heterometris)  dan biasanya sebagai  pengiring  adalah alat  musik  tiup  suling   atau  salung.   Sementara sitogol juga  dinyanyikan secara solo oleh  pria dengan tempo sedang, yang  terkadang diselang-selingi alunan  alat  musik olonglio  dan  sesekali dosik  (suitan). Di  samping itu, sitogol  memiliki kantur melodis ascending (naik) dan juga tanpa meter (heterometris).  Perbedaan   mendasar,  dimana  ungut-ungut  dinyany-ikan  dengan lembut, sedankan  sitogol  diteriakkan kuat  karena  dinyanyikan  dari  atas  bukit  agar dapat  didengar  gadis  pujaan yang  sedang  bekerja  di  sawah, di  lembahnya, bukit- bukit tempat ia melantunkan sitogol.</p>
<p>Baik ungut-ungut  maupun sitogol  cenderung  berbentuk  strophic karena keduanya selalu  mengulang-ulang   formula  (bentuk)   melodi  yang   sama   tetapi   dengan  teks nyanyian yang  baru. Ri zaIdi Siagian MA  (Ketua Jurusan Etnomusikologi di Fakultas Sastra USU)  mengemukakan bahwa musik (vokal) seperti ini disebut &#8220;LOGOGENIC&#8221;. Artinya  lebih   mengutamakan  teks  nyanyian  untuk meng-ungkapkan  ide  ketimbang kepuasan aspek musikalnya.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Ungut-ungut  dan  sitogol   adalah  nyanyian  rakyat Mandailing  (disebut  ende   saja oleh mereka)  yang terdiri  dari  kata-kata dan  lagu,  yang  berbentuk  tradisional  karena ada dan eksis dalam  masyarakat Mandailing sejak dulu  sampai sekarang. Juga banyak memiliki varian dan beredar secara lisan  di dalam  masyarakat Mandailing.</p>
<p>Selanjutnya  dapat dikemukakan  bahwa nyanyian rakyat  Mandailing yang  dua  ini dapat  dikategorikan   ke   dalam   nyanyian  rakyat   yang   bersifat   liris   sesungguhnya (James  Danandjaya 1984;  14153).   Karena  liriknya  mengungkapkan  perasaan tanpa menceritakan suatu kisah yang  bersambung, dan  dominan  mengungkapkan perasaan sedih,  putus   asa  karena   kehilangan  sesuatu,  atau  cinta  atau pun  kemelaratan yang menggambarkan keinginan-keinginan manusia yang  tidak pernah tercapai.</p>
<p>Dimuat dalam Harian Waspada Medan, 1991</p>
<p>Donwload PDF File: <a href="http://edinasution.files.wordpress.com/2007/08/ende_nyanyian-rakyat-mandailing.pdf">http://edinasution.files.wordpress.com/2007/08/ende_nyanyian-rakyat-mandailing.pdf</a></p>
<blockquote><p>*) Biography Penulis:</p>
<p><img class="alignleft" src="http://img0.uploadhouse.com/fileuploads/5864/58642702f991896e119622eda73c79bac8548cb.jpg" alt="" width="68" height="84" /><em>hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan &#8211; Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/08/ende-nyanyian-rakyat-mandailing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banua dan Alak Mandailing</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/06/banua-dan-alak-mandailing/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/06/banua-dan-alak-mandailing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 17:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=9326</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edi Nasution
1. Gambaran Umum
Suku bangsa Mandailing bermukim di pedalaman pesisir pantai barat Pulau Sumatra. Menurut cerita rakyat yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat, asal-usul Mandailing berasal dari kata Mande Hilang (dalam bahasa Minangkabau) yang artinya “ibu yang....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Edi Nasution</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>1. Gambaran Umum</strong></span><br />
Suku bangsa Mandailing bermukim di pedalaman pesisir pantai barat Pulau Sumatra. Menurut cerita rakyat yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat, asal-usul Mandailing berasal dari kata Mande Hilang (dalam bahasa Minangkabau) yang artinya “ibu yang hilang”. Versi lain mengatakan bahwa nama Mandailing berasal dari kata Mandala Holing, adalah satu kerajaan yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-12. Cakupan wilayah kerajaan Mandala Holing diperkirakan terbentang dari Portibi di Padang Lawas hingga ke Pidoli di dekat Panyabungan, Mandailing Godang. Berkaitan dengan hal ini, orang-orang Mandailing juga sering menyebut kata Holing yang bagi mereka mungkin memiliki arti yang cukup penting, seperti tertuang dalam ungkapan berikut ini:<br />
<span style="color: #ff0000;"><em>… muda tartiop opat na<br />
ni paspas naraco holing<br />
ni ungkap buntil ni adat<br />
ni suat dokdok ni hasalaan<br />
ni dabu utang dohot baris …</em></span></p>
<p>Ungkapan tersebut di atas kurang lebih berarti, bahwa untuk mengadili seseorang harus didasarkan kepada empat syarat. Apabila keempat syarat itu telah terpenuhi barulah naraco holing (suatu lambing pertimbangan yang seadil-adilnya) dibersihkan, selanjutnya dilihat ketentuan adat, diukur beratnya kesalahan, dan setelah itu barulah hukuman dapat dijatuhkan. Selain itu, kata holing juga terdapat dalam ungkapan“surat tumbaga holing na so ra sasa”, yang artinya; “surat tumbaga holing yang tidak mau hapus”. Mungkin maksud dari ungkapan tersebut adalah ketentuan adat-istiadat tersebut akan tetap menjadi panutan hidup orang Mandailing selamalamanya.</p>
<p>Terminologi Mandailing mengandung dua macam pengertian yang tidak sama, akan tetapi keduanya saling mengikat dan tidak terpisahkan, yaitu pengertian budaya dan territorial. Dalam pengertian budaya, Mandailing adalah salah satu kelompok etnik atau suku-bangsa. Seperti yang dinyatakan oleh Koentjaraningrat, suku-bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ‘kesatuan kebudayaan’, sedangkan kesadaran dan identitas tadi seringkali dikuatkan oleh kesatuan bahasa”. Sedangkan dalam pengertian territorial, Mandailing adalah salah satu wilayah tertentu yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan Propinsi Sumatera Utara. Wilayah Mandailing memiliki batas-batas tertentu dan mayoritas penduduknya adalah suku-bangsa Mandailing. Sejalan dengan perkembangan zaman sekarang ini, wilayah Mandailing hanya meliputi lima wilayah kecamatan, yaitu Panyabungan, Batang Natal, Siabu, Kotanopan dan Muarasipongi.</p>
<p>Secara tradisional orang Mandailing membagi wilayah menjadi dua bagian utama, yaitu Mandailing Godang meliputi kecamatan Panyabungan, Batang natal, dan Siabu, dan Mandailing Julu meliputi kecamatan Katanopan dan Muarasipongi. Meskipun terdapat pembagian wilayah Mandailing secara tradisional menjadi dua bagian, akan tetapi orang Mandailing yang bermukim di Mandailing Godang dan Mandailing Julu boleh dikatakan masih tetap memiliki adat istiadat yang sama. Pada masa sebelum Kemerdekaaan RI tanggal 17 Agustus 1945, wilayah Mandailing Godang berada di bawah kekuasaan raja-raja yang bermarga Nasution, sedangkan wilayah Mandailing Julu dikuasai oleh raja-raja yang bermarga Lubis.</p>
<p>Wilayah Mandailing sekarang berbatas dengan Kecamatan Angkola di sebelah utara yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Simarongit di Desa Sihepeng. Sedangkan perbatasannya dengan wilayah Padang Bolak berada di suatu tempat bernama Rudang Sinabur. Di sebelah barat Mandailing terletak wilayah Natal yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Lingga Bayu. Sebelah selatan wilayah Mandailing berbatas dengan Kabupaten Pasaman yang perbatasannya terletak di suatu tempat bernama Ranjo Batu. Namun batas wilayah Mandailing dengan wilayah sebelah timur tidak diketahui karena jarang disebut-sebut orang.</p>
<p>Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa sesungguhnya sangat sulit untuk mendapatkan sejarah masa silam suku-bangsa Mandailing. Dalam hal ini, Pangaduan Lubis ada menjelaskan, bahwa walaupun suku-bangsa Mandailing memiliki aksara tradisional yang disebut surat tulak-tulak dan biasa digunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha, namun pada umumnya pustaha itu tidaklah berisi catatan sejarah melainkan tentang pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang baik dan buruk serta ramalan tentang mimpi. Semua pustaha itu disimpan orang Mandailing sebagai warisan leluhur.</p>
<p>Salah satu sumber sejarah kuno yang menyebut-nyebut nama Mandailing adalah kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca untuk mencatatkan ekspansi kerajaan Majapahit ke beberapa wilayah di luar Pulau Jawa. Di dalam Pupuh ke XIII kitab itu tercatat bahwa ekspansi Majapahit sampai ke tanah Mandailing sekitar tahun 1287 Saka atau 1365 Masehi. Pada syair ke XIII Kakawin tersebut tercatat:<br />
<span style="color: #ff0000;"><em>Lwir ning pranusa sakahawat ksoni ri Malaya<br />
Ning Jambi mwang Palembang karitang i Teba len Dharmacraya tumut<br />
Kandis Kahwat Manangkabwa ri Siyak i Rekan Kampar mwang i Pane<br />
Kampe Harw athawe Mandahiling i Tumihang Parlak mwang i Barat</em></span></p>
<p>Selain itu, ada catatan tentang silsilah keturunan yang disebut tarombo yang barangkali merupakan satu-satunya sumber sejarah asal-usul orang Mandailing di masa lalu. Pada umumnya orang Mandailing mengelompokkan diri mereka ke dalam beberapa marga (klan) dan masingmasing marga selalu menempatkan diri mereka sebagai keturunan dari seorang tokoh nenek moyang yang berlainan asal. Tokoh leluhur suatu marga biasanya bersifat legendaris, dan senantiasa mereka tempatkan diawal silsilah keturunan (tarombo) mereka. Dengan adanya tarombo ini, setiap marga di Mandailing dapat mengetahui asal-usul dan jumlah keturunan mereka sampai sekarang. Istilah marga dalam hal ini dapat didefinisikan sebagai kelompok orang yang berasal dari keturunan seorang nenek moyang yang sama dan garis keturunan diperhitungkan melalui pihak laki-laki atau ayah (patrilineal).</p>
<p>Marga Lubis dan Nasution mempunyai jumlah warga yang terbesar di antara marga-marga lain di Mandailing. Marga Lubis memiliki satu kakek bersama bernama Na Mora Pande Bosi, yang menurut kisahnya adalah cucu dari seorang nakhoda kapal laut bernama Angin Bugis dari Pulau Sulu. Sedangkan satu kakek bersama dari marga Nasution bernama Si Baroar. Menurut legendanya, Si Baroar semasa bayi ditemukan oleh Sutan Pulungan, adalah seorang Raja dari Huta Bargot di Mandailing Godang. Cerita dalam versi lain menyebutkan bahwa marga Nasution pertama adalah putra dari Raja Iskandar Muda dari Pagaruyung, yang di masa lalu adalah pusat kerajaan Minangkabau. Sebagaimana di kemukakan di atas, bahwa setiap marga biasanya mempunyai ompu parsadaan (nenek moyang) yang sama. Akan tetapi ada juga beberapa marga yang berlainan nama marganya yang mempunyai ompu parsadaan yang sama. Seperi marga Rangkuti dan Parinduri nenek moyangnya adalah Mangaraja Sutan Pane dan marga Pulungan, Lubis dan Harahap nenek moyangnya adalah Namora Pande Bosi. Sedangkan marga Matondang, Daulae dan Batubara memiliki nenek moyang dua orang yang bersaudara kandung (kakak beradik), yaitu Parmato Sopiak menurunkan marga Matondang dan Daulae, dan Bitcu Raya menurunkan marga Batubara. Adapun nama-nama marga orang Mandailing adalah: Hasibuan, Dalimunte, Mardia, Pulungan, Lubis, Nasution, Rangkuti, Parinduri, Daulae, Matondang, Batubara, Tanjung dan Lintang.</p>
<p>Reruntuhan candi di sekitar Desa Simangambat di Kecamatan Siabu merupakan sisa-sisa peninggalan sejarah kuno Mandailing. Candi tua itu mungkin termasuk sisa-sisa bangunan tertua di Sumatera Utara karena diperkirakan berasal dari abad ke 8 dan 9 Masehi, dimana bentuk dan ornamennya menyerupai candi gaya Jawa Tengah asli. Di samping itu, ada tempat di sekitar Desa Pidoli yang dinamakan Saba Biara (biara=vihara). Biara-biara ini pada masa sekarang hanya tinggal pondasinya saja yang tertimbun di dalam areal persawahan penduduk. Sementara itu di lereng gunung Sorik Marapi di Desa Maga dahulu terdapat beberapa buah “pilar batu” yang bertuliskan aksara Jawa Kuno bertanggal 9-9-1242.</p>
<p>Di areal pemakaman kuno yang disebut lobu atau huta lobu dapat ditemukan patung batu yang disebut tagor. Menurut kepercayaan lama, tagor tersebut dapat memberi suatu pertanda dengan suara gemuruh apabila terjadi sesuatu hal penting dalam keluarga raja, misalnya seandainya ada seorang raja yang akan wafat. Selain itu, di empat sudut huta (wilayah perkampungan kerajaan disebut juga banua) biasanya terdapat patung kuno bernama pangulu balang, yang di masa lalu dipercayai mampu menjaga kesatuan wilayah huta dan akan memberikan pertanda apabila ada sesuatu yang akan mengganggu komunitas huta.</p>
<p>Wilayah Mandailing Godang dikelilingi oleh gunung-gunung. Di tengah-tengah kawalan dari beberapa gunung itu terhampar dataran rendah yang cukup luas dan berhawa panas. Sungai yang bernama Aek Batang Gadis yang hulunya berada di Mandailing Julu melintasi wilayah Mandailing mulai dari bagian selatan dan menyusuri bagian baratnya menuju ke arah utara. Oleh karena air sungai ini dahulu sering terhalang alirannya menuju muaranya bernama Singkuang di Samudera Indonesia, maka keadaan itu menimbulkan daerah rawa-rawa di dataran rendah yang dikitari gunung-gunung tersebut. Penduduk Mandailing Godang kemudian mengolahnya menjadi areal persawahan yang cukup luas dan subur, sehingga daerah ini menjadi lumbung padi di Mandailing.<br />
Selain menghasilkan padi, daerah ini juga banyak menghasilkan buah kelapa karena penduduknya memanfaatkan tanah pekarangan rumah yang cukup luas dan lingkungan sekitarnya dengan menanam pohon kelapa. Sedangkan di kaki-kaki gunung dan tanah-tanah yang tidak dipergunakan untuk lahan persawahan ditanami penduduknya dengan pohon karet. Beberapa kilometer ke arah utara, di sepanjang aliran Aek Batang Gadis banyak ditemukan pohon pisang dan umbi-umbian milik warga Huta Bargot, Saba Jior dan Jambur-Padang Matinggi.</p>
<p>Kota kecil Panyabungan sejak dahulu dianggap sebagai suatu tempat yang cukup penting. Kota kecil ini berada di tengah-tengah dataran rendah yang subur itu, sehingga menarik minat penduduk desa lain untuk pindah ke Mandailing Godang demi mencari penghidupan yang lebih baik sebagai petani atau pedagang. Seperti kepindahan orang-orang bermarga Lubis yang mendirikan suatu tempat pemukiman baru bernama Huta Lubis sekitar setengah kilometer dari kota kecil Panyabungan. Hingga kini kota kecil Panyabungan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu Panyabungan Julu di bagian hulu, Panyabungan Tonga-tonga di bagian tengah, dan Panyabungan Jae di bagian hilir. Pembagian wilayah kota kecil Panyabungan yang demikian itu disesuaikan dengan arah mengalirnya sebuah sungai bernama Aek Mata yang melintang ke arah Panyabungan, dari timur ke barat dan bermuara ke Aek Batang Gadis. Dalam hubungan ini, orang Mandailing memiliki kebiasaan untuk membagi dan menamai bagian-bagian dari huta mereka menurut arah aliran sungai yang terdapat di dekat daerah pemukiman mereka.</p>
<p>Panyabungan Tonga-tonga adalah bagian terpenting di Mandailing Godang karena kelompok marga Nasution mempercayai, bahwa leluhur mereka Si Baroar pertama kali bermukim di tempat tersebut. Setelah dinobatkan penduduk menjadi raja, Si Baroar diberi gelar Sutan Diaru. Sampai saat ini masih terdapat bagas godang (istana raja) dan sopo godang (balai sidang adat) di Panyabungan Tonga-tonga. Dari Panyabungan Tonga-tonga inilah kemudian keturunan Si Baroar menyebar menjadi raja-raja di beberapa huta di kawasan Mandailing Godang, antara lain: Panyabungan Julu, Panyabungan Jae, Huta Siantar, Maga, dan lain-lain.<br />
Berbeda dengan wilayah Mandailing Godang, meskipun wilayah Mandailing Julu alamnya berhawa sejuk, namun kawasan ini diapit oleh gunung-gunung yang sebagian mencapai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, sehingga penduduknya hanya dapat mengolah lahan persawahan di kaki-kaki gunung dan di bagian tepi sepanjang Aek Batang Gadis dan Aek Pungkut. Keterbatasan lahan persawahan tersebut menyebabkan penduduk hanya dapat membuat petak-petak sawah yang kecil dan bertangga-tangga. Meskipun para petani bekerja keras dalam mengerjakan lahan sawahnya, namun karena arealnya sempit sehingga tidak dapat memberikan hasil panen yang mencukupi untuk makanan setahun.</p>
<p>Wilayah Mandailing Julu yang berhawa sejuk ternyata sangat ideal untuk tanaman kopi yang diperkenalkan kolonial Belanda6 pada abad ke-19 melalui sistem tanam paksa di masa lalu, terutama di daerah Pakantan dan Huta Godang (Ulu Pungkut). Sejak saat itulah, sebelum Perang Dunia Kedua, kopi yang berasal dari tanah Mandailing diekspor ke Amerika dan Eropah, sehingga kopi dari luat (wilayah) Mandailing ini lama-kelamaan menjadi cukup terkenal di dunia internasional dengan sebutan “Mandailing Coffee”. Selain itu, penduduk juga memanfaatkan lerenglereng gunung untuk ditanami pohon karet, cengkeh dan kayu manis. Sementara pohon enau yang banyak tumbuh secara alami di daerah ini mereka sadap niranya untuk dijadikan gulo bargot (gula aren) yang cukup terkenal di Sumatera Utara. Dari hasil-hasil tanaman keras inilah penduduk Mandailing Julu memperoleh penghasilan tambahan untuk kemudian dibelikan beras dan kebutuhan hidup lainnya.</p>
<p>Di Mandailing Julu banyak ditemukan bekas-bekas penambangan emas yang ditinggalkan orang Agam (Minangkabau), seperti di sekitar Huta Godang ada suatu tempat yang dinamakan garabak ni agom. Dan orang Belanda pun pernah membuka tambang emas di dekat kota kecil Muarasipongi. Di samping itu, Aek Batang Gadis yang hulunya terletak di Gunung Kulabu di dekat Pakantan itu melintasi wilayah Mandailing mulai dari selatan hingga utara dan bermuara di Singkuang di pantai barat mengandung bijih-bijih emas pula. Pada waktu-waktu tertentu di Aek Batang Gadis sampai sekarang banyak penduduk yang manggore (mendulang emas) sebagai mata pencaharian tambahan terutama pada masa pacekelik, yaitu sewaktu harga kopi, kayu manis, cengkeh dan karet turun di pasaran. Oleh sebab itulah, tano rura Mandailing juga dikenal dengan sebutan tano sere.</p>
<p>Kotanopan adalah sebuah kota kecil di Mandailing Julu yang memiliki arti penting bagi kelompok marga Lubis. Sebab menurut kepercayaan mereka, di sekitar tempat itulah dahulu putra kembar Na Mora Pande Bosi, yaitu Silangkitang dan Si Baitang untuk pertama kalinya membuka tempat pemukiman. Hal itu dilakukan sesuai dengan pesan ayah mereka Na Mora Pande Bosi, bahwa apabila dalam pengembaraan ke wilayah Mandailing Julu mereka menemukan suatu tempat dimana terdapat dua buah sungai yang muaranya bertentangan, maka ditempat itulah mereka harus membuka perkampungan baru. Lokasi ini kemudian dikenal dengan nama Muara Patontang, yaitu tempat pertemuan muara Aek Singengu dari arah barat dan Aek Singangir dari arah timur yang saling berhadapan lalu keduanya bermuara ke Aek Batang Gadis.</p>
<p>Selanjutnya Muara Patontang mereka namakan Huta Panopaan, yang kemudian menjadi Hutanopan, yang lama kelamaan menjadi Kotanopan. Dari sinilah Si Langkitang pergi menuju suatu tempat yang dinamakan Singengu, dan kemudian dari Singengu inilah keturunanya menyebar dan menjadi raja-raja bermarga Lubis di beberapa desa seperti Simpang Tolang, Sayurmaincat, Tambangan dan sebagainya. Sementara itu saudaranya Si Baitang melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Dikemudian hari keturunannya juga menyebar dan menjadi raja-raja bermarga Lubis di beberapa desa seperti Tamiang, Huta Dangka, Huta Pungkut, Huta Godang, Pakantan dan lain-lain.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>2. Huta dan Banua</strong></span><br />
Wilayah pemukiman orang Mandailing disebut Luat atau Banua. Sedangkan kehidupan sosial budaya<br />
orang Mandailing berlangsung di dalam suatu huta yang memiliki satu kesatuan wilayah dengan batas-batas tertentu. Setiap huta berada dibawah sistem pemerintahan sendiri yang demokratis dan bersifat otonom yang dipimpin oleh seorang raja. Oleh karena yang memimpin pemerintahan adalah seorang raja, maka huta atau banua tersebut dapat disebut harajaon (“kerajaan kecil”) sesuai dengan cakupan wilayahnya yang umumnya tidak begitu luas. Menurut tradisi, yang diangkat menjadi raja hanyalah kaum laki-laki saja, dan adanya sejumlah huta di Mandailing disebabkan oleh kepindahan orang-orang Mandailing dari huta asal ke tempat-tempat lain untuk mendirikan atau membuka tempat pemukiman baru (disebut mamungka huta). Biasanya sekelompok orang yang akan mencari tempat pemukiman baru tersebut terdiri dari kelompok kekerabatan mora, kahanggi dan anak boru.</p>
<p>Suatu tempat pemukiman baru tidak bias langsung menjadi sebuah huta, karena di samping luas daerahnya yang masih relatif sempit, juga jumlah penduduknya pun masih sedikit dan tempat pemukiman baru ini disebut banjar. Daerah pemukiman baru yang memiliki wilayah yang lebih luas dari banjar dinamakan pagaran. Dalam prosesnya, biasanya banjar lama-kelamaan dapat menjadi pagaran apabila warga dan luas wilayahnya bertambah. Sedangkan pagaran yang semakin tumbuh berkembang akan menjadi lumban. Tapi adakalanya banjar dapat langsung menjadi lumban apabila terjadi suatu perkembangan penduduk dan wilayah yang begitu pesat. Jadi dalam keadaan normal, sejalan dengan perkembangan jumlah warga dan luas wilayahnya, tempat pemukiman terkecil yang berstatus banjar lama-kelamaan menjadi pagaran, kemudian berubah status menjadi lumban, dan terakhir menjadi huta. Sampai sekarang masih terdapat beberapa desa di Mandailingyang memiliki nama-nama tempat pemukiman penduduk yang demikian itu seperti: Banjar Pining, Banjar Sibaguri, Pagaran Tonga, Pagaran Sigatal, Lumban Pasir, Huta Dangka, Huta Pungkut, Huta Godang, Huta Siantar, dan Huta Bargot. Dahulu, semasa tempat pemukiman itu masih berstatus sebagai banjar, pagaran ataupun lumban tidak diperbolehkan memiliki raja dan wilayahnya sendiri yang otonom. Dengan demikian ia masih bergantung kepada huta atau banua asal karena dianggap belum mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Untuk itu mereka dipimpin oleh seseorang yang dinamai Raja Ihutan yang tidak berfungsi sebagai kepala pemerintahan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>3. Mata Pencaharian Hidup</strong></span><br />
Mata Pencaharian utama penduduk Mandailing adalah bertani dengan mengolah sawah. Areal persawahan yang cukup luas terdapat di Mandailing Godang. Sedangkan di Mandailing Julu, karena areal persawahan sempit, maka penduduk memanfaatkan lereng-lereng gunung untuk ditanami tanaman keras.<br />
Boleh dikatakan bahwa kehidupan sosial orang Mandailing erat kaitannya dengan masalah kepemilikan lahan persawahan. Menurut Pangaduan Lubis, bahwa meskipun sempit atau pun keadaannya kurang subur, pemilikan sebidang lahan persawahan amat penting artinya bagi orang Mandailing untuk mendukung martabat dan statusnya di tengah-tengah masyarakat. Satu keluarga yang tidak memiliki sebidang tanah di suatu desa biasanya dianggap sebagai orang penumpang di desanya, sehingga keluarga tersebut akan merasa dirinya bukanlah bagian yang integral dari komunitas desanya. Sebab keaslian dan keutuhan ikatannya sebagai anggota masyarakat desanya ditandai oleh adanya kepemilikan lahan persawahan yang diwarisi secara turun-temurun.</p>
<p>Di masa-masa lalu orang Mandailing senantiasa bergotong-royong untuk mengolah sawah, misalnya dalam mengerjakan tanah dan menanam padi secara bersama-sama disebut marsialap ari, dan kegiatan bersama-sama untuk memanen padi disebut manyaraya. Akan tetapi kegiatan gotongroyong yang demikian itu pada masa sekarang ini sudah sangat jarang mereka lakukan. Kegiatan mengolah sawah hanya dilakukan oleh anggota keluarga batih yang sudah mampu bekerja di sawah.</p>
<p>Suatu wadah berbentuk rumah kecil bertingkat dua yang disebut opuk atau sopo eme di setiap desa digunakan untuk menyimpan padi yang sudah selesai diirik. Bagian atasnya yang beratap ijuk (serabut pohon enau) dan berdinding gogat (bambu yang dipecah) digunakan untuk menyimpan padi, sedangkan bagian bawahnya yang hanya berlantai bambu atau kayu (papan) tanpa dinding biasanya digunakan sebagai tempat duduk-duduk untuk beristirahat. Biasanya setiap keluarga batih memiliki sebuah opuk. Namun ada juga gabungan dari beberapa keluarga batih memiliki opuk bersama sebagai cadangan bahan makanan yang dapat dipinjamkan kepada keluarga yang membutuhkannya terutama di musim pacekelik yang disebut aleon.<br />
Sekitar dua puluh tahun lalu, petani sawah di Mandailing masih bertanam padi sekali dalam setahun. Seraya menunggu masa tanam berikutnya, areal sawah yang sudah dipanen padinya itu dibersihkan lalu ditanami dengan tanaman muda (palawija) seperti kacang tanah dan jagung. Namun semenjak mereka memakai bibit padi jenis unggul, bertanam padi dilakukan dua kali dalam setahun, sehingga kegiatan bertanam palawija mulai jarang dilakukan. Dalam kegiatan bercocok tanam padi di sawah dipergunakan berbagai macam peralatan yang terbuat dari logam (besi), antara lain: cangkul, tajak, sasabi, dan goluk. Sedangkan untuk marhauma (bercocok tanam palawija atau padi di ladang) dipergunakan sebuah alat berupa sepotong kayu yang diruncingkan yang disebut ordang. Dapat ditambahkan bahwa dari dahulu sampai sekarang petani sawah di Mandailing umumnya masih memakai sistem irigasi tradisional yang disebut bondar saba, yaitu suatu system distribusi (tali) air yang kontruksinya masih sangat sederhana untuk dapat mengairi areal sawah-sawah mereka. Di setiap huta biasanya terdapat sebidang lahan persawahan milik raja yang disebut saba bolak (sawah yang luas). Begitupun bukan berarti bahwa saba bolak milik raja itu lebih luas daripada area sawah milik penduduk huta. Menurut Pangaduan Lubis, penamaan saba bolak untuk sawah milik raja adalah sebagai suatu penghormatan yang menunjukkan bahwa raja memiliki kelebihan dari alak na jaji (orang kebanyakan). Memang sudah seharusnyalah raja memperoleh hasil panen yang lebih banyak karena raja mengemban fungsi sebagai inganan marsali, yaitu sebagai tempat peminjaman padi bagi warga huta terutama di masa-masa pacekelik. Selain itu, raja juga memiliki area sawah tertentu yang disebut saba olet yang hasil panennya secara khusus dipergunakan untuk menjamu tamu-tamu raja yang datang berkunjung ke Bagas Godang atau setiap orang yang meminta makan kepada Raja.</p>
<p>Adanya kewajiban raja yang demikian itu karena raja adalah talaga na so hiang (tempat persediaan makanan yang tidak pernah habis) bagi orang Mandailing. Di masa lalu, beternak juga termasuk sumber mata pencaharian tambahan bagi penduduk huta. Terutama beternak manuk (ayam), itik (bebek), ambeng (kambing), lombu (sapi) dan orbo (kerbau). Ternak kerbau banyak diperlukan sebagai hewan sembelihan (disebut longit) pada berbagai upacara adat dan ritual. Di beberapa huta, raja memiliki padang pengembalaan kerbau sendiri yang disebut jalangan. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa kegiatan beternak kambing dan kerbau sekarang ini sudah mulai berkurang.</p>
<p>Kolam ikan yang disebut tobat banyak ditemukan di setiap huta, baik itu di samping rumah maupun di tempat-tempat lainnya sebagai milik pribadi. Ada pula kolam ikan yang cukup luas milik raja yang dinamakan tobat bolak, yang pada waktu-waktu tertentu ikannya diambil oleh penduduk huta setempat secara bersama-sama. Kegiatan bersama untuk mengambil ikan dari tobat milik raja yang dinamakan mambungkas tobat bolak ini biasanya dilakukan setahun sekali. Dapat dikatakan bahwa kegiatan mambungkas tobat bolak ini merupakan sumbangsih raja kepada rakyatnya dan juga suatu bentuk hiburan yang dapat menggembirakan rakyatnya.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>4. Dalian Na Tolu</strong></span><br />
Sistem kekerabatan orang Mandailing adalah patrilineal, dan hubungan kekerabatannya dapat ditinjau berdasarkan pertalian darah dan perkawinan yang terpola. Dalam hal ini, orang Mandailing mengelompokkan diri menjadi tiga kelompok kekerabatan yang menjadi tumpuan dasar bagi berbagai aktivitas sosial-budaya mereka.</p>
<p>Menurut adat-istiadat, ketiga kelompok kekerabatan tersebut masing-masing berkedudukan sebagai mora, yaitu pemberi anak gadis, anak boru, adalah penerima anak gadis, dan kahanggi adalah kelompok kerabat satu marga, yang ketiganya terikat satu sama lain berdasarkan hubungan fungsional dalam satu sistem sosial yang dinamakan Dalian Na Tolu (“tumpuan yang tiga”). Dengan menggunakan sistem sosial Dalian Na Tolu itulah orang Mandailing mengatur dan melaksanakan berbagai aktivitas sosial-budayanya serta membentuk suatu persekutuan hukum (adattrechts gemeenschap) yang nama aslinya Janjian.</p>
<p>Selain tiga kelompok kekerabatan di atas, orang Mandailing juga mengenal kelompok kekerabatan lain sebagai kelompok kekerabatan tambahan yang sebenarnya berasal dari tiga kelompok kekerabatan inti, yaitu mora ni mora dan pisang raut. Mora ni mora adalah kelompok mora daripada mora, dan pisang raut (adakalanya juga disebut kijang jorat) adalah anak boru daripada anak boru. Selain itu ada pula kelompok kekerabatan yang disebut kahanggi pareban, yaitu kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga batih yang berlainan marga namun sama-sama merupakan anak boru dari satu keluarga yang bermarga tertentu.</p>
<p>Berdasarkan pertalian darah terdapat kelompok kerabat yang dinamakan saompu parsadaan (satu kakek bersama), saompu (satu kakek), sabagas (serumah), saudon (seperiuk) dan saama-saina (seayah-sibu). Kelompok kerabat yang disebut saompu adalah kumpulan orang-orang semarga yangmerupakan cucu dari beberapa orang kakek yang bersaudara kandung (kakak beradik); sabagas adalah kumpulan sejumlah anak semarga yang bersaudara kandung; saudon adalah kumpulanorang-orang semarga yang merupakan cucu dari seorang kakek; dan saama-saina adalah kumpulansejumlah anak dari pasangan ayah dan ibu kandung, yang di dalamnya tidak termasuk anak tiri dananak angkat.</p>
<p>Menurut Pangaduan Lubis, olong (kasih sayang) adalah nilai budaya Mandailing tertinggi dan paling abstrak yang merupakan landasan bagi hubungan fungsional di antara ketiga kelompok kekerabatan tersebut, yang lahir karena pertalian darah dan hubungan perkawinan sebagai inti kehidupan ketiga kelompok kekerabatan itu. Sehingga secara filosofis orang Mandailing yang masing-masing terintegrasi ke dalam kelompok kekerabatan mora, kahanggi dan anak boru yang terikat hubungan fungsional tersebut senantiasa menempatkan diri mereka sebagai orang-orang yang sahancit sahasonangan dan sasiluluton sasiriaon (sakit dan senang dirasakan bersama). Sebagai konsekuensi dari pandangan filosofis yang demikian itu adalah bahwa orang Mandailing menjadi sahata saoloan satumtum sapartahian (seia sekata menyatu dalam mufakat untuk sepakat) dan mate mangolu sapartahian (hidup dan mati dalam mufakat untuk sepakat).<br />
Lebih jauh Pangaduan Lubis menjelaskan, bahwa sejalan dengan terciptanya suatu system sosial yang ideal berupa “jaringan besar”, maka orang Mandailing secara filosofis-simbolik memolakan dirinya seperti sebuah “jala” berbentuk segi tiga sama sisi. Setiap sudutnya merupakan posisi penting dalam mengatur hak dan kewajiban setiap kelompok kekerabatan. Oleh karena itu pada sudut puncaknya ditempatkan kelompok kekerabatan mora, dan pada dua sudut lainnya ditempatkan pula kelompok kekerabatan kahanggi dan anak boru. Posisi ketiganya bisa saja beralih sewaktu-waktu akibat terjadinya praktek perkawinan, dan hubungan perkawinan pulalah yang menciptakan sisi-sisi yang terentang menautkan ketiganya sehingga terbentuk pola dasar kehidupan sosial-budaya orang Mandailing berupa segi-tiga besar. Di dalamnya secara fungsional terintegrasi sejumlah besar segi tiga-segi tiga kelompok kekerabatan yang kecil-kecil mengikuti pola dasar yang menjadi acuannya. Sebagai suatu totalitas, segi tiga besar itu bersama segi tiga-segi tiga kecil yang menjadi isinya menjelma menjadi sistem Dalian Na Tolu.</p>
<p>Sebagaimana halnya dengan sebuah “jala”, seluruh tali-temali jaringannya dipersatukan oleh satu tali pegangan yang mengikat dari sudut puncaknya. Menurut filsafat orang Mandailing, “tali pegangan” itulah olong yang menyatukan setiap kelompok kekerabatan maupun anggota masyarakat Mandailing dalam satu sistem sosial yaitu Dalian Na Tolu, yang secara filosofis-simbolik dapat digambarkan seperti berikut:<br />
Selain kelompok kekerabatan yang telah dikemukakan di atas, ada pula jenis pengelompokan lain, yaitu apa yang lazim disebut koum-sisolkot. Istilah koum-sisolkot ini terbentuk dari dua kata, yaitu koum dan sisolkot, yang masing-masing mengandung makna klasifikatoris dalam konteks sistem kekerabatan. Koum merupakan istilah kekerabatan yang dirujuk berdasarkan hubungan perkawinan, sedangkan sisolkot dirujuk berdasarkan pertalian darah. Oleh sebab itu orang-orang yang semarga (disebut markahanggi) lazim pula disebut dengan istilah marsisolkot. Sementara pengertian koum meliputi anggota yang lebih banyak dan cakupannya lebih luas karena di dalamnya terintegrasi kelompok kekerabatan mora, kahanggi dan anak boru, tetangga dekat dan lain sebagainya. Dengan memperhatikan istilah koum-sisolkot ini yang didahului kata koum dan bukan sebaliknya, barangkali hal ini bukanlah terjadi secara kebetulan dan tanpa makna tertentu yang terkandung di dalamnya. Jika diasumsikan bahwa “bahasa menentukan corak kebudayaan”, maka ada kemungkinan bahwa istilah koum-sisolkot ini merupakan reflekasi dari corak kebudayaan atau paling tidak ada terdapat nilai budaya di dalamnya yang berakar dari adat-istiadat orang Mandailing, sehingga dapat diasumsikan bahwa “orang Mandailing dalam banyak hal tidak lebih mengutamakan sisolkot-nya dalam kehidupannya, tetapi lebih mendahulukan koum yang secara sosialpsikologis dan territorial lebih dekat dengannya”.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>5. Adat Pergaulan Kekerabatan</strong></span><br />
Interaksi sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat Mandailing dilandasi oleh adat-istuadat. Dalam satu keluarga batih misalnya, hubungan antara orang tua dengan anak-anaknya yang masih kecil boleh dikatakan berlangsung cukup akrab penuh kasih sayang. Akan tetapi hubungan seorang ayah baik dengan anak perempuannya yang sudah berstatus sebagai bujing-bujing sangat terbatas karena dibatasi oleh norma-norma adat. Sang ayah senantiasa membatasi diri untuk berdialog dengan anak perempuannya yang telah dewasa tersebut, demikian pula sebaliknya si anak gadis merasa sungkan dan malu untuk memperbincangkan berbagai hal dengan ayahnya. Keadaan ini membuat seorang anak perempuan yang telah dewasa merasa lebih dekat dan akrab dengan ibunya. Demikian pula halnya dengan seorang anak laki-laki yang telah dewasa juga membatasi hubungannya dengan ibunya. Oleh sebab itulah anak-anak mereka yang telah dewasa tersebut tidak tidur bersama-sama dengan orang tua di rumah, melainkan di rumah atau tempat tertentu. Para anak gadis tidur bersama kawan-kawan sebayanya di sebuah rumah yang disebut bagas podoman, sedangkan para pemuda tidur bersama kawan-kawannya di sopo podoman.</p>
<p>Sementara itu, interaksi sosial antara seorang pemuda dengan saudara perempuannya yang sudah dewasa (bujing-bujing) tidak boleh terbuka dan akrab. Di masa lalu, pantang bagi seorang pemuda untuk berlama-lama di dalam rumahnya manakala saudara perempuannya (disebut iboto) tersebut juga berada di dalam rumah. Lebih luas lagi, hal yang demikian itu berlaku bagi pemuda dan anak gadis yang semarga yang disebut mariboto. Dalam sistem kekerabatan Dalian Na Tolu, interaksi sosial antara mora dan anak boru berlandaskan hak dan kewajiban masing-masing terhadap satu sama lain. Dalam hal ini, pihak anak boru mengemban fungsi sebagai sitamba na urang siorus na lobi (si penambah yang kurang si pengurang yang lebih). Karena kewajibannya yang demikian itu, anak boru dikenal pula sebagai na manorjak tu pudi juljul tu jolo (yang menerjang ke belakang menonjol ke depan), yang maksudnya pihak anak boru ini sudah semestinya membela kepentingan dan kemuliaan pihak mora, atau dengan kata lain pihak anak boru harus sangap marmora (menghormati dan memuliakan pihak mora). Di samping itu, anak boru juga diibaratkan sebagai si tastas nambur (penghalau embun pagi pada semak belukar), yang artinya pihak anak boru berkewajiban sebagai perintis jalan (barisan terdepan) untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi pihak mora.<br />
Semua itu mesti dilaksanakan pihak anak boru karena ia berkewajiban manjuljulkon morana (mengangkat harkat dan martabat pihak mora). Sebaliknya, pihak mora berkewajiban untuk elek maranak boru (menyayangi dan mengasihi pihak anak boru) agar pihak anak boru senantiasa manjuljulkon morana.</p>
<p>Terhadap kahanggi (saudara semarga), setiap orang biasanya selalu berusaha bersikap hati-hati. Sebab kahanggi sangat penting artinya bagi setiap individu karena berbagai persoalan hidup seperti perkawinan, kematian dan mencari nafkah terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan kahanggi. Untuk hal ini, para orang tua senantiasa memberi nasihat untuk manta-manat markahanggi (bersikap hati-hati terhadap kahanggi) agar tidak timbul perselisihan di antara sesama mereka yang semarga. Orang-orang semarga yang disebut markahanggi ini diharapkan selalu dapat bekerjasama dalam menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan, seperti yang tersurat dan tersirat dalam endeende berikut ini :<br />
songon siala sampagul seperti buah siala yang menyatu<br />
rap tu incat rap tu toru sama-sama ke atas dan ke bawah<br />
muda malamun saulak lalu apabila masak sekaligus semuanya<br />
muda magulang rap margulu apabila terguling sama-sama berlumpur</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>6. Adat Pergaulan Na Poso Na Uli Bulung</strong></span><br />
Dalam interaksi sosial sehari-hari, anak laki-laki diberi nama panggilan lian dan sebutan taing diperuntukkan bagi anak perempuan. Nama panggilan lianberasal dari kata dalian, dan istilah taingberasal dari kata tataring. Kedua istilah nama panggilan bagi anak laki-laki dan anakperempuan tersebut ada kaitannya dengan peralatan memasak di dapur rumah. Di Mandailing, tataring adalah suatu tempat khusus untuk memasak yang terletak di sudut ruangan dapur rumah. Tataring berbentuk kubus dengan ukuran sekitar 100 x 80 x 20 centi meter. Dindingnya terbuat dari gogat (bambu yang dipecah) atau kayu (papan), dan bagian dalamnya terisi penuh dengan tanahkering. Di atas tataring ini biasanya terdapat dua tumpukan batu yang masing-masing terdiri atastiga buah batu bulat lonjong yang ditata dengan posisi seperti bentuk segi tiga sama sisi.Tumpukan batu yang dipergunakan untuk menyangga peralatan memasak seperti udon tano (belanga) tersebut disebut dalian. Jadi dalam hal ini pengertian dalian adalah suatu alat yangberfungsi sebagai penyangga atau tumpuan, dan tataring itu sendiri merupakan landasan ataupijakan dari dalian tersebut. Dapat ditambahkan bahwa seorang ibu rumah tangga dinamakan pula induk ni tataring.</p>
<p>Sebelumnya telah dikemukakan bahwa para pemuda dan anak gadis memiliki kebiasaan tidur secara berkelompok di luar rumah orang tuanya. Rumah tempat tidur khusus bagi anak perempuan disebut bagas podoman, sedangkan tempat untuk tidur bagi para pemuda dinamakan sopo podoman. Biasanya para anak gadis pergi ke bagas podoman mereka sekitar pukul 20.00 WIB (malam hari) dan pada waktu subuh mereka kembali ke rumah masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu pekerjaan orang tua mereka di sawah atau di ladang, dan demikian pula halnya dengan para pemuda. Boleh dikatakan bahwa hampir semua kebutuhan hidup para pemuda dan anak gadis masih ditanggung oleh orang tuanya.<br />
Tidaklah dianggap pantas apabila seorang anak gadis berkeliaran atau pergi ke suatu tempat hanya seorang diri. Sebab kelakukan seperti itu dapat menimbulkan prasangka buruk di tengah tengah masyarakat. Ketika seorang anak anak gadis hendak keluar rumah misalnya untuk bertemu dengan temannya, dia ditemani oleh inang (ibu kandung), etek (adik perempuan ibu), bouk (kakak perempuan ayah), atau paling tidak oleh anggi (adik) kandungnya sendiri. Ketika berada di luar rumah tersebut, si anak gadis biasanya tidak akan melewati tempat-tempat berkumpulnya kaum pria seperti lopo (kedai kopi) atau sopo podoman. Hal ini dilakukan untuk menjaga martabat dirinya agar warga masyarakat tidak memandangnya sebagai bujing-bujing na urgit (anak gadis yang genit). Dari sisi lain, busana yang dikenakan para anak gadis cukup sopan karena pada bagian kepala mereka tutup dengan busaen atau songkok (kerudung), sedangkan bagian badan dan kaki terbungkus dengan baju kurung (baju terusan) dan abit (kain sarung bermotif kembang).</p>
<p>Sebaliknya ruang gerak para pemuda boleh dikatakan lebih bebas daripada anak gadis. Di saat-saat tertentu para pemuda acap kali tampak bergerombol misalnya sewaktu mereka mardalan-dalan (jalan-jalan) di sore hari, dan pada malam harinya mereka berkumpul di sopo podoman. Dahulu, dalam penampilannya sehari-hari para pemuda selalu memakai kupiah (peci) dan tidak ketinggalan pula sebuah abit karung (kain sarung bermotif garis-garis lurus) yang disandangkan pada bagian pundak atau dililitkan pada bagian pinggangnya. Mereka biasanya mengenakan baju gunting cino (baju model Cina) dan saraor panjang (celana panjang). Selain itu, setiap pemuda umumnya memiliki sebuah piso balati (pisau belati) yang banyak gunanya bagi mereka seperti misalnya untuk membuat alat musik tiup tulila atau membuat lubang pangkusipan.<br />
Kendati ruang gerak pergaulan Na Poso Na Uli Bulung dibatasi oleh adat-istiadat yang ketat, namun ada beberapa kesempatan tertentu yang memungkinkan mereka berinteraksi yang dapat dibagi dalam tiga bentuk kegiatan. Pertama, adalah kegiatan bersama dengan warga masyarakat lainnya seperti pada acara marburangir atau paboru-boruon13 di dalam rumah calon mempelai pria sebelum upacara adat perkawinan dilangsungkan beberapa hari kemudian. Kedua, adalah kegiatan muda-mudi dalam mengisi waktu-waktu senggang mereka seperti acara mangarabar. Dan ketiga, adalah interaksi muda-mudi dalam kegiatan berkencan yang bersifat rahasia, yaitu markusip.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>7. Stratifikasi Sosial</strong></span><br />
Pada masyarakat Mandailing ada ditemukan stratifikasi (pelapisan) sosial yang telah berlangsung secara turun-temurun dalam tiga lapisan, yaitu : (1) na mora-mora, adalah golongan bangsawan; (2) alak na jaji atau si tuan na jaji, adalah orang kebanyakan atau rakyat biasa; dan (3) hatoban atau partangga bulu, adalah hamba sahaya. Namun di beberapa huta di Mandailing, antara lapisan na mora-mora dan alak na jaji terdapat lapisan perantara yang disebut na toras-toras, adalah pemukapemuka masyarakat yang tidak berstatus bangsawan maupun orang biasa, atau boleh dikatakan kedudukan na toras-toras lebih rendah dari kaum bangsawan tetapi lebih tinggi dari rakyat biasa.</p>
<p>Na mora-mora merupakan kelompok tersendiri dalam kelompok marga-nya, yang secara patrilineal berasal dari pendiri pertama huta mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pada mulanya status kebangsawanan dahulu tidaklah dibawa lahir melainkan karena penghargaan yang tinggi dari anggota masyarakat terhadap pendiri pertama huta mereka tersebut, setelah itu barulah tahta kerajaan diwariskan secara berantai kepada keturunanya. Karena yang dipandang sebagai pendiri pertama sejumlah huta di Mandailing adalah bermarga Lubis dan Nasution, sehingga hanya pada kedua marga itu saja yang muncul lapisan na mora-mora. Sedangkan na toras-toras yang jumlahnya relatif sedikit itu tercipta dari kelompok-kelompok kerabat yang anggotanya ada hubungan perkawinan dengan kerabat dekat raja atau na mora-mora. Jadi pada umumnya kelompok marga yang terdapat di Mandailing adalah lapisan alak na jaji.</p>
<p>Boleh dikatakan bahwa perbedaan antara na mora-mora dan alak na jaji tidaklah begitu menonjol dalam kehidupan sehari-hari karena sesungguhnya antara na mora-mora dan alak na jaji yang semarga senantiasa menyadari bahwa kedua belah pihak memiliki hubungan sedarah. Sedangkan terhadap marga-marga lainnya yang tergolong sebagai alak na jaji, biasanya na moramora mempunyai hubungan kekerabatan berdasarkan ikatan tali perkawinan.</p>
<p>Lapisan terbawah yaitu hatoban atau partangga bulu dapat dibagi ke dalam tiga kategori berdasarkan hal-hal yang menyebabkan mereka menjadi bagian dari lapisan tersebut. Pertama, karena mereka tidak membayar utangnya; kedua, mereka adalah orang-orang yang sengaja dibeli untuk dijadikan sebagai hamba sahaya; dan ketiga, mereka diperhamba karena mereka kalah dan takluk dalam peperangan. Kaum bangsawan di Mandailing dapat diidentifikasi dengan mudah karena mereka biasanya menyandang gelar antara lain: Raja, Sutan, Mangaraja, dan Baginda. Di samping itu, rumah tempat tinggal mereka dihiasi dengan ornamen-ornamen khas yang disebut bagas na martanduk atau bagas na marbolang.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>8. Si Pelebegu</strong></span><br />
Masa sebelum masuknya agama Islam ke Mandailing, orang-orang yang bermukim di sana pada waktu itu menganut sistem kepercayaan animisme yang dinamakan si pelebegu (pemujaan roh-roh). Namun demikian keterangan mengenai sistem kepercayaan si pelebegu ini sekarang sangat sulit diperoleh karena orang-orang Mandailing selalu berusaha menutup diri apabila sistem religi leluhur mereka itu dipertanyakan. Keadaan di masa lalu sebagai “masa yang hitam dan kelam” itu mereka sebut maso na itom na robi.</p>
<p>Pada tahun 1999, saya bersama dengan Fumi Tamura dan kawan-kawannya pernah mengaudio-visualkan seni pertunjukan gordang sambilan di Sayurmaincat, Kotanopan, Mandailing Julu. Salah satu repertoar (lagu) yang dimainkan dengan gordang sambilan ketika itu adalah gondang mamele begu (irama atau musik untuk memuja roh-roh). Hal ini menunjukkan bahwa gordang sambilan memiliki kedudukan dan peran penting dalam sistem kepercayaan si pelebegu di masa lalu. Dalam hal ini, Pangaduan Lubis ada mencatatkan, bahwa “sampai sekitar awal abad ke-20, sisa dari sistem religi kuno itu masih tampak bekasnya dalam kehidupan masyarakat Mandailing meskipun agama Islam telah merata menjadi anutan orang Mandailing. Di beberapa tempat misalnya masih dilakukan orang upacara pemanggilan roh yang disebut pasusur begu atau marsibaso yang sangat dikutuk oleh para ulama Islam. Sesuai dengan tradisi si pelebegu upacara tersebut dilakukan untuk meminta pertolongan roh leluhur buat mengatasi suatu keadaan yang sulit, seperti misalnya musim kemarau panjang yang merusak tanaman padi penduduk. Orang-orang yang sempat menyaksikan upacara tersebut sulit membantah bahwa mereka memang melihat turunnya hujan lebat di tengah kemarau panjang setelah selesainya upacara ritual itu”.</p>
<p>Beberapa orang yang sudah cukup tua di Mandailing ada menyebut dua tokoh yang dituakan dengan sistem kepercayaan si pelebegu, yaitu sibaso dan datu. Sibaso dalam banyak hal Sangay dibutuhkan oleh raja dan penduduk huta untuk melakukan hubungan komunikasi dengan alam gaib atau roh leluhur karena sibaso merupakan medium yang melalui suatu upacara ritual tertentu dapat dirasuki oleh roh leluhur untuk memberi petunjuk guna mengatasi berbagai macam bala (mala petaka) seperi persoalan kemarau panjang dan penyakit menular yang mewabah. Sampai saat ini, datu masih memiliki kedudukan dan peran penting dalam masyarakat Mandailing. Datu dikenal dan dibutuhkan sebagai tradisional curer (penyembuh tradisional) atau sebagai medicine man (dukun untuk mengobati). Di setiap huta biasanya terdapat beberapa orang datu, ada datu yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit, namun ada pula datu yang menjurus kepada spesialisasi penyembuhan penyakit-penyakit tertentu, seperti misalnya datu rasa khusus untuk menyembuhkan orang yang terkena rasa (racun); datu ipon adalah dukun yang khusus menyembuhkan orang yang sedang mengalami sakit gigi; dan datu natarsilpuk adalah dukun khusus untuk mengobati orang yang mengalami sakit karena terkilir atau patah tulang.</p>
<p>Di masa lalu, kedudukan dan peran datu lebih luas daripada yang diuraikan di atas, karena seorang datu antara lain dapat menentukan waktu-waktu yang tepat dan baik untuk turun ke sawah, menuai padi, pelaksanaan upacara adat perkawinan maupun untuk memasuki rumah baru. Di samping itu, kemampuannya dalam meramal diperlukan untuk melihat kapan datangnya suatu bencana atau sebaliknya keberuntungan, dan ilmu gaibnya yang luar biasa itu dibutuhkan untuk menangkal atau menyembuhkan penyakit akibat guna-guna. Seorang datu selalu diresahi tanggungjawab untuk memimpin berbagai upacara adat dan ritual karena ia dipandang sebagai “gudang ilmu”. Datu sebagai pendamping raja mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk memberikan berbagai macam traditional wisdom (kearifan tradisional) yang sangat dibutuhkan guna kesempurnaan hidup komunitas huta”.</p>
<p>Orang-orang yang bermukim di Mandailing sekarang umumnya sudah memeluk agama Islam dan sudah sejak lama para ulama Islam berusaha untuk mengikis habis kepercayaan si pelebegu. Namun di antara orang-orang Mandailing hingga kini masih ada yang melaksanakan berbagai upacara adat yang sangat erat kaitannya dengan religi kuno itu, seperti ritus mangupa-upa (upacara untuk memanggil tondi guna membangkitkan semangat hidup seseorang) dan marpangir (tradisi berlangir) di batang aek (sungai), sehingga pelaksanaan ritus-ritus tersebut selalu menjadi sumber perdebatan yang tak kunjung habisnya antara tokoh-tokoh adat dan para ulama Islam di Mandailing.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>9. Bahasa Mandailing</strong></span><br />
Masyarakat Mandailing memiliki bahasanya sendiri, yaitu bahasa Mandailing. Berdasarkan klasifikasi bahasa yang ditawarkan Slamet Mulyana, bahasa Mandailing termasuk rumpun bahasa Austronesia. Pangaduan Lubis ada mengemukakan bahwa di dalam bahasa Mandailing terdapat lima ragam bahasa yang masing-masing kosa katanya berbeda satu sama lain.</p>
<p>Ke lima ragam bahasa itu adalah: (1) hata somal, yaitu ragam bahasa yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari; (2) hata andung, yaitu ragam bahasa sastra yang dipakai dalam tradisi mangandung (meratap) pada upacara adat perkawinan atau kematian; (3) hata teas dohot jampolak, yaitu ragam bahasa yang dipakai dalam pertengkaran atau mencaci-maki seseorang; (4) hata si baso, yaitu ragam bahasa yang secara khusus digunakan si baso (tokoh shaman) atau datu (dukun); dan (5) hata parkapur, yaitu ragam bahasa yang dipergunakan orang Mandailing di masa lalu ketika mereka berada di dalam hutan untuk mencari kapur barus. Misalnya, kata “mata” dapat dipakai untuk memperlihatkan kosa katanya. Dalam hata somal, indra penglihatan ini disebut mata, dalam hata andung adalah simanyolong, dan dalam hata teas dohot jampolak adalah loncot. Contoh lain, kata “daun sirih” dalam hata somal adalah burangir, dalam hata andung adalah simanggurak, dan dalam hata si baso atau datu adalah situngguk. Selain itu, kata “harimau” dalam hata somal adalah babiat, sedang dalam hata parkapur adalah ompung i, raja i, na gogo i.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Huruf Tulak-tulak, aksara tradisional Mandailing</strong></span><br />
Di masa lalu orang Mandailing juga memiliki satu alat komunikasi atau jenis bahasa tertentu yang disebut hata bulungbulung (bahasa dedaunan). Bahasa ini bukanlah berupa lambang bunyi, melainkan menggunakan daun tumbuh-tumbuhan sebagai perlambangnya. Hata bulung-bulung ini biasanya dipergunakan na poso na uli bulung (kalangan muda-mudi) sebagai alat komunikasi dalam memadu dan mengungkapkan perasaan cinta secara rahasia. Sebab menurut adat-istiadat lama, na poso-poso (para pemuda) dan bujing-bujing (para anak gadis) tidak boleh bergaul bebas dan terbuka di depan umum, sehingga perasaan cinta yang bagaimanapun menggeloranya di antara pemuda dan anak gadis harus tetap dirahasiakan. Dengan adanya adat-istiadat yang demikian itu, hata bulung-bulung dimanfaatkan sebagai salah satu media untuk saling mengkomunikasikan perasaan dan isi hati mereka.</p>
<p><strong>Kepustakaan</strong><br />
Koentjaraningrat. (1980: Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru<br />
Pangaduan Lubis. (1986). Na Mora Na Toras; Kepemimpinan Tradisional Mandailing. Medan: Skripsi FISIP USU<br />
Zulkifli B. Lubis. (1988). Manipol: Studi tentang Orientasi Nilai Budaya Mandailing. Medan: Skripsi FISIP USU<br />
Pangaduan Lubis. (1990). Sastra Mandailing dan Kita: Suatu Perkenalan Awal, (makalah dalam Seminar Kebudayaan Mandailing di Fakultas Sastra USU Medan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Biography Penulis:</p>
<p style="text-align: left;"><a rel="attachment wp-att-5262" href="http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-1/edi-nasution/"></a>hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan &#8211; Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://bayosuti.blogspot.com">http://bayosuti.blogspot.com</a></p>
</blockquote>
<p>Sumber Tulisan<br />
http://edinasution.files.wordpress.com/2007/05/etnografi-mandailing.pdf</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/06/banua-dan-alak-mandailing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Orang Batak Temperamental?</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/mengapa-orang-batak-temperamental/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/mengapa-orang-batak-temperamental/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 12:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=9008</guid>
		<description><![CDATA[Orang Medan, lebih khusus lagi orang Batak, kerap dianggap sebagai pribadi yang temperamental. Emosinya mudah naik, belum lagi nada bicara dan volume suaranya yang tinggi dan sangat terus terang. Perlukah dikendalikan?
“Kalau tidak berpikir panjang, saya bisa naik pitam....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Medan, lebih khusus lagi orang Batak, kerap dianggap sebagai pribadi yang temperamental. Emosinya mudah naik, belum lagi nada bicara dan volume suaranya yang tinggi dan sangat terus terang. Perlukah dikendalikan?</p>
<p>“Kalau tidak berpikir panjang, saya bisa naik pitam saat bicara dengan keluarga suami saya,” ujar Lita, wanita Jawa yang menikah dengan pria Batak. Bagi Lita, bicara dengan nada tinggi dan volume keras, serta blak-blakan merupakan hal yang sama sekali ditentang dalam ajaran keluarganya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 307px"><img src="http://www.mccuetribalart.com/masks/BatakMskbw.jpg" alt="" width="297" height="396" /><p class="wp-caption-text">Batak Mask (www.mccuetribalart.com)</p></div>
<p>“Kadang saya terpancing mau marah karena menganggap mereka tidak sopan kalau bicara. Tapi terus ingat lagi, oh ya mereka orang Batak. Habis, suami saya karakternya sudah seperti orang Jawa sih,” tambah Lita yang bertemu suaminya saat kuliah di Yogya itu.</p>
<p>Tapi jangan salah kira dulu. Nada tinggi belum bisa dijadikan patokan bahwa orang Medan atau orang Batak temperamental, kata sosiolog sekaligus antropolog dari Universitas Negeri Medan, Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak.</p>
<p>Nada tinggi yang biasa keluar dari mulut orang Medan biasa dijumpai pada orang Batak dari pegunungan, seperti daerah Samosir. “Karena di sana wilayah perkampungannya jauh-jauh, di daerah pegunungan pula. Sehingga mereka harus berteriak-teriak untuk memanggil. Tapi hatinya belum tentu keras, sehingga tidak terpancing emosinya. Apalagi yang sudah terdidik,” tutur Prof. Bungaran.</p>
<p>Atas dasar itulah hipotesa yang mengatakan orang Medan atau orang Batak itu temperamental baginya tidak benar. Hal senada juga dikatakan Dra. Mustika Tarigan. Dosen Psikologi Perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Nada tinggi memang menjadi karakter orang Medan, tapi nada tinggi tidak otomatis menjadi indikasi temperamental.</p>
<p>“Karakter mereka memang ekspresif. Dan cara mengekspresikannya sendiri lebih ekstrem, jadi terkesan emosional. Tapi tidak semuanya temperamental,” katanya. Ia maklum bagi orang dari daerah lain karakter seperti itu terkesan berlebihan.</p>
<p><strong>Marah Itu Perlu</strong><br />
Temperamental merupakan keadaan yang terkait dengan emosi. Contohnya orang yang mengendarai mobil lalu mengumpat, “Kurang ajar!” setelah diserobot secara tiba-tiba oleh tukang becak, merupakan luapan dari emosi dalam bentuk marah.</p>
<p>“Ungkapan marah itu diperlukan, karena manusia bukanlah superman yang bisa mengemas diri semanis mungkin saat marah. Yang perlu diingat adalah, boleh marah tapi lihat ketupatnya,” tambah Mustika. Ketupat yang dia maksudkan adalah keadaan, waktu dan tempat. Perlu diperhatikan juga obyek kemarahan, kadar kemarahan, serta tujuan dari amarahnya itu sendiri.</p>
<p>Misalnya, orangtua yang marah kepada anaknya mempunyai tujuan baik, supaya anaknya menjadi baik. “Tapi ada juga yang untuk show off, menunjukkan bahwa dirinya punya power atau kekuasaan. Nah, itu tidak benar,” terangnya.</p>
<p><strong>Nada Tinggi</strong><br />
Nada tinggi yang diidentikkan dengan cara bicara orang Medan tidak selalu bisa disamakan dengan kemarahan, walaupun perasaan marah orang Medan lebih banyak diekspresikan dengan nada tinggi dan bahasa tubuh yang terlihat jelas.</p>
<p>Di satu sisi nada tinggi yang ekspresif itu bisa membuat lega, enak, dan puas orang yang mengekspresikannya karena ’sampah’ yang berada dalam dirinya keluar. Tapi, seperti diakui oleh Dra. Mustika, dampaknya bisa membuat orang lain tersinggung dan tidak bisa menerima ekspresi amarah yang terlontar itu.</p>
<p>Belum lagi adrenalin orang yang bersangkutan juga akan naik. Apa akibatnya? “Ia akan cepat lelah. Makanya, orang yang marah itu akan capek karena energinya terkuras. Itu sebabnya untuk mendinginkan diperlukan minuman,” ucapnya.</p>
<p>Di masyarakat lain bisa jadi kemarahan tetap diekspresikan dengan nada lembut atau malah diam lalu meninggalkan orang yang membuatnya marah tadi. Menurut Dra. Mustika, “Diam atau escape sebentar dari amarah merupakan cara mengontrol amarah, dan baru dicetuskan kemudian bila situasinya bagus. Kita bisa bilang, ’saya kok jadi marah ya dengan sikap kamu’. Bukan dengan kata-kata, ‘kamu membuat saya marah’. Karena kalau begitu, kita menyalahkan orang lain.”</p>
<p><strong>Perlu Dikendalikan</strong><br />
Bagaimana pun menekan amarah itu tidak bagus, kata Dra. Mustika, sedangkan yang benar adalah mengontrol atau mengendalikannya. Ia mengakui bahwa untuk mengontrol atau mengendalikannya tidak mudah, butuh waktu mempelajarinya.</p>
<p>“Apa boleh buat, kita harus mengelola emosi. Caranya bisa dengan banyak bergaul atau meminta feedback atau umpan balik dari orang lain. Lalu juga harus menyadari bahwa permasalahan tidak akan selesai dengan luapan emosi,” tutur perempuan yang juga bergerak di LSM Pusat Kajian Perlindungan Anak ini.</p>
<p>Mengapa orang Batak yang tinggal di Pulau Jawa misalnya bisa tidak seemosional yang di Medan? Jangan lupa faktor lingkungan yang turut mempengaruhi emosi.</p>
<p>“Komunitas atau lingkungan akan berpengaruh terhadap diri seseorang. Maka orang Medan yang telah banyak bergaul dengan masyarakat heterogen, emosinya juga lebih terkontrol.</p>
<p>Tapi siapa pun kita, jika mau marah sebaiknya pertimbangkan dulu baik buruknya supaya tidak membuat orang lain maupun diri sendiri sakit.</p>
<p>Sumber : <em><span style="color: #ff0000;">(Diana Yunita Sari) Harian Kompas &#8211; http://www.silaban.net/2002/08/01/mengapa-orang-batak-temperamental/</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/mengapa-orang-batak-temperamental/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BOLANG &#8211; Ornamen Tradisional Mandailing</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/bolang-ornamen-tradisional-mandailing/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/bolang-ornamen-tradisional-mandailing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 16:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=8115</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edi Nasution
Di Mandailing, berbagai macam bentuk ornamen (hiasan) tradisional dapat kitatemukan pada bagian tutup ari dari Sopo Godang (Balai Sidang Adat) danBagas Godang (Rumah Besar Raja). Dalam bahasa Mandailing, ornamen-ornamen tersebut disebut bolang yang juga berfungsi sebagai....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Edi Nasution</p>
<p><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/tutup-ari.gif"><img class="size-full wp-image-501 alignleft" title="tutup ari" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/tutup-ari.gif" alt="" width="334" height="308" /></a>Di Mandailing, berbagai macam bentuk ornamen (hiasan) tradisional dapat kitatemukan pada bagian tutup ari dari Sopo Godang (Balai Sidang Adat) danBagas Godang (Rumah Besar Raja). Dalam bahasa Mandailing, ornamen-ornamen tersebut disebut bolang yang juga berfungsi sebagai simbol atau lambang itu memiliki makna-makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Mandailing. Di dalamnyaterkandung nilai-nilai, gagasan-gagasan, konsep-konsep, norma-norma, kaidah-kaidah, hukum dan ketentuan adat-istiadat yang menjadi landasan dan pegangan dalammengharungi bahtera kehidupan. Bolang atau ornament tradisionalMandailing yang digunakan sebagai Tutup Ariperlambang itu terbuat dari tiga jenismaterial: (1) tumbuh-tumbuhan, seperti batang bambu yang melambangkan huta atau bona bulu; burangir atau aropik melambangkan Raja dan Namora Natoras sebagai tempat meminta pertolongan; pusuk ni robung yang disebut bindu melambangkan adat Dalian Na Tolu atau adat Markoum-Sisolkot; (2) hewan atau binatang, seperti hala dan lipan melambangkan “bisa” yang mempunyai kekuatan hukum; ulok melambangkan keberasaran dan kemuliaan; parapoti melambangkan kegiatan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga; tanduk ni orbo melambangkan bangsawanan; (3) peralatan hidup sehari-hari, seperti timbangan dan podang melambangkan keadilan; takar melambangkan pertolongan bagi yang membutuhkan; loting melambangkan usaha-usaha dalam mencari nafkah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pembuatan bolang pada Sopo Godang dan Bagas Godang ini dilakukan dengan cara menganyam atau menjalin dan ada pula yang diukir. Bahan yang dipakai sebagai bahan anyaman adalah lembaran-lembaran bambu yang telah diarit dengan bentuk-bentuk terentu dan kemudian dipasang pada bagian tutup ari. Ornamen-ornamen itu sebagian besar diberi warna na rara (merah), na lomlom (hitam) dan na bontar (putih) yang erat kaitannya dengan kosmologi Mandailing. Dalam hal ini, na rara melambangkan kekuatan, keberanian dan kepahlawanan; na bontar melambangkan kesucian, kejujuran dan kebaikan; na lomlom melambangkan kegaiban (alam gaib) dalam sistem kepercayaan animisme yang disebut Sipelebegu. Berikut ini diterakan ornamen-ornamen yang terdapat pada tutup ari dari Sopo Godang dan Bagas Godang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bona-bulu.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-502" title="bona bulu" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bona-bulu.gif" alt="" width="485" height="74" /></a>1. Bona Bulu melambangkan sistem pemerintahan Huta<br />
Makna: Suatu wilayah pemukiman telah dapat dikategorikan sebagai huta atau bona bulu apabila sarana dan prasarananya telah lengkap antara lain: unsur-unsur Dalian Na Tolu (Mora, Kahanggi dan Anak Boru), Raja Pamusuk, Namora Natoras, Ulubalang, Bayo-bayo Nagodang, Datu dan Sibaso.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bindu-pusuk-ni-robung.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-503" title="bindu pusuk ni robung" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bindu-pusuk-ni-robung.gif" alt="" width="486" height="76" /></a>2. Bindu / Pusuk ni Robung melambangkan sistem organisasi sosial<br />
Makna: Kehidupan sosial-budaya masyarakat Mandailing berlandaskan Adat Dalian Na Tolu (Tiga Tungku Sejarangan) atau Adat Markoum-Sisolkot (adat berkaum-kerabat)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/burangir-aropik.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-504" title="burangir aropik" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/burangir-aropik.gif" alt="" width="480" height="69" /></a>3. Burangir / Aropik melambangkan fungsi Raja dan Namora Natoras<br />
Makna: Segala sesuatu perihal, baik itu menyangkut pelaksanaan upacara adat dan ritual harus terlebih dahulu meminta pertimbangan dan ijin kepada Raja dan Namora Natoras.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/sipatomu-topmu.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-505" title="sipatomu-topmu" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/sipatomu-topmu.gif" alt="" width="448" height="67" /></a>4. Sipatomu-tomu melambangkan hak dan kewajiban Raja dan rakyatnya<br />
Makna: Raja berkewajiban menjaga dan memelihara ketertiban dalam masyarakat agar mereka dapat hidup aman dan damai serta saling menghormati antar sesama demi tegaknya hukum dan adat.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bintang-na-toras.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-506" title="bintang na toras" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bintang-na-toras.gif" alt="" width="487" height="75" /></a>5. Bintang na Toras melambangkan pendiri huta<br />
Makna: Huta tersebut didirikan oleh Natoras yang sekaligus berkedudukan sebagai pimpinan pemerintahan dan pimpinan adat yang dilengkapi dengan Hulubalang, Bayo-bayo Nagodang, Datu, dan Sibaso.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/rudang.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-507" title="rudang" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/rudang.gif" alt="" width="448" height="72" /></a>6. Rudang melambangkan suatu Huta yang sempurna<br />
Makna: Huta tersebut lengkap dengan segala atribut kebesaran adatnya seperti pakaian adat, uning-uningan, senjata dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/raga-raga.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-508" title="raga-raga" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/raga-raga.gif" alt="" width="448" height="76" /></a>7. Raga-raga melambangkan keteraturan dan keharmonisan hidup bersama<br />
Makna: Hubungan antar kekerabatan sangat erat dan berlangsung secara harmonis dengan terjadinya hubungan perkawinan antar marga (klan), baik sesama warga huta maupun dengan orang yang berasal dari huta lain.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/sancang-duri.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-509" title="sancang duri" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/sancang-duri.gif" alt="" width="448" height="59" /></a>8. Sancang Duri melambangkan suatu kejadian yang tak terduga<br />
Makna: Seseorang yang datang ke suatu huta dan ia langsung ke Sopo Godang, maka Namora Natoras wajib memberinya makan selama ia berada di huta itu, dan apabila ia meninggalkan huta harus diberi bekal makanan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/jagar-jagar.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-510" title="jagar jagar" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/jagar-jagar.gif" alt="" width="448" height="68" /></a>9. Jagar-jagar melambangkan kepatuhan masyarakat terhadap adat-istiadat<br />
Makna: Dalam setiap huta telah ada ketentuan mengenai adat Marraja, adat Marmora, Markahanggi, Maranak boru, dan adat Naposo Nauli Bulung.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bondul-na-opat.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-511" title="bondul na opat" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bondul-na-opat.gif" alt="" width="482" height="67" /></a>10. Bondul na Opat melambangkan ketentuan dalam berperkara<br />
Makna: Setiap perkara adat akan diselesaikan di Sopo Godang (Balai Sidang Adat) oleh Namora Natoras, dan keputusan yang diambil harus adil sehingga tidak merugikan para pihak yang berperkara.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/alaman-bolak.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-512" title="alaman bolak" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/alaman-bolak.gif" alt="" width="478" height="74" /></a>11. Alaman Bolak (Alaman Silangse Utang) melambangkan wewenang dan kekuasaan Raja<br />
Makna: Kalau terjadi perkelaian misalnya dan salah seorang diantaranya berlari ke Alaman Bolak yang terdapat di depan Bagas Godang (Istana Raja), maka orang tersebut tidak boleh diganggu oleh siapapun. Kalau ada orang lain yang mengganggu, maka yang menjadi lawannya adalah semua warga huta.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bulan.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-513" title="bulan" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bulan.gif" alt="" width="239" height="180" /></a>12. Bulan melambangkan pelita hidup<br />
Makna: Bulan yang bersinar pada malam hari dapat menerangi mata hati segenap warga huta itu akan membawa mereka menuju taraf hidup yang lebih baik yaitu keberuntungan, kemuliaan dan kesejahteraan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/mata-ni-ari.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-514" title="mata ni ari" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/mata-ni-ari.gif" alt="" width="216" height="229" /></a>13. Mataniari melambangkan Raja yang adil dan bijaksana<br />
Makna: Seorang Raja yang memerintah dengan adil dan bijaksana akan membuat segenap warga huta merasa bahagia. Raja harus menjadi pelindung rakyatnya dalam segala hal, baik dalam adat maupun menyangkut kehidupan sehari-hari. Sikap Raja yang demikian disebut marsomba di balian marsomba di bagasan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/gimbang.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-515" title="gimbang" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/gimbang.gif" alt="" width="247" height="240" /></a>14. Gimbang melambangkan tingkat kepedulian sosial Raja yang tinggi<br />
Makna: Kepemilikan Raja atas sawah yang cukup luas dan persediaan bahan makanan (padi) yang cukup itu menjadi parsalian (tempat memohon bantuan) bagi setiap warga huta yang kekurangan bahan makanan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/takar.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-516" title="takar" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/takar.gif" alt="" width="213" height="226" /></a>15. Takar melambangkan keadilan social-ekonomi bagi setiap orang<br />
Makna: Setiap warga huta yang sedang mengalami kesusahan baik masalah makanan maupun hal-hal lainnya dapat meminta bantuan Raja. Demikian pula setiap orang wajib menolong orang lain yang kesusahan, baik pertolongan moril maupun materil.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/lading-upak.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-517" title="lading upak" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/lading-upak.gif" alt="" width="382" height="143" /></a>16. Lading / Upak melambangkan kesiap-siagaan<br />
Makna: Benda tajam ini cukup penting ini dalam berbagai aktifitas kehidupan sehari-hari. Selain itu juga dapat berguna sebagai senjata ketika pergi ke tengah hutan untuk berburu atau untuk kepentingan lainnya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/podang.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-518" title="podang" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/podang.gif" alt="" width="322" height="206" /></a>17. Podang melambangkan penegakan hukum<br />
Makna: Terhadap seseorang yang melanggar hukum, raja memiliki wewenang untuk memumutuskan apakah seseorang yang telah terbukti bersalah itu di hukum mati atau hukum gantung maupun hukuman buang (Pahabang Manuk Na Bontar).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/tanduk-ni-orbo.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-519" title="tanduk ni orbo" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/tanduk-ni-orbo.gif" alt="" width="201" height="231" /></a>18. Tanduk ni Orbo melambangkan kebangsawanan dan kekuasaan<br />
Makna: Setiap rumah yang memiliki tanduk kerbau pada bagian atas atap rumahnya menandakan bahwa yang punya rumah adalah Raja atau kaum Bangsawan yang memiliki pengaruh atau kekuasaan di dalam suatu huta.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/lipan.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-520" title="lipan" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/lipan.gif" alt="" width="448" height="156" /></a>19. Lipan melambangkan asas permusyawaratan untuk mufakat<br />
Makna: Setiap keputusan yang dihasilkan berdasarkan musyawarah bersama untuk mufakat merupakan landasan hukum yang memiliki kekuatan tetap dan bersifat memaksa.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/ulok.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-521" title="ulok" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/ulok.gif" alt="" width="370" height="135" /></a>20. Ulok melambangkan kedudukan dan fungsi Raja<br />
Makna: Raja pada setiap Huta memiliki kemuliaan dan kebesaran yang berfungsi sebagai pelindung dan pemersatu bagi segenap rakyatnya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/hala.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-522" title="hala" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/hala.gif" alt="" width="305" height="250" /></a>21. Hala melambangkan asas permusyawaratan untuk mufakat<br />
Makna: Keputusan bersama yang disebut ”Janjian” adalah dasar hukum yang paling kuat dan tidak dapat dibantuk oleh pihak manapun juga. Maknanya kurang lebih sama dengan pengertian lipan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/barapati.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-523" title="barapati" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/barapati.gif" alt="" width="274" height="188" /></a>21. Barapati / Parapoti melambangkan kegiatan mencari nafkah<br />
Makna: Kegiatan mencari nafkah hidup seperti burung merpati yang terbang di pagi hari untuk mencari nafkah, dan pada sore hari kembali ke rumah dengan membawa nafkah yang diperolehnya untuk dimakan bersama-sama keluarganya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/manuk-na-bontar.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-524" title="manuk na bontar" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/manuk-na-bontar.gif" alt="" width="256" height="239" /></a>22. Manuk na Bontar melambangkan sanksi hukum yang berat<br />
Makna: Setiap orang yang melanggar adat, misalnya kawin semarga (incest) dikenakan hukuman dengan memotong seekor kerbau<br />
dan memberi makan orang banyak serta melepaskan seekor ayam putih (pahabang manuk na bontar). Orang yang melanggar adat ini selanjutnya diusir dari Huta dan hubungan kekerabatannya dengan warga Huta diputuskan pula.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/timbangan.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-525" title="timbangan" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/timbangan.gif" alt="" width="289" height="254" /></a>23. Timbangan melambangkan kebenaran dan keadilan<br />
Makna: Dalam memeriksa, membahas, menimbang serta memutuskan suatu perkara harus berdasarkan kebenaran dan keadilan serta bijaksana agar tidak menimbulkan perasaan tidak senang bagi pihak yang berperkara.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bintang.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-526" title="bintang" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/bintang.gif" alt="" width="224" height="205" /></a>24. Bintang melambangkan Natoras<br />
Makna: Dengan adanya lambang ini suatu pertanda bahwa di Huta tersebut ada Natoras sebagai pendiri Huta yang pertama sekali (Pamungka Huta).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/horis.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-527" title="horis" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/horis.gif" alt="" width="279" height="163" /></a>25. Horis melambangkan kesejahteraan, keselamatan dan kedamaian<br />
Makna: Raja dan rakyatnya hidup damai dan sejahtera, jauh dari segala gangguan marabahaya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/gancip.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-528" title="gancip" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/gancip.gif" alt="" width="169" height="176" /></a>26. Gancip melambangkan tugas dan kewajiban Raja<br />
Makna: Raja melaksanakan adat dan hukum secara adil dan bijaksana. Apabila rakyat memerlukan bantuan, maka Raja wajib menolongnya, baik itu bantuan moril maupun materil. Selain itu Raja harus bersikap tegas dan konsisten terhadap siapapun yang melakukan kesalahan diberi hukuman berdasarkan keputusan adat.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/loting-pak-pak.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-529" title="loting pak-pak" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/loting-pak-pak.gif" alt="" width="238" height="188" /></a>27. Loting Pak-pak melambangkan kesungguhan dalam berusaha dan bekerja<br />
Makna: Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka setiap orang harus bekerja dan berusaha dengan menggunakan seluruh tenaga dan pikiran sehingga setiap pekerjaan tidak sia-sia dilakukan, tak ubahnya seperti besi dan batu yang apabila diadu akan menghasilkan percikan api (membuahkan hasil yang nyata).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/gumbot.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-530" title="gumbot" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/gumbot.gif" alt="" width="258" height="182" /></a>28. Gumbot melambangkan Raja sebagai suri tauladan dan panutan rakyat<br />
Makna: Sebagai seorang pemimpin yang beradat dan mengetahui hukum, maka seorang Raja harus memiliki sifat welas asih, lapang dada, respek dan memiliki etika yang tinggi sehingga ia selalu menjadi panutan rakyatnya.</p>
<p style="text-align: center;">
<p>29. Parbincar Mataniari melambangkan matahari sebagai sinar penerangi dalam kehidupan<br />
Makna: Matahari diumpamakan sebagai penerangi dalam kehidupan, sumber rezeki dan penghidupan, kebahagiaan, kesejahteraan bagi Namora-Natoras dan seluruh rakyatnya. Ornamen ini terdapat di atas pintu masuk ruang tengah Bagas Godang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/singengu.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-531" title="singengu" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/singengu.gif" alt="" width="178" height="172" /></a>Singengu</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/hutagodang.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-532" title="hutagodang" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/hutagodang.gif" alt="" width="171" height="166" /></a>Huta Godang</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/pakantan.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-533" title="pakantan" src="http://apakabarsidimpuan.files.wordpress.com/2010/05/pakantan.gif" alt="" width="185" height="154" /></a>Pakantan</p>
<p>REFERENSI</p>
<p>Informan</p>
<ol>
<li>Mangaraja Lelo Lubis (Medan)</li>
<li>Z. Pangaduan Lubis (Medan)</li>
<li>Zulkifli Matondang (Medan)</li>
<li>Sutan Singasoro (Huta Godang)</li>
<li>Sutan Baringin (Habincaran)</li>
<li>Zulkarnain Nasution (Panyabungan)</li>
<li>Mangaraja Sende Tua Lubis (Kotanopan)</li>
<li>Raja Hidayat Nasution (Maga)</li>
<li>Abdul Hakim Nasution gelar Batungkek (Tombang Bustak)</li>
<li>Mangaraja Lobi Lubis (Huta Padang, Ulu Pungkut)</li>
<li>Sutan Guru Panusunan Lubis (Tamiang)</li>
<li>Burhanuddin Lubis (Huta Pungkut)</li>
</ol>
<p>Buku</p>
<ol>
<li>Laporan Penelitian Pengumpulan dan Dokumentasi Ornamen Tradisional Di Sumatera Utara 1979/1980, (Medan: Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi SumateraUtara).</li>
<li>Z. Pangaduan Lubis, Namora Natoras: Kepemimpinan Tradicional Mandailing, (Skripsi Sarjana FISIP USU Medan, 1986).</li>
<li> Z. Pangaduan Lubis, Kisal Asal-Usul Marga Di Mandailing, (Medan: Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing /YAPEBUMA, 1986).</li>
<li> Zulkifli B. Lubis, Manipol: Studi Orientasi Budaya Mandailing, (Skripsi Sarjana FISIP USU Medan, 1988).</li>
<li>Buletin PARATA NA MALOS, (Medan: HIKMA Tingkat I Sumatera Utara).</li>
<li>Buletin MANDAILING, (Medan: Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing/YAPEBUMA).</li>
<li>Raja Junjungan Lubis, ”Sirih Adat Lambang Persatu Paduan dan Kegotong Royongan ”dalam H. Anwar Harahap, (ed), Buku Warisan Marga-Marga Tapanuli Selatan Turun-Temurun, (Medan: Yayasan Manula Glamour, Punguan Marga-Marga Tapanuli Selatan, 1980).</li>
<li>Siregar, Rukiyah &amp; Ch. St. Tinggi Barani Perkasa Alam, Burangir Na Hombang, (Jakarta: Depdikbud, 1981).</li>
<li>Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, (Penang: Areca Books, 2007).</li>
</ol>
<p>Gandoang, 27 Agustus 2007</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Biography Penulis:</p>
<p style="text-align: left;"><a rel="attachment wp-att-5262" href="http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-1/edi-nasution/"></a><img class="alignleft" src="http://img9.uploadhouse.com/fileuploads/5843/58438197aa66698328d8209a7d913cee1496d0f.jpg" alt="" width="78" height="109" />hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan &#8211; Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://bayosuti.blogspot.com">http://bayosuti.blogspot.com</a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/05/bolang-ornamen-tradisional-mandailing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revitalisasi Kebudayaan Mandailing</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/revitalisasi-kebudayaan-mandailing/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/revitalisasi-kebudayaan-mandailing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 14:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=6160</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai pendahuluan saya kira ada dua hal yang perlu dijelaskan. Pertama ialah pengertian revitalisasi dalam hubungannya dengan kebudayaan Mandailing. Dan kedua ialah konsep tentang ujud kebudayaan yang ada hubungannya dengan usaha untuk melakukan revitalisasi tersebut.

Kedua hal tersebut perlu lebih dahulu dibicarakan karena keduanya merupakan titik tolak dari berbagai hal lainnya yang akan dicoba dibicarakan nanti.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-5255" href="http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-1/adat1/"><img class="alignleft size-full wp-image-5255" title="adat1" src="http://apakabarsidimpuan.com/wp-content/uploads/2010/03/adat1.gif" alt="" width="278" height="300" /></a></p>
<p>Sebagai pendahuluan saya kira ada dua hal yang perlu dijelaskan.                Pertama ialah pengertian revitalisasi dalam hubungannya dengan kebudayaan                Mandailing. Dan kedua ialah konsep tentang ujud kebudayaan yang                ada hubungannya dengan usaha untuk melakukan revitalisasi tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua hal tersebut perlu lebih dahulu dibicarakan                karena keduanya merupakan titik tolak dari berbagai hal lainnya                yang akan dicoba dibicarakan nanti.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti yang sudah diketahui revitalisasi berarti                menghidupkan kembali. Apakah kebudayaan Mandailing sudah mati maka                perlu direvitalisasi? Kebudayaan Mandailing memang belum mati sama                sekali. Tetapi karena masyarakat Mandailing dilanda oleh berbagai                perubahan belakangan ini, yaitu sejak masa pendudukan Jepang sampai                sekarang, maka kebudayaan Mandailing sudah banyak sekali mengalami                erosi karena diabaikan oleh warga masyarakat pendukungnya. Pada                masa ini sebagian besar orang Mandailing yang lahir pada tahun 1940-an                tidak banyak yang mengenal sepenuhnya kebudayaan Mandailing. Dan                generasi keturunan mereka sekarang ini lebih tidak mengenal lagi                kebudayaan Mandailing. Dan dari kedua generasi tersebut ternyata                pula tidak banyak yang sungguh-sungguh memperdulikan kebudayaan                Mandailing dan kondisinya yang terus menerusi mengalami erosi.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam keadaan yang demikian itu, banyak di antara                bagian-bagian yang penting dari kebudayaan Mandailing yang sudah                hampir punah sama sekali. Misalnya beberapa ragam bahasa Mandailing                yang dinamakan hata andung, hata sibaso, hata parkapur dan hata                teas dohot jampolak. Yang masih hidup dan terus dipergunakan oleh                orang Mandailing sampai saat ini ialah hata somal, yaitu ragam bahasa                Mandailing yang dipergunakan sehari-hari. Banyak bagian dari kesenian                Mandailing yang juga sudah punah seperti misalnya repertoir musik                tradisional Mandailing seperti Gordang Sambilan dan Gondang Dua                (tunggu-tunggu dua). Demikian juga sastra lisan dan seni kerajinan                Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau kehilangan yang demikian terus kita biarkan                saja terjadi, maka dalam jangka waktu yang relatif tidak lama maka                kekayaan kebudayaan Mandailing akan punah sama sekali. Oleh karena                itu, disaat kita akan memasuki abad baru sekarang ini kita sudah                perlu sekali merevitalisasi kebudayaan Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja revitalisasi yang perlu kita lakukan                bukan dalam pengertian sempit dan kaku, yaitu menghidupkan kembali                kebudayaan Mandailing dalam keadaannya seperti pada masa dahulu                kala. Pada bagian-bagian tertentu revitalisasi itu harus kita lakukan                dengan modifikasi sehingga pada yang kita revitalisasi itu relevan                dengan kemajuan zaman yang sudah banyak mengalami perubahan. Malahan                melalui revitalisasi itu diusahakan agar hasilnya memberi nilai                tambah secara ekonomis bagi warga masyarakat Mandailing. Misalnya                revitalisasi yang dilakukan terhadap seni kerajinan Mandailing harus                dilakukan sedemikian rupa sehingga hasilnya berupa barang-barang                kerajinan diminati oleh pasar tempatan maupun pasar internasional.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam membicarakan revitalisasi kebudayaan Mandailing                kiranya perlu kita ketahui keadaan perujudan kebudayaan agar jelas                bagi kita ujud yang mana dari kebudayaan itu yang perlu kita revitalisasi.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut teori antropologi perujudan kebudayaan                ada tiga macam. Satu perujudan kebudayaan yang abstrak yang disebut                sebagai system nilai budaya atau yang kita kenal sebagai adat istiadat.                Dalam ujud kebudayaan yang demikian itulah berada kaidah-kaidah,                norma-norma dan segala macam aturan yang dijadikan sebagai pancuan                oleh warga masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam                menjalani kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan dalam menciptakan                segala yang mereka perlukan untuk hidup mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Kedua, perujudan kebudayaan yang berupa perilaku                warga masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan dalam bergaul                atau berinteraksi.</p>
<p style="text-align: left;">Ketiga, perujudan kebudayaan yang bersifat kebendaan                (fisik/material) yang diciptakan oleh warga masyarakat pendukung                kebudayaan yang bersangkutan untuk memenuhi keperluan hidup mereka.                Ujud kebudayaan yang demikian ini disebut kebudayaan fisik atau                kebudayaan material.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft" src="http://4.bp.blogspot.com/_5F2W1RPl_20/R9ivPiAD6LI/AAAAAAAAAIw/LQwLHUaMmMo/s320/alam+mandailing.jpg" alt="" width="283" height="210" />Ujud Kebudayaan Mandailing Yang Mana Perlu Direvitalisasi<br />
Setelah kita mengetahui tiga macam ujud kebudayaan seperti yang                dikemukakan di atas, maka kita dapat memilih ujud kebudayaan Mandailing                yang mana yang diprioritaskan untuk direvitalisasi.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau kita hendak menghidupkan kembali nilai-nilai                budaya Mandailing, tentu yang kita prioritaskan untuk direvitalisasi                ialah ujud kebudayaan Mandailing yang berupa sistem nilai budaya                atau adat istiadat Mandailing. Dan kalau kita hendak menghidupkan                kembali hasil kebudayaan Mandailing yang bersifat material, maka                yang kita prioritaskan untuk direvitalisasi ialah kebudayaan material                atau kebudayaan fisik Mandailing. Di dalamnya termasuk seni kerajinan                yang punya kemungkinan untuk memberi penghasilan secara ekonomis                bagi warga masyarakat Mandailing kalau direvitalisasi dengan cara                yang telah dikemukakan terdahulu. Artinya hasil seni kerajinan Mandailing                berupa barang anyaman tradisional, barang tenunan tradisional, ukir-ukiran                tradisional, alat musik tradisional, miniatur bangun-bangunan tradisional                dan sebagainya diciptakan kembali untuk dijual di pasar lokal maupun                di pasar internasional sebagai barang kesenian tradisional Mandailing                atau pun sebagai barang souvenir yang benilai seni tradisional Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau kita memprioritaskan untuk merevitalisasi                kedua macam ujud kebudayaan tersebut sekaligus, yaitu sistem nilai                budaya dan kebudayaan material Mandailing, saya kira dalam jangka                waktu yang tidak terlalu lama kita akan dapat melihat kembali ujud                kebudayaan Mandailing yang hidup secara nyata di tengah masyarakat                dan juga keuntungan secara ekonomis dapat kita raih sekaligus.</p>
<p style="text-align: left;">Pemanfaatan Teknologi Modern<br />
Kalau kita merevitalisasi kebudayaan material Mandailing macam barang-barang                seni kerajinan Mandailing yang dapat diciptakan kembali. Dan barang-barang                seni kerajinan Mandailing cukup exotik sehingga punya prospek yang                sangat baik untuk laku di pasaran domestik, apa lagi di pasar internasional.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk pemasarannya ke dunia internasional kita                dapat memanfaatkan teknologi komputer untuk menawarkannya. Dalam                hubungan ini fasilitas web site yang berbasis di Amerika Serikat                sudah tersedia. Yaitu sebuah laman web site tentang kebudayaan Mandailing                yang telah disediakan oleh Abdur Razzaq Lubis di Penang. Beliau                adalah wakil rasmi Badan Warisan Sumatra di Malaysia dan bekerja                sama dengan Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) yang                sudah berdiri sejak 14 tahun yang lalu. Fasilitas web site tersebut                dapat kami sediakan untuk mempromosikan benda-benda kesenian dan                barang-barang kerajinan Mandailing ke dunia internasional. Artinya                fasilitas yang ada dapat kita gunakan untuk mendukung revitalisasi                kebudayaan Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing<br />
Sebenarnya gagasan untuk mendirikan Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing sudah muncul 14 tahun yang lalu ketika kami mendirikan                Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) dengan mengumpulkan                kurang lebih 90 orang mahasiswa Mandailing dan didukung oleh beberapa                orang donator yang benar-benar mencintai kebudayaan Mandailing dan                ingin mengangkatnya kembali ke permukaan dengan berbagai cara.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk mendukung berdirinya Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing, YAPEBUMA sudah membeli dua hektar tanah yang terletak                di perbatasan antara kawasan Mandailing Julu dan kawasan Mandailing                Godang. Lokasi tersebut sengaja kami pilih, agar kalau sudah berdiri                Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing yang dicita-citakan itu                tidak akan menimbulkan persoalan di antara masyarakat Mandailing                di kedua kawasan tersebut. Karena kami ingin agar Pusat Revitalisasi                Kebudayaan Mandailing tersebut dirasakan sebagai kepunyaan bersama                oleh orang-orang Mandailing Julu dan Mandailing Godang mau pun orang-orang                Mandailing di kawasan Batang Natal.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft" src="http://2.bp.blogspot.com/_5F2W1RPl_20/R9ixbCAD6MI/AAAAAAAAAI4/QKTtEiaQa-w/s320/huta+na+godang.jpg" alt="" width="281" height="193" />Tapi sayang sekali, selama 14 tahun ini ternyata                masih belum terbuka jalan untuk mengujudkan cita-cita kami mendirikan                Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing di lokasi yang sudah lama                kami sediakan itu. Kendala utama yang menjadi penghalang ialah ketiadaan                dana yang diperlukan. Selama ini kelihatannya warga masyarakat Mandailing                boleh dikatakan masih belum menyadari urgensinya merevitalisasi                kebudayaan Mandailing yang sudah cukup lama dan cukup banyak mengalami                erosi. Oleh karena itu, warga masyarakat Mandailing masih enggan                menyumbangkan dana untuk keperluan membangun satu Pusat Revitalisasi                Kebudayaan Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Sebenarnya sudah urgen sekali keadaannya untuk                segera mendirikan Pusat Revitalisasi Mandailing, terutama karena                gelombang globalisasi yang makin kuat melanda kita akan mempercepat                terjadinya erosi terhadap kebudayaan Mandailing. Dan kalau kebudayaan                Mandailing terkikis habis oleh gelombang globalisasi itu nanti,                berarti terkikis habislah identitas kita semua sebagai orang Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam hal ini, para pakar pengkaji masa depan,                banyak yang sependapat bahwa hanya masyarakat yang berusaha keras                mempertahankan kebudayaannya yang berakar pada tradisi yang akan                dapat bertahan di masa depan dalam menghadapi gelombang pengaruh                globalisasi yang kini sudah mulai datang melanda segala-galanya                di seluruh dunia. Gelombang globalisasi itu mengancam keselamatan                masyarakat yang tidak bisa lagi bertahan karena tidak mempunyai                kekuataan cultural atau kekuatan budaya yang berakar pada tradisi.</p>
<p style="text-align: left;">Barangkali, insya-Allah sekaranglah waktunya, pada                akhir abad ke 20 ini akan dapat diujudkan cita-cita untuk mendirikan                pusat revitalisasi kebudayaan Mandailing itu, jika warga masyarakat                Mandailing secara bergendengan tangan dengan Pemda (pemerintah daerah)                Madina (Mandailing-Natal) bersedia memberikan segala bantuan yang                diperlukan untuk itu. Yaitu setelah dikemukakan berbagai hal mengenai                cita-cita untuk mendirikan Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing                tersebut dalam forum seminar yang terhormat ini untuk diketahui                secara luas oleh warga masyarakat Mandailing, terutama para cendekiawan                dan hartawan Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Jika Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing itu                sudah berhasil kita bangun, dia akan menjadi milik bersama semua                warga masyarakat Mandailing. Dan akan kita gunakan untuk kepentingan                seluruh warga masyarakat Mandailing, baik yang berada di Tano Rura                Mandailing negeri asal kita, maupun yang berada di wilayah Pasaman,                atau di negeri perantauan dalam negeri dan juga yang berada di Malaysia                dan tempat-tempat lain di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut                akan kita pergunakan dengan baik untuk menghidupkan kembali kebudayaan                Mandailing dengan pengertian seperti yang telah diuraikan terdahulu.                Terutama dengan melakukan berbagai pelatihan, lokakarya maupun cara-cara                dan metode yang lainnya. Mereka yang sudah memperoleh keahlian dan                ketrampilan di pusat revitalisasi tersebut akan disebar ke seluruh                wilayah Mandailing dan ke tempat-tempat lain di mana mereka bisa                mengembangkan kegiatan untuk menghidupkan kembali kebudayaan Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut                akan kita jadikan sebagai Community Base Resource Management yang                berfungsi sebagai tempat untuk mengelola berbagai sumber daya yang                dapat memberi manfaat yang kongrit bagi warga masyarakat Mandailing.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk pengembangan Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing tersebut kita akan memcari jalan untuk mendapat dukungan                dan kerja sama dengan berbagai fihak, termasuk fihak luar negeri                yang tertarik dengan usaha-usaha untuk pembinaan kebudayaan tradisional.                Dalam hal ini kita akan tetap mempertahankan sikap dan prinsip yang                idependen dan non-politis.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai langkah pertama yang konkrit untuk memulia                pembangunan Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing, kami dari                pengurus Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) menyatakan                dengan ikhlas bahwa tanah seluas dua hektar milik YAPEBUMA, yang                terletak di pinggir jalan raya lintas Sumatera antara desa Maga                dan Laru di tengah lingkungan alam yang indah pemandangannnya dan                segar udaranya dapat kami serahkan sebagai hibah untuk tempat pembangunan                Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing. Dan kami para pengurus                YAPEBUMA menyediakan diri untuk mengelola segala kegiatan yang dilakukan                di Pusat Revitalisasi Kebudayaan tersebut apabila sudah selesai                dibangun. Berbagai hal atau sarat-sarat yang diperlukan untuk menghindarkan                terjadinya keadaan yang tidak diinginkan terhadap proyek tersebut,                kami dari pihak pengurus YAPEBUMA senantiasa bersedia merundingkan                atau membicarakannya dengan pihak-pihak yang akan ikut serta mendukung                pembangunan Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Melalui kesempatan ini kami menyampaikan harapan                dan himbauan agar seluruh warga masyarakat Mandailing yang mampu                dan Pemda Kabupaten Madina bersedia dengan suka rela menyumbangkan                dana yang kita perlukan untuk membangun Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing di lokasi yang sudah kami sebutkan tadi.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk menjamin kelancaran kegiatan Pusat Revitalisasi                Kebudayaan Mandailing tersebut secara berkesinambungan tentu diperlukan                sumber dana yang tetap. Dalam hal ini kami menyarankan agar para                pengusaha warga Mandailing secara bergotong-royong menyediakan satu                sumber dana berupa sebidang kebun karet atau sesuatu yang lain yang                hasilnya secara berkesinambungan dapat di pergunakan untuk biaya                yang diperlukan oleh Pusat Revitalisasi Kebudayaan Mandailing tersebut.                Kalau kegiatan dalam proyek tersebut sudah dapat menghasilkan produksi                yang dapat dijual ke pasaran, hasilnya akan digunakan sepenuhnya                untuk membiayai proyek tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Kami yakin, kalau Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing tersebut dapat kita dirikan, maka proyek tersebut akan                merupakan suatu karya masyarakat Mandailing yang monumental yang                tercatat dalam sejarah Mandailing sejak awal abad ke-21 yang tak                lama lagi akan kita masuki. Dan insya-Allah dengan adanya Pusat                Revitalisasi Kebudayaan Mandailing yang dapat kita banggakan sebagai                identitas kita akan muncul kembali ke tengah masyarakat pada abad                ke-21 dan seterusnya. Dan tidak mustahil Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing tersebut nanti akan dijadikan model (contoh) oleh kelompok-kelompok                etnis lainnya di Sumatera Utara yang ingin mendirikan pusat revitalisasi                kebudayaan masing-masing.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai tambahan dapat kami kemukakan bahwa dalam                suatu kesempatan berdialog dengan Bapak Bupati Madina pada bulan                Juli yang lalu, kami sudah memberanikan diri memohon kepada beliau                agar Kotanopan yang tidak terpilih sebagai ibukota Kabupaten Madina                diberi kesempatan untuk jadi pusat pendidikan dan kebudayaan masyarakat                Mandailing. Permohonan tersebut kami dasarkan kepada kenyataan bahwa                pada masa yang lalu Kotanopan memang sudah dikenal sebagai pusat                pendidikan di wilayah Mandailing. Pada masa penjajahan pemerintah                Belanda sendiri sudah memilih Kotanopan sebagai tempat mendirikan                HIS. Dan kenyataan menunjukkan bahwa di berbagai tempat di sekitar                Kotanopan sampai saat ini masih cukup banyak terdapat peninggalan                kebudayaan tradisional Mandailing terutama yang berupa bangunan-bangunan                tradisional yang asli.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika permohonan tersebut kami sampai kepada Bapak                Bupati, Insya-Allah dengan spontan beliau pada prinsipnya menyetujuinya.                Dalam hubungan ini, kalau kita mendirikan Pusat Revitalisasi Kebudayaan                Mandailing di lokasi yang sudah kami sebutkan tadi, maka proyek                tersebut secara kongkrit akan menjadi awal dari terbentuknya pusat                pendidikan dan kebudayaan yang telah kami sebutkan tadi. Dan ini                semua adalah milik bersama dan untuk kepentingan bersama seluruh                warga masyarakat Mandailing. Dengan demikian maka dapat diibaratkan                bahwa Panyabungan adalah Jakartanya Madina dan Kotanopan akan menjadi                Yogjakartanya.</p>
<p style="text-align: left;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>Penulis Drs. Pengaduan Lubis</strong></em></p>
<p style="text-align: left;">Sumber: <em><a href="http://www.mandailing.org/ind/rencana21.html">http://www.mandailing.org/ind/rencana21.html</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/revitalisasi-kebudayaan-mandailing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Boroe Tapanoeli”, Trompet Kepoetrian dari Padang Sidempuan</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/%e2%80%9cboroe-tapanoeli%e2%80%9d-trompet-kepoetrian-dari-padang-sidempuan/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/%e2%80%9cboroe-tapanoeli%e2%80%9d-trompet-kepoetrian-dari-padang-sidempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 13:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=5812</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sejak awal, pergerakan perempuan menyadari arti penting keberadaan surat kabar sebagai alat perjuangan untuk menyemai gagasan-gagasan dan pendidikan demi kemajuan perempuan. Hal ini misalnya dapat dilihat dengan terbitnya surat kabar “Soenting Melajoe” di Padang pada 10 Juli....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5810" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a rel="attachment wp-att-5810" href="http://apakabarsidimpuan.com/?attachment_id=5810"><img class="size-full wp-image-5810" title="go2.wordpress" src="http://apakabarsidimpuan.com/wp-content/uploads/2010/03/go2.wordpress.jpg" alt="" width="448" height="290" /></a><p class="wp-caption-text">Boroe Tapanuli</p></div>
<p>Sudah sejak awal, pergerakan perempuan menyadari arti penting keberadaan surat kabar sebagai alat perjuangan untuk menyemai gagasan-gagasan dan pendidikan demi kemajuan perempuan. Hal ini misalnya dapat dilihat dengan terbitnya surat kabar “Soenting Melajoe” di Padang pada 10 Juli 1912. Surat kabar yang terbit tiga kali seminggu itu merupakan pusat kegiatan pemudi, putri maupun wanita yang telah bersuami, berisi masalah-masalah politik, anjuran kebangkitan wanita Indonesia dan cara menyatakan fikiran para penulisnya dalam bentuk prosa dan puisi. Surat kabar ini berumur cukup lama, dari 1912 – 1921, pemimpinnya antara lain Ratna Djoeita dan Rohana Kudus.</p>
<p>Pada tahun 1914 di Jakarta terbit “Poetri Mardika” yang artikel-artikelnya ditulis dalam bahasa Belanda, Melayu dan Jawa. Isi “Poetri Mardika” antara lain membahas soal pendidikan, poligami, pemberian kebebasan lebih banyak pada para gadis, adat maju dan adat yang menghambat kemajuan. Di Semarang terbit “Estri Oetomo”, di Padang “Soeara Perempoean” yang dipimpin oleh Nona Saadah, seorang guru H.I.S., dan di Medan “Perempoean Bergerak” yang dipimpin Parada Harahap.</p>
<p>Sekitar tiga daswarsa setelah itu, gagasan untuk kemajuan kaum perempuan tampaknya tak pernah meredup. Di Padang Sidempuan, pada 10 Oktober 1940, terbit “Boroe Tapanoeli”. Terbitan berkala 10 hari sekali ini dipimpin oleh Awan Chatidjah Siregar, dengan anggota redaksi: Soemasari Rangkoeti, Roesni Daulay, Dorom Harahap, Marie Oentoeng Harahap dan Halimah Loebis. Sedangkan di bagian administrasi tercantum nama Siti Sjachban Siregar, Lela Rangkoeti dan Intan Nasoetion.</p>
<p>Jika surat kabar merepresentasikan situasi sosial masyarakat yang melingkupinya, maka apa yang dilakukan Awan Chatidjah Siregar dkk. di Padang Sidempuan pada tahun 1940, tidak terlepas kecenderungan umum yang dialami kaum perempuan saat itu. Khususnya posisi kaum perempuan yang “terjepit” diantara struktur sosial masyarakat yang patriarkhis dan ketika ide-ide tentang emansipasi perempuan tengah menguat akibat hadirnya institusi pendidikan modern sebagaimana disemai oleh R.A. Kartini.</p>
<p><strong> “Boroe Tapanoeli, Terinspirasi Semangat Kartini?”</strong></p>
<p>Dalam tajuk di edisi perdananya, Awan Chatidjah Siregar mengatakan bahwa “Boroe Tapanoeli” diterbitkan sebagai “loeboek tapian mandi tempat kaoem poetri berketjimpoeng dan djoega sebagai trompet kepoetrian Tapanoeli choesoesnja….. jaitoe oentoek mempertinggi deradjat kaoem poetri dengan berdasarkan kebangsaan, tapi tiada mentjampoeri politiek”.</p>
<p>Membaca tulisan-tulisan di “Boroe Tapanoeli” edisi perdana, kita memang akan memperoleh gambaran tentang kondisi kaum perempuan waktu itu yang masih banyak tertinggal di segala bidang dibanding kaum laki-laki. Faktornya beragam. Disebut-sebut misalnya soal sistem budaya atau adat yang meminggirkan perempuan. Juga soal keterbatasan akses terhadap dunia pendidikan (sekolah). Faktor lainnya adalah masalah kemiskinan.</p>
<p>Beragam faktor tersebut, membuat posisi perempuan menjadi serba tertinggal dibanding kaum laki-laki. Karena itu, walau banyak perempuan yang sudah tamat Mulo, H.I.S atau sekolah yang setingkat pada waktu itu, namun akhirnya mereka kembali ke rumah. Kembali mengurusi soal dapur. Seolah tanggungjawab perempuan hanya terbatas untuk mengurus rumah tangga dan membahagiakan suami. Bahkan ironisnya, walau tidak sedikit perempuan yang sudah bersekolah tinggi, dan secara ekonomi keluarganya tergolong berkecukupan, namun mereka akhirnya kembali juga ke dalam rumah: menunggu sampai disunting orang!</p>
<p>Bagi Awan Chatidjah Siregar dkk., kenyataan seperti itu tidak bisa diterima. Pengaruh gerakan emansipasi yang dicetuskan R.A. Kartini di Tanah Jawa, yang surat-suratnya kemudian dibukukan dan diterbitkan tahun 1912, tampaknya mewarnai semangat para pengelola surat kabar berkala ini. Para pengasuh “Boroe Tapanoeli” percaya bahwa rasa kebangsaan yang kuat hanya terjadi jika kaum perempuan dan laki-laki dapat bersatu dan bekerjasama. Karena itu mereka mengajak kaum perempuan agar tidak mudah menyerah kepada nasib dan meratapi adat/budaya yang mengekang.</p>
<p>Secara tegas, “Boroe Tapanoeli” mengajak kaum perempuan untuk keluar dari semua kungkungan berhenti itu. Kaum perempuan diajaknya agar berani menentukan nasibnya sendiri. “Kita mesti bersoeara! Mesti kita sendiri mengadakan perobahan nasib kita. Sekali2 djanganlah menjerah kepada takdir dan soeratan nasib belaka. Djangan lagi meratap dalam hati bahwa adat itoe pintjang, oendang2 itoe tiada adil atao doenia ini palsoe”.</p>
<p>Abad ke-20 adalah abad kemajuan, yang ditandai dengan semakin banyaknya kaum perempuan terdidik atau bersekolah tinggi. Karena itu kaum perempuan diharapkan tidak lagi menjadi kaum penakut dan pemalu. Para pengelola “Boroe Tapanoeli” percaya bahwa orangtua akan mengizinkan anak-anak perempuan mereka berjuang bersama anak-anak laki-laki. Adat dan agama juga tidak mendiskriminasi kaum perempuan guna memperoleh kemajuan. Karena itu “bangoenlah wahai saodarakoe, zaman soedah beredar, matahari lah tinggi, panas lah mendenting, bangoen, bersiaplah segera, mari ramai-ramai menoedjoe djalan perbaikan nasib kita.”</p>
<p>Untuk memotivasi kaum perempuan, pengelola “Boroe Tapanoeli” menganjurkan kaum perempuan untuk memasuki sekolah-sekolah yang mengajarkan kepandaian keputrian. Kaum perempuan juga dihimbau agar mengerjakan segala sesuatu yang bisa mereka kerjakan agar tidak menganggur. Mereka juga diminta agar bisa menjaga kehormatan mereka sendiri.</p>
<p>Pada edisi perdananya “Boroe Tapanoeli” juga memberitakan tentang kedatangan Raden Ajeng E. Djajadiningrat yang mengadakan pertemuan dengan <em>Persatoean Kepoetrian Tapanoeli</em> (KPT) dan <em>Persatoean Anak Gadis</em> (PAG). Pertemuan itu membahas soal-soal kesehatan, cara mendidik anak dan berbakti kepada nusa dan bangsa.  Ada juga berita soal 26 orang kaum ibu yang memperoleh pendidikan sebagai sopir mobil yang dilakukan General Motors, di Tanjoeng Prioek, Jakarta. Berita itu dikomentari oleh “Boroe Tapanoeli” sebagai hal yang tidak wajar karena akan membuat lengan kaum perempuan yang lembut menjadi kasar seperti lengan laki-laki!</p>
<p><strong>Tergolong Moderat</strong></p>
<p>Dalam banyak hal, “Boroe Tapanoeli” memang tidak memilih pendekatan yang frontal dalam memperjuangkan harkat kaum perempuan. Dalam batas-batas tertentu, sebenarnya mereka juga ikut meneguhkan peran domestik kaum perempuan. Misalnya sebuah tulisan yang ditulis N.A. Harahap mendorong kaum perempuan agar menjadi “poetri sedjati.” Yang dimaksud putri sejati adalah: (i) terpelajar, dalam arti paham dan mengetahui segala teori dan praktek dalam hal urusan rumah tangga; (ii) mampu membangun suasana kegtembiraan di rumah; (iii) menyenangkan hati suami karena sudah bekerja keras di luar rumah; (iv) mengasuh dan mendidik anak dengan budi pekerti, dan (v) mampu menanamkan sopan santun pada anak-anak.</p>
<p>Sejak awal, “Boroe Tapanoeli” juga tidak berniat untuk “mentjampoeri politiek”. Dalam arti surat kabar ini tidak hendak dijadikan media perlawanan terhadap pemerintahan Belanda. Pendirian semacam ini dapat dimengerti mengingat para pengelola surat kabar pada masa-masa kolonialisme umumnya berasal dari kalangan pribumi, khususnya mereka yang tergolong kaum ningrat. Mereka adalah kelompok masyarakat yang memiliki kesempatan memperoleh akses pendidikan dari sekolah-sekolah yang didirikan Pemerintah Belanda maupun dari ormas-ormas pergerakan berbasis agama seperti Muhammadyah. Mereka adalah kelompok baru dalam masyarakat yang telah tercerahkan.</p>
<p>Golongan ini, karena status sosial dan tingkat pendidikan yang dimiliki, di satu sisi tetap mewarisi beberapa perangkat kebudayaan elite tradisional, tetapi di sisi lain mempunyai pandangan, cita-cita, dan nilai-nilai baru terhadap realitas dan perubahan sosial yang diharapkan. Cita-cita golongan elite modern itu, dalam konteks zamannya berkisar pada konsep “kemadjoean”. Untuk mencapai “kemadjoean” itu, mereka mengusakan proses penyadaran sosial dan pendidikan bagi anggota masyarakat kebanyakan. Mereka menggunakan modus operandi baru dengan cara membentuk organisasi modern dan pers sebagai salah satu sarana komunikasinya (Andi Suwirta: 2000).</p>
<p>Menurut Castle (2001) ada 3 (tiga) pergerakan yang pada tahun 1930-an masuk ke Tapanuli Selatan. Ada gerakan politik yang ingin bebas dari Belanda. Ada gerakan keagamaan yang ingin membersihkan pelaksanaan Islam dari unsur-unsur tambahan dan berbagai penyimpangan. Ada juga gerakan sosial kaum muda dan lain-lain lagi yang tidak senang pada status mereka yang rendah dan di bawah adat, dan menentang para pemimpin dan tetua berikut berbagai pengekangan yang mereka berlakukan.</p>
<p>Awan Chatidjah Siregar dkk., barangkali masuk dalam kategori yang ketiga. Walau ia memilih berkecimpung dalam dunia persuratkabaran, namun pendekatan yang dipilih sangat moderat: memuat tulisan-tulisan dengan gaya bahasa santun, dan jauh dari provokatif. Barangkali hal ini tidak terlepas dari penerapan delik pers yang waktu itu diberlakukan sangat ketat oleh pemerintah Belanda. Beberapa jurnalis seperti Parada Harahap (<em>Sinar Merdeka</em> di Sibolga) dan H.M. Manullang (<em>Soeara Batak</em> di Tarutung), pernah terkena pers delik yang membuat mereka akhirnya dipenjara. .</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Walau bukan tergolong surat kabar berkala yang digunakan untuk kepentingan politik dalam mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda, namun sumbangan para pengelola “Boroe Tapanoeli” yang menjadikan koran mereka untuk mendukung kemajuan kaum perempuan di Padang Sidempuan, layak untuk dihargai. Setiap jaman memang akan melahirkan tokoh-tokoh sejarah yang memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan masing-masing.</p>
<p>** <em>Tulisan ini dimuat di harian Analisa, 21 April 2008</em></p>
<p><em>Disalin dari : </em>www.buntomijanto.wordpress.com.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/%e2%80%9cboroe-tapanoeli%e2%80%9d-trompet-kepoetrian-dari-padang-sidempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POLITIK BUDAYA PILKADA di TAPANULI SELATAN</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/politik-budaya-pilkada-di-tapanuli-selatan/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/politik-budaya-pilkada-di-tapanuli-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 06:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=5530</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis Oleh:  Azharul Fazri Siagian
[/caption]
Setiap Kepala Daerah yang ingin mencalonkan kembali (incumbent) untuk memperebutkan jabatan politik tak jarang menjadi sorotan para pesaing politiknya, hal ini terjadi karena diangggap sebagai pesaing yang sulit dikalahkan dan peluang menangnya cukup besar.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis Oleh:  Azharul Fazri Siagian</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><p class="wp-caption-text">AZHARUL FAZRI SIAGIAN - Putra Sipirok - Alumni IMATAPSEL Propinsi LAMPUNG, pemerhati Politik Tabagsel saat ini aktif sebagai Ketua Umum PC IMM Tanggamus, Sekretaris Majlis Kader PDM Kabupaten Pringsewu dan Wakil Sekretaris GAPEKSINDO Kab. Pringsewu </p></div>[/caption]
<p>Setiap Kepala Daerah yang ingin mencalonkan kembali (incumbent) untuk memperebutkan jabatan politik tak jarang menjadi sorotan para pesaing politiknya, hal ini terjadi karena diangggap sebagai pesaing yang sulit dikalahkan dan peluang menangnya cukup besar. Biasanya pandangan terhadap incumbent cendrung negative, karena terbangun opini incumbent bisa memanfatkan mesin birokrasi untuk melakukan mobilisasi massa, punya dukungan dana yang berlimpah, memanfaatkan fasilitas pemerintahan untuk kepentingan kampanyenya, dll. Sehingga, incumbent diuntungkan karena dalam menjalankan tugasnya selaku kepala daerah tentu memiliki sumber daya yang besar untuk dikenal rakyat. Dari segi ini popularitas incumbent sudah memiliki modal awal dalam menentukan target kampanye pilkada. Kesempatan paling awal dan terbanyak dimiliki incumbent untuk menyapa rakyat sambil menunjukkan kinerjanya. Dengan modal politik tersebut, tentu incumbent memiliki start point untuk tebar pesona yang tidak dimiliki para pesaingnya dalam Pilkada. Prinsipnya, incumbent memiliki sarana kampanye terselubung selama dia menjabat sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah sebelum ikut pilkada pada periode berikutnya.</p>
<p>Para pesaing incumbent harus ekstra keras berjuang untuk merebut hati pemilih. Tim sukses para pesaing incumbent dituntut untuk jitu dalam merumuskan strategi pemenangan pilkada. Diantara pilihan strategi pemenangan Pilkada itu antara mempublikasikan kelemahan incumbent selama menjabat kepala daerah atau wakil kepala daerah.</p>
<p>Pada umumnya, tim sukses lawan pasti mencari cela berupa daftar kegagalan incumbent dalam memimpin daerahnya. Biasanya daftar kegagalan ini merupakan satu paket dengan tudingan dugaan penyelewengan yang dilakukan incumbent. Ranah politik yang sering digunakan adalah memanfaatkan isu dugaan melakukan tindakan pidana korupsi, pelanggaran UU, nepotisme dan kolusi.<br />
Untuk menyaingi incumbent , para pesaing politiknya juga melakukan pencitaran yang negative terhadap publik, misalnya, incumbent bukan putera daerah, tidak berhasil membangun, memumpuk akar nepotisme atau kolusi, tidak membawa kemajuan pembangunan yang berarti, melanggar UU dsb.</p>
<p>Namun kalau memang sang incumbent memang nyata-nyata melakukan hal tersebut tentunya harus didukung dengan fakta yang objektif. Dan kampanye hitam bukanlah cara yang efektif dilakukan oleh para pesaing politiknya. Para pesaing politik incumbent harus rajin meyakinkan para pemilih, menyampaikan program yang jelas (sosialisasi), melakukan pendampingan kelompok tani, nelayan, buruh, pedagang dan memberikan pemaparan visi dan misi jelas dan konkrit, membentuk tim khusus untuk meyakinkan pemilih pemula (karena incumbent jarang sekali menggarap ini). Dan menghindari janji-janji yang mustahil untuk dilaksanakan. Satu hal yang menjadi kebiasaan buruk para pejuang-pejuang politik. Kelompok-kelompok pengajian sering kali menjadi sasaran para calon. Mengunjungi dan memberikan bantuan berupa alat-alat penunjang kegiatan pengajian, pemberian santunan bagi anggota yang membutuhkan dan sbg. Tentunya hal itu bukan berarti gratis namun harus ada komitemen agar nanti pada saat pemilihan agar memilih calon tersebut. Namun ketika pemilihan selesai kelompok-kelompok tersebut ditinggalkan. Lain hal lagi, setiap kelompok pengajian bisa dikunjungi oleh dua atau tiga kali calon yang berbeda. Ini juga sebuah kebiasaan kurang baik dalam etika politik.</p>
<p>Incumbent yang gagal dalam membangun suatu daerah mudah saja untuk dikalahkan. Penyampaian hasil pembangunan yang gagal bukanlah bentuk kampaye hitam asalkan ditunjukkan fakta dan data yang meyakinkan. Apalagi ada indikasi seorang incumbent mencoba untuk mengindahkan amanat UU.</p>
<p>Fakta keberhasilan calon incumbent selama memimpin menjadi ukuran tingkat keberhasilannya. Namun kegagalan incumbent juga akan menjadi batu sandungan dalam upayanya untuk memperpanjang masa jabatannya. Ketika ia memang jelas-jelas gagal membangun tentunya masyarakat akan antipasti untuk memilih dia kembali.</p>
<p>Pada tahun 2010 ini, hampir sebagian besar para kepala daerah di beberapa kabupaten/kota yang sudak berakhir masa jabatannya mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah untuk masa jabatan kedua kalinya. Motif pencalonan tersebut tentu bisa bermacam-macam, seperti keinginan untuk merealisasikan keberlangsungan visi kepemimpinannya, masih memiliki dukungan yang kuat, atau karena prestasi yang dicapainya. Tentunya keberhasilan itu bukan hanya sebagai bentuk justifikasi saja tapi memang nyata harus dibuktikan dan mampu dirasakan oleh rakyatnya. Oleh karena itu, keberadaan incumbent (gagal) dalam persaingan politik pilkada sangatlah mudah. Asalkan para pesaing politiknya mampu meyakinkan para calon pemilih dengan visi misi yang jelas.</p>
<p>Peta Politik TAP-SEL<br />
Tidak hanya fakta objektif kegagalan kepemimpinan yang memberikan tingkat kekecewaan masyarakat terhadap incumbent, tetapi juga didukung oleh moralitas yang kurang baik. Jika selama lima tahun calon incumbent bermasalah seperti diduga melakukan tindak pidana korupsi, maka hampir bisa dipastikan tingkat kepercayaan akan terus merosot.</p>
<p>Incumbent TAPSEL sekarang bukan berarti hanya memiliki trackrecord negative tentunya diikuti dengan hal-hal yang positif. Dan kita semua tidak boleh mengingkari hal tersebut. Namun adapun upaya untuk menjadikan lawan politik incumbent adalah dengan melakukan berbagai analisis sejauh mana pergerakan kemajuan yang dilakukan oleh incumbent.</p>
<p>Untuk PILKADA di Kabupaten Tapanuli Selatan ini, bupati OPH mencalonkan diri kembali menjadi Bupati periode 2010-2015, sementara wakilnya H.Aldinz Rapolo Siregar, juga mencalonkan diri kembali menjadi wakil bupati, tentunya bukan dengan pendamping lama. Kedua-duanya merupakan incumbent yang maju dalam pertarungan pilkada kali ini. OPH menggandeng sekda TAPSEL H Affan Siregar SE (SEKDA TAPSEL), sementara H.Aldinz Rapolo Siregar digandeng oleh H.Syahrul M Pasaribu yang merupakan Anggota DPRD Sumatera Utara. Walaupun sama-sama incumbent ada beberapa hal yang menjadi pembeda bagi mereka :</p>
<ol>
<li>OPH sebagai bupati lagi-lagi untuk memperkuat tim terutama birokrasi menggandeng sekda TAPSEL.OPH hanya berkeyakinan bahwa dengan memanfaatkan birokrasi dan beberapa basis massa yang dimilikinya bersama Affan mampu memenagkan pertarungan.</li>
<li>H. Aldinz Rapolo Siregar juga dengan ikhlas duduk sebagai wakil bupati namun dengan optimis digandeng oleh H. Syahrul Pasaribu (Anggota DPRD). Keyakinan atas keoptimisan Rapolo tersebut setelah melihat kualitas, pengalaman, dan visi pembangunan yang jelas dari H. Syahrul Pasaribu.</li>
<li>OPH sebagai incumbent Top Leader lebih memiliki pengaruh kuat di birokrasi, sementara H. Aldinz Rapolo Siregar lebih yakin untuk terjun sendiri ke masyarakat, bersosialisasi dsb.</li>
</ol>
<p>Keduanya sama-sama incumbent namun yang membedakan adalah bahwa pengambil kebijakan teratas tetap pada jabatan bupati, sementara wakilnya hanya menggantikan fungsi bupati. Kegagalan selama memimpin daerah itu lebih ditujukan pada siapa yang menjadi pucuk pimpinan tertinggi di daerah tersebut. Walaupun terkadang wakil bupati juga seakan-akan terlarut dalam kegalan masa kepemimpinan tersebut. Namun masih banyak cara yang dilakukan agar wakil bupati menyampaikan posisi tanggungjawabnya sebagai wakil selama 5 tahun, tentunya hal itu dilakukan untuk mencegah adanya black campaing kepada wakil incumbent yang datang dari lawan politiknya.</p>
<p>Sementara itu selain dua calon incumbent yang maju dalam perebutan kursi Bupati dan wakil Bupati TAPSEL periode 2010-2015, terdapat pula 4 pasangan calon lainnya. Hal inilah yang mungkin menjadi kekhawatiran diantara dua calon incumbent. Dengan jumlah 6 pasangan calon bupati dan wakil bupati akan sedikit mempengaruhi jumlah pemilih yang beberapa tahun terakhir ini dibina oleh masing-masing incumbent. Selain itu pula pertarungan sengit antara incumbent ini juga akan banyak menguntungkan pasangan lain yang bukan incumbent.</p>
<p>Ada satu hal yang perlu diketahui oleh para incumbent, persaingan antar incumbent ini tak jarang akan dimanfaatkan bagi para calon-calon lain. Karena dalam setiap tahapn PILKADA ketika ada dua incumbent yang bertarung biasanya sangat ketat. Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh para kandidat lain untuk mengambil kesempatan mempengaruyi pemilih di lapangan.</p>
<p>Untuk itu, ada beberapa hot isu yang akan diangkat dalam bahan kampanye para calon nanti. Namaun isu terpenting yang harus jalankan oleh beberapa calon untuk memenangkan pertarungan PILKADA TAPSEL 2010-2015 :</p>
<ol>
<li> Isu tentang pemindahan ibu kota ke Sipirok adalah isu hangat. Isu ini jangan ditinggalkan karena merupakan amanat UU, namun isu itu juga dilanjutkan dengan pemerataan pembangunan di seluruh kecamatan yang ada sehingga nantinya tidak ada kehawatiran bagi pemilih yang berdomisili di Sipirok dan sekitarnya. Isu ini juga akan mempengaruhi suara untuk kecamatan Sipirok, Arse, Saipar Dolok Hole dst.</li>
<li>Isu pembenahan infrastruktur terutama jalan. Kali ini walaupun ada jastifikasi dari incumbent bahwa pembangunan di jalan sudah berlangsung namun nyatanya didaerah-daerah ataupun di beberapa kecamatan masih ada yang terisolir. Bahkan pembangunan jalan di Ibu Kota kabupatenpun tak kunjung usai.</li>
<li>Isu peningkatan APBD dan peningkatan PAD baik dari segi perekonomian, industry, tambang bahkan sector pariwisata di masing-masing kecamatan yang memiliki potensi luar biasa jika dikelola dengan baik.</li>
<li>Isu illegal loging. Perlu kita ingat kembali bahwa TAP-SEL sangat kaya dengan hutan. Hal ini menyebabkan para oknum yang takbertanggungjawab memanfaatkan jabatannya untuk memberikan izin merambah hutan. Harus ada komitmen dari para calon untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. Bukan justru mengorbankan hutan lindung untuk dijadikan kawasan kantor PEMKAB hanya dengan alasan irit anggaran.</li>
<li>Isu pendidikan, dimana-mana isu pendidikan dalam setiap hajat demokrasi selalu dibawa-bawa. Harus ada perbaikan pendidikan kualitas di bidang pendidikan. Kita lihat hasil pendidikan tempoe doeloe telah banyak menghasilkan putra bangsa baik nasional maupun daerah, namun sekarang hal itu sudah jarang sekali. Harus ada komitmen bagi para calon bahwa untuk wilayah pendidikan nantinya diserahkan kepada orang yang professional dalam pendidikan dan bukan karena jasa saat kampanye.</li>
<li>Bupati adalah pembantu rakyat. Perlu diketahui bahwa selama ini ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Buatlah hari tersendiri untuk terjun ke desa-desa (bukan acara formal) dan buat jadwal khusus untuk bertamu dengan rakyat. Hal semacam ini sangat dinanti-natikan rakyat, dan hindari sifat elitisme walaupun kepala daerah memang jabatan elit.</li>
</ol>
<p>Dalam konteks pemikiran ini, pilkada bisa menciptakan kultur politik yang lebih beradab, jika persaingan politik yang dilakukan dengan cara memberikan pembelajaran politik kepada masyarakat secara sehat yaitu bersaing dengan cara yang wajar, seperti meyakinkan pemilih dengan kualitas program, pendekatan langsung ke bawah (calon pemilih), diskusi, dan lainnya.</p>
<p>Akhirnya, harapan kita adalah yang menjadi perebut tahta kursi Bupati dan Wakil Bupati TAPSEL yakni pemimpin yang benar-benar peduli dengan semua komponen rakyat dan berani berjanji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Dan mudah-mudahan pesta demokrasi lokal TAPSEL ini berjalan dengan baik tanpa ada pelanggaran aturan yang berarti.</p>
<p>Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=345576813740&amp;id=100000038594404&amp;ref=mf</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/politik-budaya-pilkada-di-tapanuli-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bagian – 3 Habis)</title>
		<link>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-%e2%80%93-3-habis/</link>
		<comments>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-%e2%80%93-3-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 08:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>moline</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apakabarsidimpuan.com/?p=5487</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edi Nasution
Baca Juga Bagian Sebelumnya

KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bag – 1)
KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bag – 2)

Gondang, resiprositas dan olong
Ketika kita menyaksikan ensembel musik Gordang Sambilan dan Gondang Boru dibunyikan pada....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Edi Nasution</p>
<p>Baca Juga Bagian Sebelumnya</p>
<ul>
<li><a href="http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-1/">KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bag – 1)</a></li>
<li><a href="http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-%e2%80%93-2/">KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bag – 2)</a></li>
</ul>
<p><strong>Gondang, resiprositas dan olong</strong></p>
<p>Ketika kita menyaksikan ensembel musik Gordang Sambilan dan Gondang Boru dibunyikan pada suatu upacaradat perkawinan di sebuah huta di Mandailing, maka tidaklah sulit untuk menebak bahwa orang yang menyelenggarakan pesta&#8217; perkawinan itu pastilah keturunan raja-raja. Misalnya pesta perkawinari anak ni raja yang bisa saja berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan gondang pun terus berbunyi. Ternyata gondang ini pulalah yang membedakan horja (pesta perkawinan) antara keturunan raja-raja dan orang kebanyakan (alak najaji).</p>
<p>Begitupu, kekuasaan seorang raja di Mandailing tidaklah absolut. Karena yang berperan besar dalam menentukan segaIa sesuatu yang menyangkut kepentingan rakyat adalah Namora Natoras sebagai Kepemimpinan Tradisional Mandailing yang mewakili rakyat (DPR ?). Segala keputusan dan kebijaksanaan raja selalu bertolak dari hasil musyawarah dan mupakat dengan Namora Natoras di Sopo Godang yang tidak berdinding, agar rakyat secara langsung dapat mendengar dan melihat proses serta mengetahui hasilnya, jelas sangat terbuka dan demokratis.</p>
<p>Seorang raja diumpamakan sebagai &#8220;ayu ara nagodang parsilaungan&#8221; (pohon beringin tempat berlindung), &#8220;partalaga naso hiang&#8221; (berkecukupan dan ringan tangan), dan &#8220;parsaba na bolak&#8221; (pemilik areal sawah yang luas). Karena itulah rakyatnya selalu mendapat perlindungan raja, yang setiap saat bisa dimintai pertolongannya. Sedangkan areal sawah yang luas miliknya itu pada hakekatnya juga milik bersama karena dikerjakan secara bersama-sama oleh rakyat, yang kemudian hasil panenn dikumpul pada lumbung padi raja. Apabila rakyat kekurangan bahan makanan, maka seorang raja setiap saat siap membagikan isi lumbung padinya kepada rakyat, karena bagaimanapun ”ada raja karena diangkat oleh rakyat yang mengangkat raja” (marsomba di balian).</p>
<p>Prilaku seorang raja selalu merakyat, melindungi dan mengayomi rakyat. Sebaliknya rakyat menyayangi, menghormati, memuliakan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat raja mereka (nai pagodang sahalana nai jujung-jujung tondina). Sehingga dengan demikian upacara adat perkawinan seorang anak raja itu sekaligus dengan segala atributnya termasuk gondang adalah cerminan sikap kebersamaan mereka yang saling membantu dan membutuhkan, yang kesemuanya itu berorientasi kepada holong arumbukan dohot domu (saling menyayangi, seia sekata dan bersatu-padu).</p>
<p>Penutup</p>
<p>Tidak sedikit orang berasumsi bahwa nilai-nilai budaya Mandailing sekarang banyak yang bersumber dari dan dipengaruhi agama Islam. Juga bagi etnomusikolog Fumi Tamura (Dosen jurusan Etnomusikologi pada Tokyo National University of Fine Arts &amp; Music di Jepang) menjadi bahan pemikiran setelah beliau merekam dan mendata beberapa musik tradisional Mandailing di Tamiang dan Sayurmaincat, Kecamatan Kotanopan baru-baru ini. Kita sering mendengar orang berujar: &#8220;membicarakan Mandailing akan menyangkut Islam”. Bertolak dari pemikiran karena mayoritas warganya pemeluk agama Islam yang taat. Kenyataan ini memang tidak dapat dipungkiri karena ajaran Islam telah mengakar kuat di seluruh aspek kehidupan mereka. Konsekuensinya berbagai aktivitas budaya tradisi sebagai warisan leluhur telah mereka tinggalkan sebab dipandang bertentangan dengan ajaran Islam; menghanyutkan sistem religi lama (sipelebegu) mereka yang menyembah roh-roh atau mahluk-mahluk halus. Begitu juga dengan tradisi ”eksogam marga” kian &#8220;melonggar&#8221; karenanya, sehingga sudah banyak terjadi &#8220;perkawinan semarga” di antara orang-orang Mandailing. Namun bukankah &#8220;kebudayaan&#8221; itu suatu &#8220;proses&#8221;, &#8220;sistem pemikiran&#8221; dan bersifat &#8220;dinamis&#8221;?</p>
<p>Nilai-nilai budaya tradisional Mandailing sesungguhnya tidaklah semua berbenturan dengan Islam. Bahkan agama Islam itu lebih memperjelas kegunaan dan hakekat nilai-nilai tradisi itu sendiri. Misalnya, keberadaan etika sosial sangko dan baso itu, mungkin bukanlah berasal dari ajaran Islam. Karena apabila seseorang melanggar tatakrama itu tidaklah pernah kita dengar tuduhan ”naso martuhan&#8221; (tidak bertuhan) atau &#8220;naso mengingot tuhan&#8221; (tidak mengingat tuhan), tetapi selalu dengan dakwaan &#8220;naso marbaso&#8221; atau &#8220;naso maradat&#8221;. Oleh karena banyaknya nilai-nilai budaya tradisional Mandailing yang seiring sejalan dengan ajaran agama Islam, maka tidaklah mengherankan apabila di tengah-tengah masyarakatnya kita menemukan ungkapan: &#8220;adat ombar dohot ugamo&#8221;. Ooooo</p>
<p>Informan:</p>
<p>1. Budayawan Drs.Z.P. Lubis ~ Medan</p>
<p>2. Mangaraja lelo (Lubis) ~ Medan</p>
<p>3. Zulkifli Matondang ~ Medan</p>
<p>4. Lukman lubis, BA ~ Medan</p>
<p>5. Sutan Guru Panusunan (Lubis) ~ Tamiang</p>
<p>6. Burhanuddin lubis ~ Huta Pungkut</p>
<p>7. Supri lubis ~ Huta Pungkut</p>
<p>8. Mangaraja Lobi (lubis) ~ Huta Padang</p>
<p>9. Sutan Singasoro (lubis) ~ Huta Godang</p>
<p>10. Sutan Baringin (lubis) ~ Habincaran</p>
<p>11. Drs. Chairul S. Nasution ~ Panyabungan</p>
<p>12. Ir.M. Hafiz Nasution ~ Panyabungan</p>
<p>13. Mangaraja B. Pandapotan (Nst) ~ Maga</p>
<p>14. Jatumaya (lubisl ~ Maga</p>
<p>15. Bayosege (Parinduri) ~ Sayurmaincat</p>
<p>16. Duski Tanjung ~ Pasar Kotanopan</p>
<p>Dimuat dalam Harian Waspada Medan, 1991</p>
<p>SELESAI</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Biography Penulis:</p>
<p style="text-align: left;"><a rel="attachment wp-att-5262" href="http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-1/edi-nasution/"></a>hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan &#8211; Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://bayosuti.blogspot.com">http://bayosuti.blogspot.com</a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apakabarsidimpuan.com/2010/03/keterkaitan-beberapa-musik-tradisi-mandailing-dengan-tabu-bagian-%e2%80%93-3-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
